P3M.OR.ID. Program pengelolaan sampah di lingkungan pesantren kembali mendapat perhatian serius. Pondok Pesantren Cijawura Bandung meresmikan Rumah Pengelolaan Sampah melalui kegiatan Program P3M yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pengurus pesantren, pengelola lingkungan, hingga mitra perusahaan. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya peduli lingkungan di kalangan santri sekaligus membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Tampak hadir dalam acara peresmian tersebut seperti KH. Asep Usman Rosadi (Pengasuh Pesantren Cijawura), KH. Sarmidi Husna (Direktur P3M) tim monitoring P3M, perwakilan Coca-Cola Europacific Partners (CCEP), Local Officer (LO) Pesantren, Ketua Bank Sampah Pesantren dan pengelola Bank Sampah Pesantren, serta para santri putra dan putri Pondok Pesantren Cijawura. Pengasuh Pondok Pesantren Cijawura dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya program tersebut. Kiai Asep menilai kehadiran Rumah Pengelolaan Sampah menjadi bentuk dukungan nyata terhadap upaya menjaga lingkungan di kawasan pesantren. “Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat berkumpul dan bersilaturahmi dalam kegiatan Program P3M, khususnya dalam rangka tata kelola serta peresmian Rumah Pengelolaan Sampah,” ujarnya.
Kiai Asep juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam program tersebut, termasuk tim P3M, pihak CCEP, pengelola sampah pesantren, hingga para santri yang terlibat aktif dalam pengembangan program lingkungan. Menurutnya, program pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan karakter bagi para santri. Penanaman kesadaran menjaga lingkungan penting sejak dini agar menjadi budaya yang terus berkembang di lingkungan pesantren. “Kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Tanpa kesadaran individu dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, sulit bagi kita menciptakan suasana yang bersih, aman, dan nyaman,” katanya.
Bukan Sekedar Fasilitas
Selain itu, lanjutnya, menegaskan persoalan sampah masih menjadi tantangan besar, khususnya di wilayah Bandung. Karena itu, program seperti Rumah Pengelolaan Sampah membutuhkan pendampingan dan pengawasan yang berkelanjutan agar tidak berhenti di tengah jalan.“Saya berharap ke depan terdapat tindak lanjut dari program ini, misalnya melalui kegiatan kompetisi atau evaluasi berkala antar penerima program. Hal tersebut dapat menjadi motivasi agar semangat pengelolaan lingkungan terus tumbuh dan berkembang,” tambahnya. Dalam kesempatan yang sama, KH. Sarmidi Husna, MA menegaskan bahwa program pengelolaan sampah di pesantren bukan sekadar pembangunan fasilitas fisik, tetapi juga membangun kesadaran kolektif para santri untuk mengelola lingkungan secara mandiri. “Tujuan utama dari program ini adalah agar pesantren mampu mengelola sampah secara mandiri, berkembang, dan berkelanjutan di masa yang akan datang,” ujar KH. Sarmidi Husna.
Kiai Sarmidi menjelaskan, fasilitas rumah pengelolaan sampah melalui Program P3M hanya menjadi langkah awal atau stimulan. Keberhasilan program tetap bergantung pada komitmen pengelola dan pengasuh pesantren dalam menjalankan sistem yang sudah terbangun dalam program. Menurutnya, tantangan utama dalam pengelolaan sampah di pesantren terletak pada regenerasi santri. Para pengelola rumah sampah sebagian besar merupakan santri yang memiliki masa belajar terbatas. Karena itu, transfer ilmu dan budaya pengelolaan sampah harus terus berlangsung agar program tetap berjalan meski terjadi pergantian generasi. “ Harapannya adanya kesadaran dan pengetahuan dapat tertular kepada santri lainnya agar program pengelolaan sampah tetap berjalan secara berkesinambungan,” katanya.
Apresiasi
Dalam kesempatan tersebut Kiai Sarmidi juga mendorong pesantren untuk belajar dari praktik terbaik pengelolaan sampah di berbagai daerah. Ia mencontohkan pengelolaan sampah di Pesantren Krapyak Yogyakarta yang sudah mampu memilah sampah dalam banyak kategori sehingga pengelolaannya menjadi lebih efektif. Selain pengelolaan lingkungan, Program P3M juga untuk meningkatkan kompetensi para santri dalam bidang pengelolaan sampah. Ke depan, para santri rencananya akan mengikuti pelatihan bersertifikat melalui Lembaga Sertifikasi Profesi agar memiliki kemampuan profesional. “Apabila para santri mengikuti program ini dengan serius, maka ke depan mereka dapat menjadi penggerak lingkungan, narasumber, bahkan pelopor pengelolaan sampah di daerahnya masing-masing,” ungkapnya.
Kemudian Kiai Sarmidi menambahkan, kompetisi antar pesantren terkait pengelolaan sampah juga akan terus berlangsung sebagai bentuk motivasi. Sebelumnya, lomba video pengelolaan sampah antar pesantren telah terlaksana dan mendapat respons positif dari berbagai lembaga pendidikan Islam. Program tersebut ternyata mampu membuka ruang kreativitas para santri dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang inovatif dan berdampak langsung bagi lingkungan sekitar. Saat ini, Pondok Pesantren Cijawura juga telah menjalin koneksi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung dan sejumlah aktivis lingkungan. Adanya kerja sama tersebut dapat memperkuat program pelatihan serta pengembangan kapasitas pengelola sampah pesantren pada masa mendatang.
Dukungan
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Adnan Luthfi, perwakilan dari CCEP Indonesia. Adnan mengapresiasi semangat para santri dan pengelola rumah sampah yang berhasil melanjutkan inisiatif lingkungan secara konsisten. Menurutnya, persoalan sampah di Kota Bandung dan sekitarnya telah menjadi tantangan serius yang membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk pesantren. “Peresmian ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi diharapkan menjadi awal dari komitmen bersama untuk terus menjaga semangat pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan,” katanya.
Peresmian Rumah Pengelolaan Sampah Ponpes Cijawura menjadi bukti bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran lingkungan. Melalui program ini, para santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga dibekali kepedulian sosial dan kemampuan menjaga keberlanjutan lingkungan hidup. Dengan adanya pendampingan yang konsisten, program pengelolaan sampah berbasis pesantren diharapkan mampu menjadi gerakan besar yang memberi dampak nyata bagi masyarakat luas, khususnya dalam mengurangi persoalan sampah di Jawa Barat.













