P3M.OR.ID. Nama Kiai Muntaha dari Kalibeber, Wonosobi adalah deretan ulama Nusantara yang memiliki peran besar dalam menjaga tradisi Al-Qur’an. Beliau bukan sekadar pengasuh pesantren, tetapi juga pembaru pendidikan, pejuang kemerdekaan, dan tokoh yang merintis gerakan besar terkait pemuliaan Al-Qur’an. Sepanjang hidupnya, KH Muntaha adalah ulama yang memadukan ketekunan dalam menghafal Al-Qur’an dengan komitmen kuat membangun peradaban melalui ilmu.
KH Muntaha lahir pada 9 Juli 1912 dalam lingkungan keluarga ulama besar. Beliau merupakan putra KH Asy’ari bin KH Abdurrahim, dengan jalur keilmuan yang panjang mengakar pada tradisi pesantren. Sejak kecil tumbuh dalam suasana religius yang kental. Hal inilah yang menjadikan beliau memiliki kecintaan pada Al-Qur’an sejak dini. Sosok ibunda, Hj Syafinah adalah perempuan kuat yang sangat mendukung anak-anaknya menapaki pendidikan agama.
Sanad Ilmu Kiai Muntaha
Tidak mengherankan bila saat usia 16 tahun, ia telah menyelesaikan hafalan 30 juz. Saat itu masih belajar di Pondok Pesantren Kauman Kaliwungu asuhan KH Usman. Prestasi tersebut bukan hanya menunjukkan kecerdasannya, tetapi juga kedisiplinan yang membuatnya kelak terkenal sebagai “Maestro Al-Qur’an”. Setelah tuntas hafalan, KH Muntaha melanjutkan pendalaman ilmu Al-Qur’an ke Pesantren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta asuhan KH Munawwir Ar-Rasyad. Kemudian melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Pacitan berguru kepada KH Dimyati Termas, ulama besar yang menjadi mata rantai penting dalam sanad tahfiz internasional. Hal inilah yangt menyebabkan sanad Al-Qur’an KH Muntaha tersambung sangat kuat hingga ke Rasulullah melalui jalur para ulama qira’ah klasik.
Pada tahun 1950, KH Muntaha kembali ke Kalibeber untuk melanjutkan kepemimpinan ayahnya di Pondok Pesantren al-Asy’ariyyah. Di bawah arahannya, pesantren ini berubah pesat dari lembaga tradisional menjadi pusat studi Al-Qur’an yang modern. Beliau mendirikan berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, madrasah diniyah, sekolah formal, hingga lembaga tahfiz dan pendidikan keterampilan. Puncak dari visi besar tersebut adalah berdirinya Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ), yang kini menjadi salah satu perguruan tinggi berbasis Al-Qur’an terbesar di Indonesia.
KH Muntaha tidak hanya membangun lembaga, tetapi juga menghidupkan semangat masyarakat untuk mendekat kepada Al-Qur’an. Ia mendirikan Yayasan Jama’atul Qur’an wa Dirasat Al-Qur’an (YJHQ), wadah bagi para hafiz dan hafizah Wonosobo yang rutin mengadakan kegiatan khataman serta kajian Al-Qur’an.
Maestro yang Melahirkan Karya Fenomenal: Mushaf Al-Qur’an Akbar
Dari tangan dan gagasannya lahir karya monumental yang kini menjadi warisan nasional: Mushaf Al-Qur’an Akbar Wonosobo, salah satu mushaf terbesar di dunia. Karya kolosal ini melibatkan tim khusus dan menjadi simbol kecintaan masyarakat Kalibeber terhadap Al-Qur’an. Dua mushaf besar tersebut kini tersimpan di Bayt Al-Qur’an TMII sebagai warisan intelektual dan spiritual KH Muntaha. Tidak hanya itu, KH Muntaha juga membentuk Tim Sembilan untuk menyusun tafsir tematik berjudul Tafsir al-Muntaha, yang menjadi salah satu referensi penting dalam kajian Al-Qur’an modern.
Selain bergelut dengan ilmu, KH Muntaha juga tercatat sebagai pejuang kemerdekaan. Ia pernah terjun langsung dalam Palagan Ambarawa sebagai komandan BMT (Barisan Muslim Temanggung). Keterlibatannya dalam perjuangan fisik tidak membuatnya larut dalam politik praktis. Ketika menjadi anggota konstituante dari Fraksi NU, ia tetap menjaga prinsip bahwa politik harus berorientasi pada kemaslahatan umat, bukan ambisi pribadi. Dalam kehidupan pribadi, Kiai Muntaha masyhur sederhana, pemurah, dan sangat menjaga akhlak. Banyak orang menggambarkan hatinya sebagai “segara”—luas seperti lautan, tidak mudah tersinggung, dan selalu merendah seperti air yang mengalir ke tempat paling rendah. Zuhudnya bukan menjauh dari dunia, melainkan menghidupkan dunia dengan nilai-nilai Qur’ani. Ia adalah tipe ulama yang menggabungkan kesalehan spiritual dengan kerja nyata untuk masyarakat.
Kiai Muntaha wafat pada 29 Desember 2004 dalam usia 92 tahun. Namun warisannya tetap hidup melalui ribuan santri dan muridnya, antara lain KH Mufid Mas’ud (PP Sunan Pandanaran Yogyakarta), KH Umar Bantul, KH Syakur Brebes, KH Sholihin Pekalongan, KH Luthfi Cilacap, dan banyak ulama lainnya. Dari tangan para murid inilah semangat Al-Qur’an ala KH Muntaha terus menyala di berbagai penjuru Nusantara.













