Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar P3MPilihan Editor

Saat Sampah Jadi Ancaman, Pesantren Brabo Balikkan Keadaan Jadi Peluang Besar

257
×

Saat Sampah Jadi Ancaman, Pesantren Brabo Balikkan Keadaan Jadi Peluang Besar

Sebarkan artikel ini
pengolahan sampah
Pengelolaan sampah di Pesantren Brabo Semarang berkembang melalui bank sampah, budidaya maggot, dan edukasi lingkungan berkelanjutan

P3M.OR.ID. Program pengelolaan sampah di Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Semarang, memasuki tahap penting melalui peresmian rumah pengelolaan sampah dan monitoring program berkelanjutan. Kegiatan berlangsung khidmat serta menghadirkan semangat kolaborasi antara pesantren, P3M, dan CCEP. Momentum ini menjadi ajang evaluasi sekaligus penguatan komitmen dalam membangun sistem pengelolaan sampah berbasis pesantren yang berkelanjutan.

Pimpinan Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin, KH. Muhammad Shofi Al Mubarok, membuka kegiatan dengan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menegaskan bahwa persoalan sampah menjadi tantangan serius bagi pesantren dengan jumlah santri hampir 3.000 orang. Menurutnya, pengelolaan sampah harus menjadi tanggung jawab bersama dan berjalan secara konsisten.

Kesadaran menjaga kebersihan lingkungan sebenarnya telah tumbuh sebelum program pendampingan berlangsung. Namun, kehadiran P3M dan CCEP memperkuat sistem pengelolaan melalui edukasi, pendampingan, dan praktik langsung di lapangan. Perubahan mulai terlihat dari lingkungan pondok yang semakin tertata dan bersih.Pesantren juga mulai menambah fasilitas tempat sampah secara mandiri. Penambahan tersebut menyesuaikan kebutuhan santri yang terus meningkat. Langkah ini menunjukkan adanya rasa kepemilikan terhadap program pengelolaan sampah yang sedang dalam pengembangan.

Stimulan

Perwakilan P3M, Khoeruddin, menjelaskan bahwa program tersebut bersifat stimulan dan percontohan. Pendekatan itu bertujuan mendorong kemandirian pesantren dalam membangun sistem pengelolaan sampah sesuai kebutuhan masing-masing. Ia mengapresiasi inisiatif pesantren yang aktif menambah fasilitas tanpa menunggu bantuan eksternal. P3M berharap pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai program jangka pendek. Harapannya program ini  berkembang menjadi budaya hidup bersih di lingkungan pesantren. Santri didorong menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari karakter sehari-hari.

Perwakilan CCEP, Iman Santoso, turut mengapresiasi perkembangan positif di Pondok Pesantren Brabo. Ia menilai persoalan sampah merupakan isu global yang membutuhkan perubahan perilaku masyarakat. Karena itu, program pengelolaan sampah berbasis edukasi dan partisipasi menjadi sangat penting. CCEP juga menyoroti pentingnya penguatan sistem melalui penyusunan SOP dan kaderisasi pengelola. Langkah tersebut penting agar program tetap berjalan meski terjadi pergantian santri. Harapannya para santri yang aktif mengelola sampah menjadi agen perubahan di lingkungan masyarakat. Kegiatan peresmian kemudian ditutup dengan doa bersama. Seluruh pihak berharap program tersebut mampu memberikan manfaat luas dan keberkahan bagi pesantren serta masyarakat sekitar.

Dukungan penuh pengasuh pesantren menjadi fondasi utama keberhasilan program. Dalam wawancara, KH. Muhammad Shofi Al Mubarok menyampaikan isu sampah sebenarnya telah lama menjadi perhatian. Namun baru dalam beberapa waktu terakhir mulai mengolalnya secara lebih sistematis. Pernyataan itu menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di pesantren bukan sekadar program sesaat. Kesadaran menjaga lingkungan telah tumbuh sejak lama dan kini menjadi lebih kuat dengan sistem yang lebih terstruktur. Pengasuh pesantren juga mulai menyiapkan kebijakan pendukung. Evaluasi kebersihan kamar santri terus dilakukan. Selain itu, pengelolaan sampah rencananya  masuk dalam tata tertib pesantren agar kesadaran santri semakin meningkat.
Komitmen pengasuh terlihat melalui kesiapan penyediaan sarana dan prasarana pendukung. Namun, ia mengingatkan bahwa fasilitas harus dimanfaatkan secara optimal. “Setiap fasilitas harus digunakan secara optimal dan tidak boleh sekadar simbolis tanpa implementasi nyata,” ujarnya.

