Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorProfil Pesantren

Pesantren Al-Masthuriyah Sukabumi, Tradisi Keilmuan yang Tak Henti Mengalir

682
×

Pesantren Al-Masthuriyah Sukabumi, Tradisi Keilmuan yang Tak Henti Mengalir

Sebarkan artikel ini
pesanteen
Pesantren al Masthuriyah salah satu pe3santren tertua di Sukabumi Jawa Barat

P3M.OR.ID.Sukabumi mempunyai sebuah pondok pesantren yang telah meluluskan ribuan santri. Pesantren ini juga menjadi salah lembaga pendidikan Islam tertua di wilayah tersebut. Pondok Pesantren Al-Masthuriyah dengan tradisi keilmuan yang kuat serta kemampuan beradaptasi sepanjang zaman. Tidak mengherankan hingga sekarang pesantren sejak 1920 terus berkembang dan menjadi rujukan bagi masyarakat untuk menuntu ilmu.
Cikal bakal pesantren ini bermula pada 9 Rabiul Akhir 1338 H atau bertepatan dengan 1 Januari 1920. Saat itu sang pendiri, KH. Masthuro mendirikan sebuah madrasah bernama Madrasah Ahmadiyah. Nama tersebut dipilih karena beliau merupakan lulusan Madrasah Ahmadiyah Sukabumi. Nama madrasah ini tidak hubungan dengan nama sebuah aliran dalam Islam. Madrasah baru itu menjadi cabang dari lembaga induknya di Sukabumi.

Kemudian memasuki tahun 1941, KH. Masthuro mengambil langkah mandiri dengan mengelola madrasah dan pesantrennya secara terpisah dari status cabang. Pada masa inilah nama lembaga berubah menjadi Sekolah Agama Sirojul Athfal. Nama siroj berarti “lampu” dan athfal berarti “anak laki-laki”, mencerminkan harapan bahwa lembaga ini menjadi penerang ilmu bagi generasi muda. Sejalan dengan perkembangan kebutuhan pendidikan, maka pesantren kemudian membuka akses bagi santri perempuan. Melalui musyawarah pada tahun 1950, terbentuklah lembaga baru bernama Sekolah Agama Sirojul Banat, sehingga santri putri dapat ikut belajar dalam sistem pendidikan pesantren.

Berkembang Pesat

Berkat tangan dingin Kiai Masthuro, pesantren berkembang pesat. Pada tahun 1967 berdirilah Madrasah Tsanawiyah Sirojul Athfal/Banat. Menyusul kemudian pada 1968 pendirian Madrasah Aliyah. Namun pada tanggal 27 Rajab tahun yang sama, KH. Masthuro wafat dan meninggalkan warisan besar berupa pesantren yang masyarakat luas mulai mengenalnya serta memiliki banyak santri dari berbagai daerah. Sepeninggalnya, estafet kepemimpinan berlanjut kepada KH. Muhammad Masthuro. Dengan keteladanan dan kesungguhan pesantren mampu mempertahankan stabilitas dan perkembangan pesantren tanpa gejolak sosial. Tugas-tugas pengajaran yang sebelumnya langsung oleh pendiri pesantren secara bertahap beralih kepada generasi penerus.

Dari kepemimpinan inilah muncul tokoh-tokoh penting penerus, seperti KH. Syihabuddin Masthuro (alm), KH. E. Fachruddin Masthuro, dan KH. Abdul Aziz Masthuro. Mereka bertiga kemudian memimpin pengembangan pesantren pada periode berikutnya serta berperan dalam menata arah pendidikan Al-Masthuriyah. Tahun 1974 menjadi tonggak penting ketika nama Sirojul Athfal/Banat resmi berganti menjadi Perguruan Islam Al-Masthuriyah. Dalam fase ini, sistem pendidikan thalabah khususiyah dengan fokus pada pengajaran ilmu tafsir, hadis, dan fikih.

Adapun ciri khas pendidikan di pondok pesantren Al-Masthuriyah diantaranya adalah integrasi ilmu agama dan umum. Pesantren Al-Masthuriyah mengembangkan kurikulum yang memadukan ilmu-ilmu agama dengan pendidikan umum. Pendekatan ini menjadikan santri tidak hanya kuat dalam pemahaman agama, tetapi juga siap bersaing di era modern. Kemudian mempertahankan tradisi keilmuan pesantren yang kokoh. Di pesantren ini para santri dididik melalui kajian mendalam terhadap kitab-kitab kuning. Sistem pengajaran klasik pesantren ini tetap dipertahankan sebagai ciri khas keilmuan yang telah berlangsung selama beberapa generasi.

Selain itu ciri khas lainnya adalah penekanan pada akhlak. Pembentukan karakter dan akhlak menjadi prioritas utama. Santri dibimbing tidak hanya untuk memahami ilmu, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai moral Islam dalam kehidupan sehari-hari. Terakhir adalah kontribusi besar bagi masyarakat dan peradaban Islam. Selama lebih dari satu abad, Al-Masthuriyah konsisten melahirkan ulama, tokoh masyarakat, pendidik, dan pemimpin di berbagai sektor. Pesantren ini juga menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial di Sukabumi dan sekitarnya. Selain kontribusi di bidang pendidikan, Al-Masthuriyah turut berperan dalam melestarikan tradisi dan budaya Jawa yang sarat nilai-nilai luhur, terutama melalui kegiatan-kegiatan kesantrian yang mengedepankan etika dan kearifan lokal.

Komitmen Pesantren

Dalam perkembangannya, Al-Masthuriyah telah kemudian berubah menjadi lembaga pendidikan besar dengan berbagai tingkat satuan pendidikan mulai Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah. Selanjutnya ada Madrasah Aliyah hingga Perguruan tinggi. Pengembangan ini menunjukkan kemampuan pesantren beradaptasi dengan kebutuhan zaman dan tuntutan pendidikan masa kini. Dengan sejarah panjang dan reputasi yang kuat, Pondok Pesantren Al-Masthuriyah terus berkomitmen menjadi lembaga pendidikan Islam yang unggul, modern, dan tetap berdiri di atas tradisi keilmuan klasik. Pesantren ini menargetkan pembentukan generasi muda yang cerdas, berakhlak mulia, serta mampu menjawab tantangan zaman.

Pesantren yang terletak di Jalan Nasional III, Cibolang Kaler, Kec. Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini berada di area strategis di jalur utama. Warisan perjuangan KH. Masthuro dan para penerusnya menjadi fondasi kokoh bagi Al-Masthuriyah untuk terus mengembangkan diri sebagai pusat keilmuan Islam yang berpengaruh di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.