Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar P3MPilihan Editor

Dari Sosialisasi hingga Inovasi: Pesantren Mambaul Ma’arif Jombang Mantapkan Gerakan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

262
×

Dari Sosialisasi hingga Inovasi: Pesantren Mambaul Ma’arif Jombang Mantapkan Gerakan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
monitoring
Kegiatan monitoring P3M di Pondok pesantren mambaul Ma'arif Jombang

P3M.OR.ID. Program pengelolaan sampah di lingkungan Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang memasuki babak baru setelah pihak yayasan menyusun kebijakan berjenjang yang mengatur tata kelola sampah secara lebih terstruktur. Upaya ini hadir sebagai bentuk komitmen yayasan dalam menciptakan lingkungan belajar yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan. Gus Najwa Fikri, S.FU, sebagai perwakilan yayasan menegaskan bahwa kebijakan tersebut sudah berjalan melalui penerbitan Surat Keputusan kepengurusan pengelolaan sampah yang berlaku mulai tingkat yayasan, madrasah, hingga setiap asrama.

Perwakilan yayasan menyebut bahwa setiap madrasah kini memiliki tim pengelolaan sampah sendiri. Asrama pun memiliki pengurus yang bertugas mengawal santri agar menerapkan kebiasaan memilah sampah dengan benar. Guru-guru yang memiliki kepedulian dan kompetensi di bidang lingkungan juga terlibat dalam struktur tersebut. Mereka berperan sebagai koordinator kegiatan di area madrasah dan asrama. “Dengan struktur yang jelas, kami ingin program ini berjalan terarah dan berkelanjutan,” ujar perwakilan yayasan.

Setelah pelatihan pengelolaan sampah selesai , proses sosialisasi kemudian mengarah langsung ke asrama pesantren Mambaul Ma’arif. Asrama menjadi titik awal karena menjadi ruang hidup santri setiap hari. Peserta pelatihan sebelumnya memimpin kegiatan tersebut. Pemilahan sampah mulai berjalan menggunakan karung serta tong sampah pilah yang sudah tersedia. Yayasan kemudian menetapkan jadwal pendampingan berkala yang dilaksanakan setiap dua minggu. Asrama putri mendapat pendampingan pada minggu kedua, sedangkan asrama putra pada minggu keempat.“Kami ingin santri tumbuh sebagai pionir pengelolaan sampah di asrama masing-masing,” lanjut perwakilan yayasan.

Dalam tahap pengembangan, yayasan telah merumuskan beberapa inovasi. Pada tahap awal, fokus mengarah pada sampah plastik. Guru keterampilan dan kerajinan bekerja sama untuk melatih santri mengolah sampah plastik menjadi produk yang bernilai guna. Program ini didukung rencana pelibatan Dinas Lingkungan Hidup secara bergantian setiap bulan untuk memberi materi tambahan terkait pengolahan plastik. “Kami ingin santri melihat sampah plastik sebagai peluang ekonomi,” ujar Gus Fikri.

Fokus Sampah Plastik

Selain itu, pengelolaan sampah organik Pesantren Mambaul Ma’arif juga berkembang. Beberapa asrama yang memiliki kolam ikan diarahkan untuk mencoba integrasi sistem pengelolaan sampah organik dengan budidaya ikan. Yayasan juga mulai merancang program pengumpulan minyak jelantah dari dapur asrama. Minyak jelantah akan digunakan sebagai sarana edukasi sekaligus pengembangan program bank sampah pesantren. “Seluruh program ini kami rancang agar santri membawa budaya bersih dan peduli lingkungan ke masyarakat,” ucap perwakilan yayasan.

Di sisi lain, Gus Hilmy sebagai Local Officer (LO) pesantren menjelaskan tantangan awal dalam menjalankan program ini. Menurutnya, kendala terbesar bukan bersifat teknis, tetapi berada pada tahap meyakinkan pihak yayasan tentang fungsi rumah sampah. Ia menyebut bahwa sebagian pengurus sempat menganggap pengelolaan sampah identik dengan usaha bisnis. “Ada kekhawatiran bahwa program ini mengejar keuntungan. Padahal fokusnya adalah sosial dan lingkungan,” kata Gus Hilmy. Ia menambahkan bahwa sosialisasi intens dilakukan agar beban pikiran tersebut tidak menjadi hambatan. “Kami ingin yayasan melihat bahwa pengelolaan sampah adalah kebutuhan pesantren, bukan beban.”

Pembagian Tugas

Koordinasi internal tim berjalan melalui pembagian tugas yang jelas. LO menjelaskan bahwa sistem ini penting karena ia tidak selalu berada di lokasi setiap hari. Pengurus administrasi, humas, dan tim sosialisasi bekerja sesuai kewenangan masing-masing. Tim humas aktif mendatangi asrama untuk memberi edukasi dan membangun komunikasi dengan pengurus asrama. “Hasil pelatihan sangat membantu. Santri mulai paham pentingnya pengumpulan sampah. Kesadaran mereka meningkat,” ujar LO. Ia menyebut bahwa kendala yang tersisa adalah kurangnya lokasi penampungan terpusat. Beberapa asrama masih menjual sampah langsung ke pihak luar.

Sebagai tambahan, LO menegaskan pentingnya komunikasi yang sehat antara pengurus bank sampah dan pimpinan yayasan. Ia menilai hubungan ini menentukan kelancaran setiap program. “Kami selalu terbuka menyampaikan laporan dan progres. Kami ingin yayasan melihat perkembangan nyata. Transparansi menjadi kunci,” kata Gus Hilmy dalam kesempatan wawancara lain. Ia berharap dukungan yayasan terus menguat agar ekopesantren berkembang lebih cepat. Gus Fikri sebagai perwakilan yayasan menegaskan bahwa komitmen tersebut sudah mereka pegang sejak awal. “Program ini bukan hanya soal sampah. Ini adalah pendidikan karakter. Santri belajar disiplin, kreativitas, dan rasa tanggung jawab,” tuturnya. Ia berharap model pengelolaan ini menjadi contoh bagi lembaga lain. “Kami ingin pesantren tidak hanya melahirkan generasi berilmu, tetapi juga generasi peduli bumi.”***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.