Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar TerkiniPilihan Editor

Riset Alumni PTKIN Ungkap Tantangan Belajar Bahasa Inggris di Pesantren

187
×

Riset Alumni PTKIN Ungkap Tantangan Belajar Bahasa Inggris di Pesantren

Sebarkan artikel ini
santri
Satgas Antikekerasan di Pesantren Jawa Tengah akan dibentuk di lebih dari 5.400 pesantren untuk memperkuat perlindungan santri.

P3M.OR.ID. Empat alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menghadirkan temuan penting terkait pembelajaran bahasa Inggris di lingkungan pesantren. Melalui riset kolaboratif yang terpublikasi oleh International Journal of Language Teaching and Education (IJOLTE) Volume 10 Nomor 1 Tahun 2026, mereka memotret kondisi nyata pengajaran bahasa asing . Selain itu juga sekaligus menawarkan pendekatan baru yang lebih relevan dengan kebutuhan santri.

Penelitian berjudul Contextualizing English Speaking Instruction in Indonesian Pesantren: A Needs Analysis tersebut hasil dari riset alumni Jurusan Bahasa Inggris UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Tim peneliti terdiri dari Muhammad Haikal Attabik, Mailiza Zainiza, Anggraeni Khusuma Dewi, dan Agung Ahdiansyah. Mereka mendapat pendampingan akademik dari Nunik Sugesti, dosen Universitas Negeri Yogyakarta.

Keempat peneliti kini melanjutkan kiprah di berbagai institusi pendidikan dan profesi. Muhammad Haikal Attabik menempuh studi magister di Universitas Negeri Yogyakarta. Mailiza Zainiza melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Semarang. Anggraeni Khusuma Dewi menjalani studi di Universitas Indonesia. Sementara itu, Agung Ahdiansyah bertugas sebagai Humas dan PPID UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.

Mengkaji Kebutuhan Nyata Santri di Lapangan

Tim peneliti memilih Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, sebagai lokasi penelitian. Mereka menggunakan metode campuran atau mixed methods untuk mengidentifikasi kebutuhan santri dalam pembelajaran berbicara bahasa Inggris serta faktor lingkungan yang memengaruhi proses tersebut. Muhammad Haikal Attabik menjelaskan bahwa hasil penelitian ini dapat menjadi referensi ilmiah yang berharga bagi pengembangan pendidikan pesantren. Menurutnya, kajian akademik yang berbasis data lapangan ini adalah untuk memperkuat kebijakan pendidikan di lingkungan pesantren yang sangat membutuhkan hal tersebut. “Penelitian ini kami harapkan dapat memberikan gambaran nyata mengenai praktik pembelajaran bahasa Inggris di pesantren sekaligus menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan model pembelajaran yang lebih efektif,” ujarnya di Cirebon, Senin (22/6/2026).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa asing di pesantren masih didominasi aktivitas komunikasi yang bersifat rutin. Percakapan sehari-hari dan kegiatan pidato atau muhadharah menjadi bentuk interaksi yang paling sering santri lakukan. Menurut data penelitian, masing-masing aktivitas tersebut menyumbang sekitar 35 persen dari praktik komunikasi berbahasa Inggris oleh santri di lingkungan pesantren.

Temuan lain menunjukkan bahwa intensitas penggunaan bahasa Inggris belum sepenuhnya menghasilkan kemampuan komunikasi yang lebih kompleks. Banyak santri telah menguasai komunikasi dasar dengan cukup baik. Namun, mereka masih menghadapi tantangan ketika harus berdebat, menyampaikan argumentasi spontan, atau mengembangkan penalaran kritis dalam bahasa Inggris. Haikal menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan berbahasa sehari-hari dengan kompetensi komunikatif yang lebih mendalam. “Santri umumnya mampu berkomunikasi untuk kebutuhan dasar. Namun mereka masih menghadapi kesulitan saat harus menyampaikan argumentasi, berdiskusi secara kritis, atau merespons situasi yang menuntut pemikiran lebih kompleks,” katanya. Temuan ini menjadi perhatian penting karena kemampuan berpikir kritis dan menyampaikan gagasan secara terbuka semakin penting dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja global.

Fokus Tata Bahasa Dinilai Menjadi Salah Satu Hambatan

Peneliti lainnya, Agung Ahdiansyah, mengungkapkan bahwa pola pengajaran yang terlalu berorientasi pada ketepatan tata bahasa turut memengaruhi perkembangan kemampuan berbicara santri. Menurutnya, banyak proses pembelajaran masih menempatkan akurasi struktur kalimat sebagai tujuan utama. Pendekatan tersebut memang membantu santri memahami kaidah bahasa. Namun, pendekatan itu juga dapat menimbulkan tekanan psikologis ketika santri harus berbicara secara spontan.

“Penekanan yang berlebihan pada ketepatan tata bahasa sering membuat santri merasa khawatir melakukan kesalahan. Akibatnya, mereka menjadi kurang percaya diri saat menyampaikan ide atau pendapat secara terbuka,” jelas Agung. Kondisi tersebut membuat sebagian santri memilih berhati-hati dalam berbicara. Mereka cenderung fokus pada bentuk kalimat daripada isi atau kualitas gagasan yang ingin  mereka sampaikan.

Berdasarkan hasil penelitian, tim peneliti merekomendasikan perubahan pendekatan dalam pembelajaran bahasa Inggris di pesantren. Mereka mendorong model pembelajaran yang lebih interaktif, kontekstual, dan berpusat pada komunikasi. Beberapa aktivitas yang disarankan antara lain forum pemecahan masalah, diskusi kelompok, berbagi opini, serta latihan argumentasi. Pendekatan tersebut dinilai mampu melatih keberanian berbicara sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis santri.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa inovasi pembelajaran tidak boleh menghilangkan identitas pesantren. Nilai-nilai keislaman dan tradisi kepesantrenan tetap harus menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan. “Pengembangan materi pembelajaran perlu dilakukan secara bertahap. Tujuannya agar santri mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis tanpa meninggalkan karakter dan nilai luhur yang selama ini menjadi kekuatan pesantren,” ujar Agung.

 

Temuan riset ini memperlihatkan bahwa pesantren memiliki potensi besar dalam pengembangan kemampuan bahasa asing. Namun, penguatan metode pembelajaran masih diperlukan agar santri tidak hanya mampu berbicara secara dasar, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan kritis dalam konteks global. Dengan hadirnya rekomendasi berbasis penelitian, pesantren memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan sistem pembelajaran bahasa Inggris yang adaptif, relevan, dan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman. Langkah tersebut diharapkan dapat mencetak generasi santri yang unggul, percaya diri, dan siap berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.