P3M.OR.ID. Wisuda di lingkungan pesantren umumnya identik dengan prosesi pelepasan santri dan ungkapan syukur atas selesainya masa pendidikan. Namun, Yayasan Kebajikan Pesantren (YKP) Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, menghadirkan pendekatan berbeda dalam pelaksanaan wisuda tahun 2026. Selain menggelar prosesi wisuda dan tasyakur, YKP Babakan Ciwaringin meluncurkan gerakan penghijauan yang melibatkan seluruh lulusan.
Sebanyak 400 wisudawan dan wisudawati wajib membawa serta menyumbangkan satu bibit pohon buah sebagai bagian dari komitmen menjaga lingkungan. Kebijakan tersebut menjadi langkah nyata pesantren dalam menanamkan kesadaran ekologis kepada generasi muda. Melalui program ini, para lulusan tidak hanya meninggalkan pesantren dengan bekal ilmu pengetahuan dan nilai keagamaan, tetapi juga membawa semangat pelestarian alam. Prosesi wisuda dan tasyakur berlangsung pada Minggu, 7 Juni 2026. Kegiatan berjalan khidmat dengan melibatkan para santri, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, serta jajaran pengasuh pondok pesantren.
Ketua YKP Babakan Ciwaringin, KH Arwani Syaerozi, mengatakan tahun ini terdapat 400 lulusan dari berbagai lembaga pendidikan di bawah naungan yayasan. “Tahun ini, sebanyak 400 wisudawan dan wisudawati mengikuti rangkaian tasyakur bersama. Mereka berasal dari empat lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Kebajikan Pesantren Babakan Ciwaringin,” kata KH Arwani Syaerozi. Empat lembaga tersebut meliputi MTs NU Assalafie yang menggelar wisuda ke-12, MA NU Assalafie wisuda ke-12, SMP NU Assalafie Unggulan angkatan pertama, serta Madrasah Al-Hikamus Salafiyah Putri.
Menghidupkan Pesan Ulama Lewat Aksi Nyata
Peluncuran gerakan penghijauan menjadi bagian penting dalam wisuda tahun ini. Program tersebut lahir dari keinginan pesantren untuk menghadirkan pendidikan karakter yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik dan keagamaan. “Selain prosesi kelulusan dan tasyakur, kami secara resmi meluncurkan gerakan penghijauan dan ramah lingkungan sebagai bagian dari program pendidikan karakter berbasis nilai-nilai pesantren,” ujarnya.
Menurut KH Arwani, gerakan tersebut bukan sekadar mengikuti tren kampanye lingkungan yang berkembang saat ini. Program itu berakar pada ajaran dan pesan para ulama yang menjadi fondasi berdirinya Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin. Salah satu inspirasi utama berasal dari dawuh Almaghfurlah KH Abdurrohim, ulama kharismatik Cirebon yang hidup pada awal abad ke-20. “Salah satu inspirasi utama gerakan tersebut berasal dari dawuh atau pesan Almaghfurlah KH Abdurrohim, seorang ulama kharismatik Cirebon pada awal abad ke-20.”
“Beliau merupakan ayahanda dari Almaghfurlah KH Syaerozi, pendiri Pondok Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin,” ungkapnya.
Pesan dari KH Abdurrohim menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Pesan itu masih relevan hingga saat ini, terutama ketika berbagai daerah menghadapi ancaman kerusakan lingkungan. Dalam salah satu dawuhnya, KH Abdurrohim berpesan, “Jangan menebang pohon jika tidak dibarengi dengan menyulam.” Pesan tersebut mengandung makna mendalam tentang tanggung jawab manusia terhadap alam. Setiap pemanfaatan sumber daya harus imbang dengan upaya pelestarian. “Filosofi ini mengandung makna bahwa manusia tidak boleh hanya mengambil manfaat dari alam tanpa memberikan kontribusi untuk menjaga keberlanjutannya. Setiap pohon yang ditebang harus diganti dengan penanaman baru agar keseimbangan lingkungan tetap terjaga untuk generasi mendatang,” terang KH Arwani Syaerozi.
Setiap Lulusan Tinggalkan Jejak Hijau
Sebagai implementasi dari pesan ulama tersebut, seluruh lulusan diwajibkan menyerahkan satu bibit pohon buah kepada yayasan. Bibit yang terkumpul akan ditanam di lingkungan pesantren maupun area yang telah disiapkan bersama masyarakat sekitar. Program ini diharapkan mampu menciptakan ruang hijau baru sekaligus memberikan manfaat ekonomi pada masa mendatang.
Kebijakan tersebut juga memiliki makna simbolis. Setiap lulusan meninggalkan jejak positif berupa tanaman yang akan terus tumbuh dan memberi manfaat.
“Langkah wisuda santri ini sekaligus menjadi simbol, setiap lulusan tidak hanya membawa ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap kelestarian lingkungan,” tegasnya. Melalui gerakan ini, pesantren ingin menunjukkan bahwa pendidikan harus melahirkan generasi yang peduli terhadap persoalan sosial dan lingkungan. Kesadaran menjaga alam perlu dibangun sejak dini agar menjadi bagian dari karakter kehidupan sehari-hari. “Pendidikan juga harus mampu melahirkan generasi yang memiliki kepedulian sosial, kesadaran ekologis, dan tanggung jawab terhadap masa depan lingkungan,” pungkasnya.
Melansir laman radarcirebon.disway.id, langkah YKP Babakan Ciwaringin dalam wisuda santri membuktikan bahwa wisuda tidak hanya menjadi akhir perjalanan pendidikan. Momen tersebut juga dapat menjadi titik awal lahirnya generasi yang membawa perubahan positif bagi masyarakat dan lingkungan.













