P3M.OR.ID. Indonesia terus memperkuat ketahanan kesehatan nasional melalui pemanfaatan kekayaan hayati . Salah satu langkah nyata hadir melalui peresmian Pusat Penanaman Pohon Obat Bahan Alam di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Jumat (31/7/2026). Program ini menjadi bagian dari upaya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk membangun ekosistem obat bahan alam yang aman, bermutu, dan berdaya saing.
Peresmian tersebut sebagai pertanda mulainya penanaman ribuan pohon obat. Kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, akademisi, dan dunia usaha. Melalui sinergi tersebut, BPOM ingin memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap obat bahan alam yang memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu. Indonesia terkenal sebagai salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Kekayaan tersebut menjadi modal penting dalam mengembangkan industri obat bahan alam berbasis sumber daya lokal. Data BPOM menyebutkan Indonesia memiliki lebih dari 31.000 spesies tumbuhan yang punya botensi sebagai bahan baku obat tradisional dan fitofarmaka. Informasi tersebut juga sejalan dengan berbagai publikasi ilmiah mengenai kekayaan flora Indonesia sebagai pusat biodiversitas tropis.
Potensi besar itu membutuhkan pengelolaan yang bertanggung jawab. Pengembangan tanaman obat tidak cukup hanya mengandalkan tradisi turun-temurun. Seluruh proses harus didukung penelitian, regulasi, dan pembuktian ilmiah agar manfaatnya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Bahan Alam Berbasis Ilmu Pengetahuan
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa pengembangan tanaman obat harus berjalan seiring dengan perlindungan masyarakat. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar membangun kemandirian obat nasional melalui pemanfaatan bahan alam lokal. “Peresmian hari ini bukan sekadar penanaman pohon, tetapi merupakan penanaman ilmu, kepedulian, dan komitmen untuk menjaga kekayaan hayati Indonesia. Indonesia dianugerahi keanekaragaman hayati yang sangat besar sebagai modal penting dalam pengembangan obat bahan alam yang aman, bermutu, berkhasiat, dan berdaya saing. Lebih dari 31.000 spesies tumbuhan perlu dikelola secara berkelanjutan sebagai pilar penting dalam mewujudkan kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional. BPOM berkomitmen mendorong pengembangan obat bahan alam melalui penguatan regulasi, pendampingan, edukasi, riset, dan inovasi agar mampu memberikan manfaat kesehatan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi,” tegas Taruna Ikrar.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa BPOM tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan. Lembaga ini juga aktif mendorong inovasi, riset, dan edukasi agar masyarakat semakin memahami pemanfaatan tanaman jenis ini secara benar. Langkah tersebut sekaligus membuka peluang peningkatan nilai ekonomi bagi komoditas herbal lokal. BPOM memilih Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya sebagai lokasi pengembangan karena memiliki peran strategis dalam pendidikan masyarakat. Pesantren yang berdiri pada 10 Juli 1967 itu kini membina sekitar 7.887 santri. Jumlah tersebut menjadi potensi besar dalam menyebarluaskan edukasi mengenai tanaman obat kepada masyarakat luas. Data kelembagaan tersebut berasal dari keterangan resmi Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah dan BPOM.
Sebagai bentuk komitmen bersama, pihak pesantren menyediakan lahan seluas dua hektare untuk pengembangan tanaman obat. Balai Besar POM di Palembang telah menanam sebanyak 1.850 pohon obat di kawasan tersebut. Selain itu, sebanyak 1.500 bibit tambahan telah ada untuk memperluas kawasan penanaman. Program tersebut tidak hanya berorientasi pada penghijauan. Para santri juga akan mempelajari cara membudidayakan tanaman jenis ini sesuai standar keamanan, mutu, dan keberlanjutan. Dengan demikian, mereka memperoleh pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menjadi Agen Edukasi Kesehatan
Ketua Yayasan Islam Al-Ittifaqiah (YALQI) Indralaya, K.H. Joni Rusli, S.Pd.I., yang mewakili Mudir Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Mudrik Qori, menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi tersebut. Menurutnya, pesantren memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai kesehatan berbasis tanaman obat. *”Melalui Pusat Pohon Obat Bahan Alam ini, para santri tidak hanya mengenal tanaman obat sebagai warisan budaya bangsa, tetapi juga memahami pentingnya pemanfaatan yang berbasis ilmu pengetahuan, keamanan, dan keberlanjutan. Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kolaborasi dan sinergi yang terbangun bersama BPOM, akademisi, dan dunia usaha. Keterlibatan 7.887 santri kami di lahan seluas 2 hektar ini akan menjadi pendorong utama dalam membangun kepedulian lingkungan dan kesehatan masyarakat yang lebih luas,” ujarnya.
Melalui keterlibatan ribuan santri, pesantren diharapkan menjadi pusat edukasi kesehatan berbasis komunitas. Selain itu pengetahuan tersebut dapat menyebar ke keluarga, masyarakat sekitar, hingga berbagai daerah asal para santri. Keberhasilan pengembangan obat bahan alam membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan. BPOM membangun sinergi bersama perguruan tinggi, industri farmasi, pemerintah daerah, serta lembaga pendidikan. Kemudian dengan adanya kolaborasi tersebut bertujuan memastikan setiap tahapan, mulai dari budidaya hingga produk jadi, memenuhi standar keamanan dan mutu yang berlaku.
Pendekatan tersebut memperlihatkan perubahan peran BPOM yang semakin komprehensif. Lembaga ini tidak hanya mengawasi peredaran produk, tetapi juga membina masyarakat agar mampu menghasilkan bahan baku obat yang berkualitas. Model pendampingan seperti ini akan mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor sekaligus memperkuat industri obat tradisional nasional.
Pada saat yang sama, pemanfaatan tanaman juga mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Upaya tersebut menjadi investasi jangka panjang untuk kesehatan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Dengan pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan, Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pengembangan obat bahan alam di tingkat global.













