P3M.OR.ID. Upaya menghadirkan kembali jejak para kiai kampung ke ruang publik terwujud dalam peluncuran dan bedah buku Cahaya Sang Kiai. Acara tersebut berlangsung dalam aula Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Jombang, Minggu (15/2). Pengurus LTN MWCNU Diwek sebagai pemrakarasa acara ini menyebut menyebut bahwa buku Cahaya Kiai adalah karya kolektif . Dalam buku tersebut menghimpun 33 kisah kiai kampung dan ibu nyai yang selama puluhan tahun menjadi penjaga tradisi keagamaan dan moral masyarakat.
Menurut ketua pantia Rifatuz Zuhro, buku ini merupakan ikhtiar mencatat keteladanan tokoh-tokoh lokal yang selama ini tidak banyak terdengar. “Isinya tentang kiprah perjuangan dan pengabdian dari 33 kiai kampung dan ibu nyai,” ujarnya. Ia menyebutkan, panitia menyebar 120 undangan kepada keturunan para kiai kampung, ketua ranting NU, serta badan otonom NU di wilayah Jombang. “Ada dzuriyah kiai kampung yang ditulis bisa hadir dari Yogyakarta dan Jember. Termasuk peserta undangan dari Nganjuk, Kediri, dan Mojokerto,” imbuhnya.
Acara ini menghadirkan Farhan Rafi sebagai pemateri utama. Turut memberikan pandangan akademis Wasid Mansyur, Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, serta Mukani, Dosen STAI Darussalam Nganjuk. Dalam sambutannya Ketua Majelis Pengasuh Pesantren Seblak, Hj Nur Laili Rahmah, menilai buku ini membuka ruang belajar tentang keteladanan yang selama ini hidup di tengah masyarakat. “Kita bisa banyak belajar teladan dari para kiai kampung dan ibu nyai yang ada dalam buku ini,” katanya. Sementara Ketua MWCNU Diwek, KH Hamdi Soleh, menyampaikan kekagumannya atas upaya pendokumentasian para kiai kampung ini. “Setua ini saya ikuti organisasi NU, baru kali ini ada yang menulis kiprah para kiai kampung menjadi satu buku,” ucapnya.
Proses Panjang
Dalam pemaparannya, Farhan Rafi membeberkan proses panjang penyusunan buku. “Kadang kita kendor saat menulis karena data belum lengkap, tapi itu jadi tantangan,” jelasnya. Menurutnya terbitnya buku tersebut agara generasi selanjutnya membaca berbagai kisah keteladanan para tokoh yang ada di dalamnya. Sedangkan narasumber pembanding, Wasid Mansyur, mengakui bahwa proyek penulisan banyak tokoh oleh banyak penulis tentu memiliki kesulitan tersendiri. “Karena tiap penulis tidak sama kemampuan dalam menulis,” ujarnya.
Kendati demikian, ia mendorong agar gerakan literasi ini tidak berhenti. “ Uni menjadi awal embrio penulisan para tokoh lainnya ke depan, ini harus dikawal,” lanjutnya. pembicara lain yaitu Mukani menegaskan pentingnya mendokumentasikan jejak kiai yang selama ini tidak mencari panggung. “Karena mereka mengabdi tidak butuh publikasi,” katanya. Selain itu lanjut Mukani, membaca kisah para tokoh NU terdahulu berarti menimba nilai-nilai kehidupan yang masih relevan hingga kini. “Mulai dari nilai toleransi, cinta ilmu, solidaritas, keikhlasan sampai pantang menyerah,” pungkasnya.













