Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar TerkiniPilihan Editor

Menag Dorong Pesantren Sediakan Layanan Psikolog untuk Dukung Kesehatan Mental Santri

256
×

Menag Dorong Pesantren Sediakan Layanan Psikolog untuk Dukung Kesehatan Mental Santri

Sebarkan artikel ini
pesantren
Pemerintah mendorong penguatan layanan kesehatan mental di lingkungan pendidikan keagamaan, khususnya pesantren

P3M.OR.ID. Pemerintah mendorong penguatan layanan kesehatan mental di lingkungan pendidikan keagamaan, khususnya pesantren. Untuk itu Menteri Agama Nasaruddin Umar mengusulkan agar pesantren dengan jumlah santri besar menyediakan layanan psikolog guna membantu menjaga kesehatan mental para peserta didik. Langkah ini sebagai respons terhadap meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental anak dan remaja, termasuk  pesantren.

Usulan tersebut disampaikan dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) mengenai kesehatan jiwa anak dan remaja yang digelar di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di Jakarta pada Kamis, 5 Maret 2026. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah juga sepakat memperkuat koordinasi lintas sektor melalui program kolaborasi bertajuk “Program Bersama 9 K/L.”

Menurut Nasaruddin, guru bimbingan konseling (BK) di madrasah dan pesantren memiliki peran penting dalam mengamati kondisi psikologis santri. Mereka biasanya menjadi pihak pertama yang dapat mendeteksi perubahan perilaku atau gejala yang mengarah pada masalah mental. Namun, ia menegaskan bahwa guru BK tidak dapat bekerja sendiri dalam menangani persoalan yang bersifat klinis. “Guru BK memiliki peran strategis dalam mengenali perubahan perilaku anak. Namun untuk persoalan yang bersifat klinis, diperlukan sinergi dengan tenaga profesional seperti psikolog dan tenaga medis,” ujar Nasaruddin.

Karena itu, Kementerian Agama mendorong pesantren yang memiliki jumlah santri besar untuk memperkuat layanan internal mereka dengan menghadirkan tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, dan psikolog. harapannya jehadiran tenaga profesional tersebut mampu memberikan penanganan yang lebih komprehensif terhadap berbagai persoalan kesehatan mental  santri.

Peningkatan Kompetensi Guru BK

Selain mendorong penyediaan tenaga profesional, Nasaruddin juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pendidikan keagamaan. Menurutnya, guru BK perlu mendapatkan pelatihan yang berkelanjutan agar mampu menangani berbagai tantangan psikologis yang para santri. Ia mengusulkan adanya standardisasi kompetensi bagi guru BK serta program pelatihan yang terstruktur melalui kerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait.

Langkah tersebut akan dapat memperkuat sistem pendampingan psikologis bagi santri. Selain itu  juga meningkatkan kemampuan guru dalam memberikan dukungan emosional kepada peserta didik. Nasaruddin menilai bahwa selama ini masyarakat memandang madrasah dan pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, serta memiliki nilai-nilai moral yang kuat.

Karena itu, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan keagamaan harus terus terjaga melalui penguatan sistem pengawasan serta layanan pendukung yang memadai. “Masyarakat mempercayakan pendidikan anaknya kepada madrasah dan pesantren. Karena itu, kita harus memastikan lingkungan tersebut tetap aman, nyaman, dan mampu memberikan dukungan menyeluruh bagi perkembangan anak,” kata Nasaruddin. Adanya dukungan tenaga profesional dan sistem pendampingan yang kuat, harapannya pesantren dapat menjadi ruang pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik dan spiritual, tetapi juga sehat secara psikologis.

 

Dalam rapat tersebut, pemerintah juga menyepakati penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga melalui kerangka kerja Program Bersama 9 K/L. Program ini bertujuan menyinergikan berbagai kebijakan terkait kesehatan mental anak dan remaja. Kolaborasi tersebut melibatkan sejumlah kementerian yang memiliki peran dalam bidang pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, hingga pembangunan sosial. Melalui kerja sama ini, pemerintah berharap penanganan kesehatan mental menjadi lebih terintegrasi dan efektif.

Integrasi Kesehatan Mental dalam Pendidikan Agama

Selain memperkuat layanan psikologis, Menteri Agama juga menekankan pentingnya integrasi nilai kesehatan mental dalam proses pembelajaran agama. <enurutnya  Kurikulum Berbasis Cinta menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat kesehatan mental peserta didik. Kurikulum tersebut menekankan sejumlah nilai penting, seperti cinta kepada Tuhan, cinta terhadap ilmu pengetahuan, cinta kepada diri sendiri dan sesama manusia, cinta terhadap lingkungan, serta cinta kepada tanah air.

Menurut Nasaruddin, pendekatan tersebut tidak hanya menekankan aspek kognitif dalam pendidikan agama, tetapi juga membangun empati, kedewasaan emosional, serta kemampuan mengelola perasaan. “Agama tidak diajarkan secara kaku. Nilai spiritual harus mampu membentuk karakter sekaligus membantu anak mengelola emosi dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Nasaruddin juga menilai bahwa hubungan spiritual yang sehat dapat menjadi faktor pelindung penting bagi kesehatan mental anak dan remaja. Koneksi spiritual yang kuat dan dukungan komunitas yang hangat dan inklusif,  akan mampu membantu menurunkan risiko depresi maupun perundungan.  Meski penerapan baru berjalan sekitar satu tahun, Kurikulum Cinta mulai ada dampaknya pada sejumlah lembaga pendidikan keagamaan.  Menang optimistis bahwa penguatan nilai empati, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih harmonis. Dengan dukungan layanan psikolog, peningkatan kompetensi guru BK, serta integrasi nilai kesehatan mental dalam pendidikan agama, pemerintah berharap madrasah dan pesantren dapat menjadi ruang pendidikan yang aman, inklusif, dan mendukung kesejahteraan mental anak serta remaja di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.