P3M.OR.ID. Rangkaian pengajian kitab hadis Shahih Muslim dalam program Ramadan 1447 Hijriah di Pondok Pesantren Lirboyo mencapai puncaknya pada Ahad malam Senin, 8 Maret 2026. Serambi kuning Masjid Kasepuhan Lawang Songo yang berada di kompleks pesantren menjadi tempat kegiatan yang berlangsung khidmat . KH M. Anwar Manshur langsung memimpin pengajian kitab karya ulama hadis besar Imam Muslim Acara tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian pengajian Ramadan yang rutin yang menjadi acara tahunan pesantren.
Melansier laman lirboyo.net., sejak selesai salat tarawih, ribuan santri telah memadati area serambi masjid untuk mengikuti prosesi khataman. Suasana malam itu terlihat lebih ramai dari biasanya. Para santri, pengurus pesantren, hingga alumni berkumpul untuk menyimak pembacaan bagian akhir kitab hadis yang menjadi salah satu rujukan utama dalam kajian keilmuan Islam. Sebelum memulai pengajian, panitia membagikan lembaran maqra’ atau bagian bacaan kitab kepada para santri. Selain itu, lembaran sanad kitab juga bertujuan agar para peserta dapat mengikuti rangkaian pembacaan dengan lebih terarah. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam tradisi keilmuan pesantren, terutama dalam menjaga kesinambungan sanad keilmuan hadis.
Sekitar pukul 21.05 WIB, KH. M. Anwar Manshur tiba di lokasi pengajian. Kehadiran beliau langsung membuat suasana berubah menjadi lebih tenang dan penuh kekhusyukan. Pengajian dimulai dengan pembacaan Surah Al-Fatihah bersama-sama, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan lembar demi lembar bagian akhir kitab Shahih Muslim. Para santri mengikuti pembacaan tersebut dengan penuh perhatian. Banyak di antara mereka yang mencatat atau menandai bagian penting dari kitab yang dibaca. Tradisi mengkhatamkan kitab hadis pada bulan Ramadan memang menjadi salah satu ciri khas pengajian di pesantren besar seperti Lirboyo.
Pembacaan Maqra
Ketika pembacaan maqra’ terakhir selesai, para hadirin serentak mengucapkan hamdalah sebagai ungkapan rasa syukur. Momen itu menandai selesainya rangkaian pengajian kitab Shahih Muslim yang telah berlangsung selama program Ramadan di pesantren tersebut. Acara khataman kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh KH. M. Anwar Manshur. Setelah itu, pembacaan sanad kitab dilakukan oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, yang juga memimpin doa penutup dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Sejumlah masyayikh dan dzuriyah pesantren turut hadir dalam majelis tersebut. Kehadiran para tokoh pesantren itu menambah kekhidmatan acara khataman yang menjadi bagian penting dari tradisi intelektual pesantren. Antusiasme para santri terlihat dari keseriusan mereka mengikuti pengajian hingga akhir. Banyak santri yang mengaku bersyukur dapat mengikuti kajian hadis secara langsung hingga selesai, meskipun beberapa di antaranya mengaku tidak selalu dapat mengikuti setiap sesi pengajian secara penuh. Salah seorang santri asal Sampang, Madura, mengungkapkan rasa bahagianya setelah mengikuti pengajian hingga khatam. “Alhamdulillah, senang rasanya bisa mengikuti pengajian kitab Shahih Muslim sampai khatam meskipun beberapa ada yang bolong maknanya,” ujar Ulin Nuhe, salah satu santri yang mengikuti program pengajian Ramadan di Lirboyo.
Program Ramadhan
Menurut sejumlah pengurus pesantren, pengajian kitab hadis seperti Shahih Muslim merupakan bagian penting dalam penguatan tradisi keilmuan di pesantren. Selain memperdalam pemahaman hadis Nabi Muhammad SAW, kegiatan ini juga melatih santri untuk menjaga kesinambungan sanad keilmuan yang menjadi ciri khas pendidikan pesantren. Setelah doa penutup dibacakan, rangkaian acara khataman diakhiri dengan tradisi mushafahah atau bersalaman antara para masyayikh dengan para santri dan hadirin. Tradisi ini menjadi simbol keberkahan serta penutup dari rangkaian pengajian yang berlangsung sepanjang Ramadan.
Program pengajian Ramadan di Pondok Pesantren Lirboyo sendiri dikenal sebagai salah satu kegiatan keilmuan yang banyak diminati santri dari berbagai daerah di Indonesia. Selain kajian kitab hadis, pesantren ini juga menyelenggarakan pengajian kitab-kitab klasik lainnya sebagai bagian dari penguatan tradisi keilmuan Islam di lingkungan pesantren.













