Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorProfil Pesantren

Pondok Pesantren Sunan Drajat: Warisan Spiritual dan Kemandirian Santri di Pesisir Lamongan

1045
×

Pondok Pesantren Sunan Drajat: Warisan Spiritual dan Kemandirian Santri di Pesisir Lamongan

Sebarkan artikel ini
pesanteen sunan drajat
Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Temukan sejarah, filosofi wali songo, dan keterpaduan kurikulum formal serta vokasi. ( Foto dok .ppsd.id)

P3M.OR.ID. Salah satu pesantren legendaris di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur adalah Pondok Pesantren Sunan Drajat. Merunut dari sejarahanya, keberadaan pesantren ini memiliki benang merah yang kuat dengan sejarah dakwah Wali Songo.  sekarang lembaga pendidikan Islam ini tumbuh menjadi pusat pencetak generasi unggul yang mandiri. Pesantren yang beriri 7 September 1977 terletak di Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran. Bangunan pondok berdiri tepat di atas reruntuhan pesantren peninggalan Sunan Drajat. Tempat ini sempat menghilang dari dunia Islam Jawa selama beberapa ratus tahun.

Adalah KH. Abdul Ghofur yang membangun kembali pesantren ini . Nama pondok pesantren mengambil nama Raden Qosim atau Sunan Drajat yang merupakan putra kedua dari Sunan Ampel dan Nyi Ageng Manila. Raden Qosim mengawali perjuangan di Banjaranyar setelah mendapat utusan dari sang ayah. Beliau datang untuk membantu perjuangan Mbah Banjar dan Mbah Mayang Madu. Pada masa lalu, pelaut Muslim asal Banjar terdampar di pantai Jelaq akibat kapal pecah. Mbah Mayang Madu selaku penguasa kampung Jelaq menolong pelaut tersebut. Pelaut yang kemudian bernama Mbah Banjar itu lalu menyebarkan ajaran Islam. Mbah Mayang Madu akhirnya ikut masuk Islam dan mendukung dakwahnya.

Kedua tokoh ini ingin mendirikan tempat pendidikan agama namun kekurangan tenaga pengajar. Mereka kemudian sowan menghadap Kanjeng Sunan Ampel di Ampeldenta Surabaya. Sunan Ampel merestui tujuan tersebut lalu mengutus putranya, Raden Qosim. Raden Qosim kemudian mendirikan pondok pesantren di Banjaranyar. Beliau berdoa agar para pencari ilmu di tempat tersebut memiliki derajat yang luhur. Berkat doa ini, masyarakat berbondong-bondong datang untuk belajar agama. Raden Qosim pun akhirnya mendapat gelar Sunan Drajat.

Sepeninggalan Sunan Drajat, roda perjuangan berlanjut melalui anak cucu beliau. Namun, kebesaran pesantren pudar dan akhirnya lenyap ditelan masa. Tempat bersejarah tersebut berubah menjadi area perjudian dan lokasi pemujaan. Kondisi tersebut mulai berubah saat salah seorang keturunan Sunan Drajat merasa terpanggil jiwanya. KH. Abdul Ghofur mulai mengumpulkan para pemuda setempat. Beliau mengajarkan ilmu agama, ilmu kanuragan, dan ilmu pengobatan. Pada tahun 1985, KH. Abdul Ghofur menemukan kembali pondasi mushola lama. Beliau juga menemukan sumur kuno yang tertimbun tanah sedalam 1 meter. Sumur tua tersebut kini berfungsi kembali untuk memenuhi kebutuhan minum para santri.

Filosofi Luhur Sang Wali

Masyarakat sekitar memegang teguh ikatan historis, psikologis, dan filosofis dengan Sunan Drajat. Pondok pesantren ini melestarikan empat filosofi terkenal dari Sunan Drajat. Berikut adalah empat ajaran luhur tersebut adalah menehono teken marang wong kang wuto. Artinya Berilah ilmu agar orang menjadi pandai. Kemudian menehono mangan marang wong kang luwe  atau Sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin. Selanjutnya  ,enehono busono marang wong kang wudo. Artinya Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu. Terakhir adala
menehono ngiyup marang wongkang kudanan atau serta beri perlindungan orang yang menderita.

Pesantren saat ini menerapkan kurikulum terintegrasi yang sangat komprehensif. Pengelola memadukan sistem salaf, modern, dan pendidikan formal Kementerian Agama. Struktur pendidikan di dalam pesantren terbagi menjadi dua jalur utama. Jalur pertama adalah jalur pendidikan formal. Pesantren menyelenggarakan sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Lembaga tersebut meliputi MI Murni, SMP, SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah. Terdapat pula Madrasah Mu’allimin Mu’allimat untuk program pencetakan ulama. Pada tingkat tinggi, pesantren mengelola Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD).

Jalur kedua merupakan jalur kepesantrenan dan vokasi nonformal. Santri mempelajari kitab kuning melalui metode sorogan dan bandongan. Selain ilmu agama, pesantren membekali santri dengan keterampilan hidup. Santri mengikuti praktik wirausaha langsung, pelatihan kerja, dan program magang. Kurikulum ini berkomitmen mencetak ulama yang memiliki kemandirian ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.