Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorTokoh

Menjadi Santri Paripurna Ala Kiai Zulfa Mustofa

353
×

Menjadi Santri Paripurna Ala Kiai Zulfa Mustofa

Sebarkan artikel ini
Pesantren
Kiai Zulfa Mustioa

P3M.OR.ID. Wisuda atau kelulusan dari pesantren seringkali dianggap sebagai garis finis. Namun, bagi KH Zulfa Mustofa, momen tersebut justru merupakan peluit awal bagi seorang santri untuk membuktikan sejauh mana ilmunya bisa “berbicara” di tengah masyarakat. Dalam Haflah Akhirussanah XI di Pondok Pesantren Kauman Lasem, beliau membedah sebuah visi besar tentang sosok santri masa depan yang tidak hanya saleh secara individu, tetapi juga tangguh secara sosial.

Kiai Zulfa memperkenalkan metafora “dua sayap” sebagai syarat mutlak bagi santri untuk bisa “terbang” dan memberi manfaat luas. Sayap pertama adalah kedalaman ilmu agama. Baginya, kegiatan ngaji adalah proses seumur hidup; ijazah hanyalah secarik kertas yang tidak boleh menghentikan haus akan ilmu.

Namun, ilmu yang mendalam akan menjadi statis jika hanya tersimpan di kepala. Di sinilah sayap kedua berperan: kecakapan berorganisasi. Kiai Zulfa menekankan bahwa ilmu pesantren harus diaktualisasikan melalui struktur sosial. Beliau mendorong para alumni untuk tidak ragu melebur ke dalam organisasi, khususnya badan otonom Nahdlatul Ulama seperti IPNU-IPPNU, PMII, hingga Ansor dan Muslimat. Keterlibatan ini bukan sekadar pengisi waktu, melainkan sebuah tanggung jawab moral untuk merespons kompleksitas zaman.

Meneladani Masyayikh

Salah satu poin paling menarik yang disampaikan Kiai Zulfa adalah konsep Fiqhus Syariah dan Fiqhul Jam’iyah. Pertama adalah Fiqhus Syariah yaitu kapasitas intelektual santri dalam memahami hukum Islam secara tekstual maupun kontekstual. Kedua adalah fiqhul jam’iyah atau lemampuan manajerial dan tata kelola organisasi yang rapi, akuntabel, dan berdampak nyata.

Untuk hal ini, beliau mengambil contoh KH Ma’shum Ahmad Lasem. Sosok Kiai Ma’shum bukan sekadar ahli bahtsul masail yang berkutat dengan kitab, melainkan juga seorang arsitek organisasi yang mahir saat membidani lahirnya NU. Pesannya jelas: Ulama ideal adalah mereka yang mampu memadukan ketajaman hukum dengan ketertiban administrasi.

Profil Kiai Zulfa: Sang Penjaga Tradisi yang Visioner

Kiai Zulfa Mustofa sendiri adalah cerminan dari konsep yang beliau sampaikan. Sebagai alumnus Pesantren Mathali’ul Falah, keahliannya dalam istinbath al-ahkam (penetapan hukum Islam) telah diakui secara luas, baik di lingkungan MUI maupun NU. Sejak 2010, kiprahnya membentang dari Sekretaris Umum MUI DKI Jakarta hingga menjadi Ketua Bidang Fatwa.

mengutip laman nu.or.id, beliau pernah mengemban amanah sebagai Ketua LBM dan Katib Syuriah. Salah satu warisan intelektualnya yang krusial adalah kitab Dlawabith Bahtsil Masa’il wa al-Ifta’ ‘inda Nahdlatil ‘Ulama’ (2022), yang menjadi kompas bagi para kiai dalam menjawab persoalan keagamaan kontemporer.

Lebih dari sekadar ahli hukum, Kiai Zulfa memiliki sisi estetis yang jarang ada pada kiai lain. Keunikan itu adalah kemampuan menggubah syair-syair Arab yang indah. Hal ini membuktikan bahwa seorang pakar hukum Islam juga bisa menjadi seorang sastrawan . Ini  menciptakan harmoni antara ketegasan hukum dan kelembutan seni.

Bagi Kiai Zulfa  Jangan menjadi menara gading. Jadilah santri yang akrab dengan kitab kuning, namun juga terampil menggerakkan umat melalui organisasi. Itulah jalan menuju kesantrian yang paripurna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.