P3M.OR.ID. Pesantren menjadi salah satu prioritas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalam memperluas upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah. Hal ini merupakan salah satu komitmen OJK untuk mendukung penguatan ekosistem ekonomi pesantren. Untuk itu OJK menyelenggarakan Forum Edukasi dan Temu Bisnis Keuangan Syariah (FEBIS) serta program Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH) yang berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Dalam kegiatan tersebu OJK berkolaborasi Badan Gizi Nasional (BGN) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
. “Program pemerintah saat ini tidak hanya berbicara mengenai kebutuhan hari ini. Namun program tersebut untuk generasi ke depan. Ini merupakan sebuah kebersyukuran bagi kita semua ketika memiliki program yang berorientasi jangka panjang seperti ini,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono. Dicky kemudian menambahkan bahwa pesantren mempunyai peran besar dalam penguatan ekonomi masyarakat. Maka dari itu pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga ekosistem penting yang berkontribusi terhadap kemandirian ekonomi
Tidak Hanya Sebagai Regulator
Lebih lanjut Diky menjelaskan OJK hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai katalis yang mempercepat konektivitas. Selain itu juga membuka pemahaman masyarakat terhadap sistem keuangan syariah. Peran tersebut terwujud melalui program yang dalam rancangannya langsung memenuhi kebutuhan di lapangan, terutama bagi pelaku usaha di lingkungan pesantren.
Melalui FEBIS, OJK mempertemukan pelaku usaha dengan lembaga jasa keuangan syariah melalui business matching. Langkah ini membuka peluang konkret bagi pelaku usaha untuk mendapatkan pembiayaan sesuai kebutuhan. Dicky menuturkan bahwa penguatan ekosistem pesantren membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, regulator, industri keuangan. Selain itu juga berkolaborasi dengan pesantren, dan masyarakat sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi.
Program Sakinah
Program SAKINAH menjadi salah satu upaya OJK untuk meningkatkan literasi keuangan syariah bagi santri. Dengan tema “Santri Sehat, Keuangan Kuat, Masa Depan Hebat,” kegiatan ini memberikan edukasi mengenai pengelolaan keuangan, kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal, serta pengenalan produk keuangan syariah. Harapannya para santri mampu memahami bahwa kesehatan keuangan dan kesehatan fisik merupakan fondasi penting untuk meraih kesejahteraan di masa depan.
Ada sekitar 150 yang ikut kegiatan FEBIS ini. Mereka terdiri dari pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pelaku usaha, supplier dalam rantai pasok MBG, dan Badan Usaha Milik Nahdlatul Ulama. FEBIS menghadirkan sesi pemaparan dari Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah dan sesi business matching untuk memperdalam pemahaman mengenai pembiayaan syariah yang sehat dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, pelaku usaha mendapatkan pemahaman lebih baik mengenai cara mengakses pembiayaan yang sesuai prinsip kehati-hatian. Dalam acara tersebut hadir beberapa tokoh penting, termasuk Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan OJK M. Ismail Riyadi. Selain itu tampak pula Kepala OJK Jawa Timur Yunita Lindasari, jajaran PBNU, para masyayik Lirboyo, serta perwakilan perbankan syariah. Melalui serangkaian kegiatan ini, OJK menegaskan komitmennya untuk menjadikan pesantren sebagai motor penggerak ekonomi umat serta pusat penguatan literasi keuangan syariah di Indonesia. Dengan pendekatan kolaboratif yang harapannya dapat menciptakan ekosistem ekonomi pesantren yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan.













