Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar TerkiniPilihan Editor

BI Bidik 1.000 Pesantren Miliki Usaha Air Minum dalam Lima Tahun, Perkuat Kemandirian Ekonomi Umat

302
×

BI Bidik 1.000 Pesantren Miliki Usaha Air Minum dalam Lima Tahun, Perkuat Kemandirian Ekonomi Umat

Sebarkan artikel ini
air mineral
Bank Indonesia menargetkan 1.000 pesantren memiliki usaha air minum dalam kemasan dalam lima tahun guna memperkuat ekonomi pesantren.

P3M.OR.ID. Bank Indonesia (BI) terus memperluas program pemberdayaan ekonomi pesantren melalui pengembangan usaha air minum dalam kemasan. Melalui program Air Berkah Indonesia, BI menargetkan terbentuknya 1.000 unit usaha air minum berbasis pesantren dalam lima tahun mendatang.

Target tersebut terungkap saat Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menghadiri Kick Off Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu Tahun 2026 di Jakarta, Senin (22/6/2026). Program ini menjadi bagian dari strategi besar BI untuk memperkuat kemandirian ekonomi pesantren sekaligus memperluas ekonomi kerakyatan berbasis komunitas. Dengan target pembinaan 200 pesantren setiap tahun, BI optimistis jumlah pesantren yang memiliki usaha air minum mandiri akan terus bertambah secara signifikan. “Kami menargetkan 200 pesantren. Kalau lima tahun berarti 1.000 pesantren semua sudah mampu bisnis air bersih berkah,” ujar Perry.

Berangkat dari Keberhasilan Pesantren Binaan

Perry menjelaskan bahwa program tersebut bukanlah konsep baru. Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah pesantren binaan BI telah berhasil mengembangkan usaha air minum dalam kemasan dan memperoleh manfaat ekonomi yang nyata. Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 36.000 pesantren. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.500 pesantren telah mendapatkan pembinaan langsung dari Bank Indonesia. Sebagian di antaranya berhasil membangun usaha produktif yang menopang operasional lembaga secara mandiri. “Sekarang ada 36.000 pesantren, yang kami bina adalah sekitar 1.500 pondok pesantren yang sudah mereka mandiri secara ekonomi. Salah satunya yang berhasil adalah air minum dalam kemasan,” kata dia.

Keberhasilan tersebut menjadi dasar bagi BI untuk memperluas program ke lebih banyak pesantren di berbagai daerah. Menurut Perry, model bisnis air minum memiliki peluang besar karena kebutuhan air bersih selalu tersedia dan  pasarnya juga sudah jelas. Program Air Berkah Indonesia tidak semata-mata bertujuan untuk menciptakan sumber pendapatan baru.  Namun program ini jugan akan mampu membantu pesantren memenuhi kebutuhan air minum santri secara mandiri.

Banyak pesantren memiliki jumlah santri yang mencapai ribuan orang. Kebutuhan air minum harian menjadi pengeluaran yang cukup besar. Dengan memiliki unit produksi sendiri, biaya operasional dapat ditekan sekaligus membuka peluang pemasukan tambahan. “Minimal untuk memenuhi kebutuhan pesantrennya yang 2.000 enggak perlu beli air minum, bahkan lebihnya dijual di sekitarnya, di toko-toko,” katanya. Model usaha ini dinilai mampu menciptakan efek ganda. Selain mengurangi biaya konsumsi internal, pesantren juga dapat menjangkau pasar masyarakat sekitar dan memperkuat ekonomi lokal.

Pesantren Jadi Motor Penggerak Ekonomi Umat

Menurut Perry, pengembangan usaha air minum hanya salah satu bagian dari strategi pemberdayaan ekonomi pesantren. Bank Indonesia juga mendorong berbagai sektor usaha produktif lain yang sesuai dengan potensi masing-masing daerah. Program yang telah berjalan mencakup pertanian modern, peternakan, perikanan, hingga pengembangan sektor ekonomi kreatif. Seluruh kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi pesantren secara berkelanjutan. “Sehingga salah satu kemandirian pondok pesantren, sehingga melalui program ini pesantren akan didorong mengembangkan unit usaha air minum dalam kemasan berbasis sumber daya lokal,” ujar Perry. Pendekatan berbasis potensi lokal dinilai penting agar setiap pesantren dapat mengembangkan usaha yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.

Dukungan terhadap penguatan ekonomi pesantren juga datang dari Menteri Agama Nasaruddin Umar. Menurutnya, peran pesantren saat ini tidak lagi terbatas sebagai pusat pendidikan agama dan pembinaan akhlak. Pesantren telah berkembang menjadi simpul penting dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Banyak pesantren berhasil mengembangkan berbagai unit usaha yang memberi manfaat bagi santri maupun lingkungan sekitar. “Pesantren bukan hanya episentrum penempatan dan penempaan akhlak dan ilmu agama atau tafaqquh fiddin, tetapi juga mampu tegak mandiri sebagai simpul penggerak ekonomi umat,” kata Nasaruddin.

Ia menilai berbagai inovasi yang lahir dari lingkungan pesantren membuktikan bahwa lembaga pendidikan Islam mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Salah satu contohnya adalah usaha air minum dalam kemasan dan penerapan teknologi dalam sektor pertanian. Bagi Nasaruddin, pembangunan ekonomi pesantren memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar peningkatan pendapatan. Kemandirian ekonomi merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban yang kuat dan bermartabat.

Menyiapkan Masa Depan Pesantren yang Lebih Mandiri

Pesantren yang mandiri secara ekonomi akan memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan pendidikan, memperluas pelayanan sosial, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Karena itu, ia mengajak para santri dan pelaku usaha pesantren untuk terus mengembangkan semangat kewirausahaan. “Bagi seluruh santri dan pejuang-pejuang ekonomi pesantren di tanah air, ketahuilah bahwa kemandirian ekonomi adalah bagian daripada jihad demi membangun peradaban yang bermartabat,” ujar Nasaruddin.

Target 1.000 unit usaha air minum berbasis pesantren menunjukkan keseriusan Bank Indonesia dalam membangun ekosistem ekonomi pesantren yang kuat. Program ini tidak hanya menghadirkan peluang usaha baru, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Dengan dukungan pembinaan, akses teknologi, serta pengembangan kewirausahaan yang berkelanjutan, pesantren memiliki peluang besar menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Jika target tersebut tercapai, ribuan pesantren akan memiliki sumber pendapatan mandiri yang mampu menopang kebutuhan pendidikan sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar. Langkah ini sekaligus mempertegas posisi pesantren sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan pembangunan sosial yang berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.