Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorTokoh

Sosok Kyai Asy’ari Ulama Kharismatik Kaliwungu

964
×

Sosok Kyai Asy’ari Ulama Kharismatik Kaliwungu

Sebarkan artikel ini
ulama
Makam Kiai Asy'ari Kaliwungu Kendal ( foto dok la]man khazanahpopuler)

P3M.OR.ID. Tiap bulan Syawal warga Kaliwungu, Kendal melaksanakan hajat besar yaitu yaitu Kyai Asy’ari. Beliau adalah salah satu ulama besar pada masa awal perkembangan Islam di wilayah Mataram yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di pesisir utara Jawa. Dalam catatan tradisi lisan dan sejumlah manuskrip pesantren, Kyai Asy’ari merupakan utusan Mataram. Tugas beliau adalah memperbaiki kondisi keislaman masyarakat Jawa yang pada waktu itu masih kuat tradisi mistis dan praktik kepercayaan lokal.

Dikisahkan sekembalinya dari Mekkah selama beberapa tahun untuk belajar untuk menjalankan amanat dakwah. Sekitar tahun 1780-an tiba di Kaliwungu yang kala itu masih perkampungan kecil dengan masyarakat agraris dengan kultur religius yang bercampur antara Islam dan tradisi leluhur. Beliu kemudian memilih bermukim di sebuah area yang kini masyhur sebagai Kampung Pesantren, Desa Krajan Kulon.

Berbekal ilmu yang sangat luas dan kitab-kitab kuning Kyai Asy’ari memulai perjuangan dakwahnya. Kyai Asy’ari mendirikan sebuah pesantren salaf sederhana. Pesantren itu kemudian berkembang dan populer pada masa modern sebagai Pondok APIP (Asrama Pelajar Islam Pesantren). Karena fasilitas saat itu sangat terbatas, beliau menjadikan sebuah musholla kecil sebagai ruang belajar para santri. Musholla itu kini popule5r dengan sebutan Musholla Al-Asy’ari, yang tetap berdiri sebagai saksi awal perjuangan dakwah beliau.

Pesantren yang Berkembang Menjadi Pusat Keilmuan

Kharisma Kyai Asy’ari membuat namanya cepat menyebar. Banyak orang dari berbagai daerah datang untuk berguru kepadanya. Murid-muridnya berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, bahkan beberapa daerah luar Jawa. Dalam catatan sejarah pesantren, banyaknya santri yang berdatangan memaksa Kyai Asy’ari membangun pondok-pondok sederhana sebagai hunian bagi mereka.

Di bawah bimbingan sang kyai, pesantren bukan hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi pusat spiritual masyarakat. Bersama para santri, Kyai Asy’ari membangun masjid pertama di Kaliwungu. Masjid ini sekarang masyhur dengan sebutan Masjid Besar Al-Muttaqin Kaliwungu. tempat sudi ini sekaligus menjadi salah satu masjid tertua dan terpenting di wilayah Kendal. Walaupun telah menjadi ulama besar, Kyai Asy’ari tidak pernah membatasi dirinya. Beliau mengajar siapa saja, mulai dari anak-anak kecil hingga orang lanjut usia. Dalam berdakwah, ia tidak hanya menunggu umat datang, tetapi bersedia mendatangi rumah-rumah warga, berpindah dari satu kampung ke kampung lain.

Pada masa itu, kondisi masyarakat Kaliwungu masih jauh dari pemahaman Islam. Banyak yang masih melakukan perjudian, mabuk-mabukan, perselisihan antarwarga, serta praktik spiritual seperti memuja benda pusaka dan arwah leluhur. Melihat kondisi ini, Kyai Asy’ari memilih pendekatan yang lembut namun mendalam. Ia mengadakan pengajian, ceramah, serta dzikir dan tahlil berjamaah untuk menggugah kesadaran masyarakat. Salah satu inti ajaran yang selalu ia tekankan adalah ketauhidan. Beliau mengajarkan bahwa kalimat “La ilaha illallah” mengandung makna pengingkaran terhadap segala bentuk penyembahan selain Allah dan penetapan bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan. Metode ini terbukti efektif. Pelan namun pasti, masyarakat daerrah tersebut mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama meerka dan berganti menjadi kehidupan religius yang lebih damai dan berakhlak.

Perjuangan Kyai Asy’ari tidak berlangsung singkat. Butuh puluhan tahun hingga seluruh masyarakat Kaliwungu memahami ajaran Islam secara benar. Namun berkat ketekunan dan kesabaran beliau, Kaliwungu kemudian dikenal sebagai “Kota Santri”, julukan yang bertahan hingga hari ini. Identitas ini bukan muncul begitu saja, melainkan hasil jerih payah dakwah Kyai Asy’ari yang membuka jalan bagi tumbuhnya puluhan pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan Islam di Kendal.

Anak Didik

Banyak santri Kyai Asy’ari kelak menjadi ulama besar. tidak heran kalau beliau juga terkenal dengan sebutan Kyai Guru. beberapa muridnya antara lain adalah Kyai Sholeh Darat (Semarang, 1820–1903), Kyai Bulkin (Mangkang), Kyai Anwarudin (Bendokerep, Cirebon), Kyai Ahmad Rifa’i (1786–1876), pendiri gerakan Rifa’iyah dan Kyai Musa, yang tercatat pernah berbai’at thariqat Syattariyah kepada Kyai Asy’ari Jasa Kyai Asy’ari begitu besar sehingga masyarakat menghormatinya bukan hanya semasa hidup, tetapi juga setelah wafatnya.

Hingga kini, makam Kyai Asy’ari selalu ramai peziarah. Terlebih pada malam Jumat dan setiap penyelenggaraan khaul pada 8 Syawal. Kharismanya tetap hidup di hati masyarakat, dan perjuangannya menjadi fondasi bagi perkembangan pesantren dan kehidupan keagamaan di Kaliwungu. Tidak berlebihan jika Kyai Asy’ari disebut sebagai sosok yang membentuk wajah religius Kaliwungu. Melalui dakwahnya yang penuh ketulusan, ia mengubah wilayah tersebut menjadi pusat keilmuan Islam yang berpengaruh di Jawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.