Pengembangan konsep ekonomi sirkular

Pesantren juga mulai mengembangkan konsep ekonomi sirkular. Program budidaya maggot dan pemanfaatan limbah organik menjadi pakan ternak menjadi langkah nyata menuju pengelolaan sampah produktif. Pendekatan ini membuka peluang ekonomi baru bagi pesantren. Meski begitu, aspek kelembagaan masih membutuhkan penguatan. Legalitas bank sampah belum terbentuk secara resmi. Dalam wawancara disebutkan, “Bank sampah sudah berjalan, namun belum memiliki legalitas formal berupa SK.”

Peran Local Officer atau LO juga sangat penting dalam keberhasilan program. LO menjadi penghubung antara kebijakan pengasuh dan pelaksanaan di lapangan. Selain mengoordinasikan program, LO aktif melakukan monitoring rutin. Hanif Fatkhu Nizam menjelaskan, “Monitoring langsung ke lapangan minimal 1 kali dalam seminggu.” Pendekatan ini membuat pengawasan berjalan lebih efektif dan responsif terhadap kendala di lapangan. Hubungan antara LO dan pengasuh pesantren berjalan sangat baik. “Pengasuh aktif memantau perkembangan program dan sering menanyakan tindak lanjut kegiatan serta kendala mereka hadapi,” ungkapnya. Meski demikian, LO masih menghadapi beberapa kendala. Keterbatasan jumlah personel kebersihan menjadi tantangan utama pada tahap awal program. Selain itu, kesadaran sebagian santri masih rendah dalam memilah sampah.

Namun, edukasi dan pendampingan mulai menunjukkan hasil positif. “Awalnya kurang dari 50%, sekarang sekitar 70%,” kata Hanif terkait peningkatan kesadaran santri. Program pengelolaan sampah di Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin saat ini menangani timbulan sampah sekitar lima ton setiap bulan. Jumlah besar tersebut menuntut sistem pengelolaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Pengelolaan sampah anorganik menunjukkan perkembangan cukup baik.  santri berhasil memilah sampah plastik, kardus, kertas, dan kaleng berhasil serta mengumpulkannya secara rutin. Dalam satu minggu, santri putra mampu mengumpulkan sekitar 900 kilogram sampah, sedangkan santri putri mencapai 405 kilogram.

Dampak Program

Hasil penjualan sampah memberikan nilai ekonomi cukup besar. Sampah dari santri putra menghasilkan sekitar Rp900.000. Sementara itu, sampah dari santri putri menghasilkan sekitar Rp700.000. Dana tersebut adalah untuk mendukung operasional bank sampah dan pengembangan program. Pengelolaan sampah organik fokus pada budidaya maggot. Sampah organik dari dapur dan kantin kemudian mengolahnya menjadi pakan maggot dengan volume mencapai 500 kilogram. Namun, pemasaran maggot masih menghadapi kendala akibat menurunnya permintaan peternak unggas. Program ini juga masih menghadapi persoalan residu sampah. Sekitar 15 hingga 20 persen sampah belum terkelola optimal. Saat ini, sampah residu masih dibakar karena belum adanya kerja sama resmi dengan dinas lingkungan hidup. Dalam forum diskusi kelompok terarah atau FGD  menyebut total timbulan sampah mencapai sekitar 5 ton per bulan. Namun yang berhasil terpilah baru sekitar 1,5 ton.

Masalah lain muncul dari rendahnya partisipasi sebagian santri. “Banyak santri masih malas memilah sampah dan sampah masih sering tercampur,” ungkap peserta FGD.
Program pengelolaan sampah organik juga belum berjalan maksimal. “Pengelolaan sebelumnya belum optimal karena tidak ada pengadukan rutin dan pemilahan yang baik,” ujar peserta diskusi. Dalam program maggot, keterbatasan sumber daya manusia menjadi hambatan utama. “Jumlah tim pengelola maggot masih sangat sedikit dan regenerasi belum terbentuk,” lanjut hasil evaluasi program. Meski begitu, potensi ekonomi pengelolaan sampah sangat besar. Dalam FGD menegaskan sampah memiliki rantai ekonomi yang panjang apabila dipilah dan dikelola dengan baik. Secara keseluruhan, program pengelolaan sampah di Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo menunjukkan perkembangan yang positif. Dukungan pengasuh, peran aktif LO, serta meningkatnya kesadaran santri menjadi modal penting bagi keberlanjutan program. Ke depan, penguatan legalitas bank sampah, peningkatan edukasi santri, pengembangan program maggot, serta optimalisasi potensi ekonomi perlu terus dalam pengembangan. Dengan langkah tersebut, Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo berpeluang menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis pesantren yang edukatif, mandiri, dan bernilai ekonomi tinggi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.