Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorProfil Pesantren

Pondok Pesantren An Nur, Jejak KH Nawawi Abdul Aziz Membangun Pusat Tahfiz Al-Qur’an di Yogyakarta

287
×

Pondok Pesantren An Nur, Jejak KH Nawawi Abdul Aziz Membangun Pusat Tahfiz Al-Qur’an di Yogyakarta

Sebarkan artikel ini
pondok pesantren
Pondok Pesantren An Nur di Bantul berkembang menjadi pusat Tahfiz Al-Qur'an dengan ribuan santri dan pendidikan berjenjang.

Pondok Pesantren An Nur Tumbuh Menjadi Pesantren Tahfiz Terbesar di Bantul

P3M.OR.ID. Pondok Pesantren An Nur menjadi salah satu pesantren tahfiz Al-Qur’an yang terus berkembang di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berlokasi di Dusun Ngrukem, Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, pesantren ini berada di bawah naungan Yayasan Al Ma’had An Nur yang telah berbadan hukum melalui SK Kementerian Hukum dan HAM Nomor AHU-2175.AH.01.04 Tahun 2012. Hingga 2025, **Pondok Pesantren An Nur** membina sekitar 3.023 santri mukim dari berbagai daerah di Indonesia.

Keberhasilan tersebut lahir dari perjalanan panjangnya yang lebih dari setengah abad lalu. Pendirinya, KH Nawawi Abdul Aziz, membangun pesantren dengan semangat dakwah, pendidikan Al-Qur’an, dan pengabdian kepada masyarakat. Nilai-nilai itulah yang hingga kini tetap menjadi fondasi utama Pondok Pesantren An Nur.

Berawal dari Dakwah Sederhana di Dusun Ngrukem

Sejarah Pondok Pesantren An Nur berawal ketika KH Nawawi Abdul Aziz berpindah ke Dusun Ngrukem pada 1964 bersama istri beliau, Nyai Walidah Munawwir, dan keluarga. Saat itu beliau masih menjabat Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Bantul. Pengalaman berinteraksi dengan masyarakat membuatnya melihat kebutuhan besar terhadap pendidikan agama yang lebih kuat. Berbekal rumah sederhana, KH Nawawi Abdul Aziz mulai membuka pengajian Al-Qur’an, kajian kitab, serta pendidikan agama bagi masyarakat sekitar. Antusiasme warga terus meningkat sehingga jumlah santri bertambah dari waktu ke waktu. Dukungan masyarakat kemudian mendorong pembangunan asrama sederhana sebagai tempat tinggal santri.

Perjuangan tersebut mencapai tonggak penting pada 1978 ketika Pondok Pesantren An Nur resmi berdiri. Sejak saat itu, pesantren berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang terkenal luas, terutama dalam bidang Tahfizul Qur’an dan Qira’ah Sab’ah. Sejak awal berdiri, Pondok Pesantren An Nur menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat seluruh proses pendidikan. Program Tahfizul Qur’an menjadi unggulan utama yang berpadu dengan pembelajaran Qira’ah Sab’ah, mengaji Al-Qur’an secara bin nazar, serta kajian kitab kuning.

Selain memperkuat kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, pesantren juga membentuk karakter santri melalui pendidikan akhlak, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, lulusan Pondok Pesantren An Nur diharapkan tidak hanya menjadi hafiz Al-Qur’an, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Di samping kegiatan utama tersebut, pesantren menyediakan sebelas kegiatan ekstrakurikuler. Hadrah menjadi kegiatan paling diminati santri. Selain itu tersedia kelas olah vokal, tilawah, kaligrafi, jurnalistik, fotografi, desain grafis, public speaking, puisi, sepak bola, dan bola voli. Program tersebut memberi ruang bagi santri untuk mengembangkan kreativitas tanpa meninggalkan tradisi kepesantrenan.

Berkembang Menjadi Lembaga Pendidikan Terpadu

Perkembangan jumlah santri mendorong pondok pesantren ini terus memperluas layanan pendidikan. Yayasan Al Ma’had An Nur kini membina berbagai lembaga pendidikan, mulai dari Taman Pendidikan Al-Qur’an dan Madrasah Diniyah. Kemudian ada  Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, hingga Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur. IIQ An Nur menjadi salah satu bentuk pengembangan pendidikan tinggi pesantren. Kampus tersebut membuka berbagai program studi, antara lain Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Ilmu Hadis, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Ekonomi Syariah, serta Perbankan Syariah.

Keberadaan lembaga pendidikan yang berjenjang memungkinkan santri memperoleh pendidikan secara berkelanjutan dalam satu lingkungan pesantren. Karena itu, Pondok Pesantren An Nur tidak hanya menjadi tempat menghafal Al-Qur’an, tetapi juga pusat pengembangan ilmu keislaman dan akademik.Setelah KH Nawawi Abdul Aziz wafat, estafet kepemimpinan diteruskan oleh putra-putri beliau. Kepemimpinan kolektif tersebut menjaga kesinambungan visi pendiri sekaligus mendorong pembaruan sesuai kebutuhan zaman.

Berbagai kompleks pesantren kini melayani ribuan santri putra dan putri dengan sistem pembinaan yang disesuaikan menurut jenjang pendidikan. Selain memperluas sarana belajar, pengelola juga terus meningkatkan kualitas pembelajaran, fasilitas asrama, perpustakaan, ruang ibadah, hingga kegiatan pengembangan karakter. Saat ini, Pondok Pesantren An Nur menjadi salah satu rujukan masyarakat yang ingin mendalami Al-Qur’an sekaligus memperoleh pendidikan formal. Kepercayaan masyarakat terus meningkat seiring bertambahnya jumlah santri dari berbagai provinsi di Indonesia.

Menjaga Tradisi, Menjawab Tantangan Zaman

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial, Pondok Pesantren An Nur tetap menjaga tradisi keilmuan pesantren. Namun, pesantren juga membuka ruang bagi santri untuk menguasai berbagai keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman. Pendekatan tersebut mencerminkan semangat yang diwariskan KH Nawawi Abdul Aziz. Pendidikan agama harus berjalan beriringan dengan pengembangan kemampuan intelektual, kepemimpinan, komunikasi, dan kreativitas.

Melalui perpaduan pendidikan Al-Qur’an, ilmu keislaman, dan keterampilan modern, pesantren ini terus memperkuat perannya sebagai lembaga yang mencetak generasi Qurani, berakhlak mulia, dan siap memberikan kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.