Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorProfil Pesantren

Komitmen Pondok Kyai Parak Bambu Runcing Parakan

1099
×

Komitmen Pondok Kyai Parak Bambu Runcing Parakan

Sebarkan artikel ini
pesantren
Pesantren Parak Bambu Runcing ( foto dok liputanj6)

P3M.OR.ID. Salah satu pesantren di Temanggung yang bersejarah adalah Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing. Pesantren salaf bersejarah yang berada di Jl. Coyudan No. 3, Parakan Kauman, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah ini adalah pusat pendidikan Islam tradisional yang konsisten menjaga ajaran Ahlusunnah wal Jamaah. Melalui kajian kitab kuning, pendalaman ilmu alat, fiqh, akhlak, serta program tahfidzul Quran pesantren ini juga terdapat pendidikan nonformal, pesantren ini juga menaungi lembaga pendidikan kesetaraan Madrasah Manbaul Falaq yang menjadi jalur persiapan jenjang Tsanawiyah dan Aliyah.

Cikal bakal Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing berawal dari perjuangan seorang ulama kharismatik, KH. R. Muhaiminan Gunardho. Beliau adalah putra dari Kyai Sumogunardo dan Nyai Hj. Mahwiyah. Sang ayah terkenal sebagai alim yang ahli dalam ilmu hikmah serta tokoh penting dalam penyepuhan bambu runcing, simbol perjuangan rakyat pada masa penjajahan. Banyak ilmu hikmah dan pengajaran yang diterapkan di pesantren berasal dari warisan keilmuan keluarga tersebut.

Pencak Silat

KH Muhaiminan menempuh pendidikan awal di sekolah rakyat di Parakan Kulon, kemudian melanjutkan ke Madrasah Ibtida’iyyah Al-Iman di kota Parakan. Pendidikan formalnya sempat terhenti ketika pecah perang Clash I, namun selesai setelah situasi mereda. Beliau kemudian meneruskan pendidikan di Magelang, belajar di Madrasah Tsanawiyah Al-Iman dan sore harinya di SMP Muhammadiyah Jambon. Prestasi akademiknya sebenarnya membuka peluang belajar ke Mesir, tetapi karena berbagai faktor termasuk restu ibunda, KH Muhaiminan memilih memperdalam ilmu di pondok pesantren dalam negeri.

Beliau juga pernah nyantri ilmu di berbagai pesantren ternama seperti Payaman Magelang, Pondok Bendo Pare Kediri. Kemudian tercatat mondok di Tebuireng Sukopura Jombang, dan Dersemo Surabaya. Tidak hanya mengaji kepada para ulama besar seperti Syaikh Masduqi dan KH. Ma’shum Lasem, beliau juga dikenal sebagai sosok yang gemar mempelajari pencak silat sejak muda. Setelah menikah dengan Nyai Jayyidah binti H. Anwari pada tahun 1965, KH Muhaiminan kembali ke tanah kelahiran dan mulai mengajar di Pondok Zaidatul Ma’arif. Di rumah warisan yang berdinding bambu dan beratap sederhana itulah beliau membuka pengajian pertama. Para pemuda sekitar Parakan datang untuk belajar kitab kuning, ilmu nahwu-shorof, dan fiqh. Di sela-sela pengajian, beliau juga mengajarkan pencak silat sebagai bentuk pembinaan karakter.

Berkembang Pesat

Jumlah santri yang terus bertambah membuat rumah tersebut berubah menjadi tempat penampungan sederhana. Pada masa-masa ini, KH Muhaiminan mengalami berbagai ujian terutama dalam bidang ekonomi. Saat dalam  kegundahan, beliau mendapatkan nasihat dari KH Abdul Hamid Banjaragung Kajoran Magelang. Salah satu nasehatnya adalah tetap istikamah mengembangkan pengajian dan tidak larut dalam masalah keduniaan. KH Abdul Hamid bahkan memberikan sembilan santri untuk belajar sebagai bentuk dukungan moral.

Pada tahun 1954, melihat pertumbuhan santri yang signifikan, KH Muhaiminan akhirnya meresmikan pondok pesantren yang ada hingga sekarang. Pada awalnya belum ada nama resmi, dan masyarakat lebih mengenalnya sebagai “Nggone Mbah Parak”. Beliau pernah memberi nama “Manba’ul Falah”, tetapi penyebutan itu tidak bertahan lama. Inspirasi nama akhir “Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing” muncul dari sejarah perjuangan bambu runcing yang sangat melekat pada keluarga beliau. Nama ini menggabungkan identitas lokal Parakan dan nilai historis perjuangan rakyat.

Pesantren ini menerapkan sistem pendidikan salaf murni, dengan kurikulum utama berupa Kajian kitab kuning klasik, Ilmu nahwu dan shorof, Fiqh dan akhlak, Tahfidzul Quran dan Pendidikan kesetaraan Madrasah Manbaul Falaq Pesantren juga memiliki kegiatan ekstrakurikuler, terutama seni bela diri melalui Lembaga Seni Bela Diri Garuda Bambu Runcing yang diwariskan dari minat dan keahlian KH Muhaiminan sejak muda. Seiring perkembangan zaman, pesantren terus melakukan pembaruan tanpa meninggalkan tradisi salaf. Saat ini, pembinaan pesantren turut dilakukan oleh KH M. Nauval Muhaiminan, sementara pengelolaan pendidikan formal seperti madrasah dipimpin oleh KH M. Baha’ Jogo Sampurno.

Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing berkomitmen mencetak generasi yang kuat dalam ilmu agama serta konsisten mengamalkan ajaran ulama salaf dalam kehidupan sehari-hari. Dengan metode pembelajaran berbasis hafalan dan praktik akhlak, pesantren ini tumbuh sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan karakter dan spiritualitas santri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.