Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar PesantrenPilihan Editor

Program Takjil Pesantren Digelar Direktorat Pesantren Kementerian Agama.

206
×

Program Takjil Pesantren Digelar Direktorat Pesantren Kementerian Agama.

Sebarkan artikel ini
takjil
Program takjil Ramadan di pesantre Darul Rahman

P3M.OR.ID. Program Takjil Pesantren kembali digelar oleh Direktorat Pesantren Kementerian Agama. Kali ini Pesantren Daarul Rahman menjadi tuan rumah. Program takjil pesantren ini merupakan bagian dari penguatan budaya keberagamaan yang inklusif di kalangan santri. Berbeda dari pendekatan formal yang selama ini identik dengan tradisi pesantren, seri kedua kegiatan ini menghadirkan tema “Beragama dengan Asyik”. Tema ini adalah gagasan bahwa praktik keagamaan dapat tumbuh secara alami, menyenangkan, dan tetap berakar

Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim, menegaskan bahwa pesantren memiliki ekosistem unik yang membentuk rutinitas keagamaan secara mendalam. Menurutnya, budaya ibadah yang konsisten membuat praktik keberagamaan terasa lebih cair dan ramah bagi generasi muda. “Dalam pesantren, ibadah menjadikan beragama itu asyik. Ibadah bukan kewajiban yang menakutkan. Tradisi ini tumbuh menjadi budaya yang mengakar,” ujar Arskal dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.  Selanjutnya Arskal menilai, kehadiran program seperti Takjil Pesantren bukan hanya memperkuat spiritualitas santri, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat karakter kebangsaan yang lahir dari atmosfer pendidikan pesantren.

Pengasuh Pesantren Daarul Rahman, Faiz Syukron Makmum, menekankan pentingnya menghadirkan pengalaman beragama yang relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, pesantren harus menjadi ruang yang adaptif dan terbuka terhadap inovasi. “Santri tidak boleh dibatasi hanya belajar agama. Mereka harus melek perkembangan teknologi agar bisa memadukan ilmu agama dengan kebutuhan zaman,” kata Faiz.

Kiai Faiz menambahkan bahwa metode pembelajaran perlu disesuaikan dengan kemampuan dan karakter forum yang menerima ilmu. Ngaji, menurutnya, tidak harus selalu kaku dan formal. Ruang improvisasi dan kreativitas wajib diberikan agar santri mampu mengembangkan kapasitasnya secara alami. “Pesantren membutuhkan kultur, inovasi cara belajar, dan kebiasaan sejak dini agar santri dapat berbaur di masyarakat,” lanjutnya.

Negara Hadir Menguatkan Kemandirian Pesantren

Sementara itu Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab dalam memastikan pesantren semakin kuat dan mandiri. Kehadiran pemerintah, katanya, bukan hanya simbolis, tetapi harus terwujud dalam dialog kebijakan dan dukungan nyata. “Negara hadir untuk pesantren. Karena itu, forum seperti ini penting untuk menampung aspirasi pesantren se-DKI Jakarta,” ujarnya.

Basnang juga menyoroti perlunya optimalisasi Dana Abadi Pesantren sebagai instrumen penguatan ekonomi. Menurutnya, bantuan inkubasi bisnis merupakan langkah konkret agar pesantren tidak hanya kokoh secara keilmuan, tetapi juga berdaya secara ekonomi. “Dana Abadi Pesantren hadir dalam bentuk bantuan inkubasi bisnis agar pesantren semakin mandiri,” tegasnya.

Selain di Daarul Rahman, kegiatan ini berlangsung di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah pada Jumat (27/2). Acara ini menjadi bagian dari program besar Direktorat Pesantren bertajuk “San Trend Ramadan”, yang meliputi Pesantren di Radio, Ramadan Insight, Ngaji Bandongan Online, dan berbagai kegiatan tematik lain. Sekjen Kementerian Agama, Kamarudin Amin, yang hadir dalam talkshow, menekankan pentingnya memperluas cakupan keilmuan santri. Ia mengajak santri untuk tidak hanya mengejar kedalaman ilmu agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga literasi kebangsaan dan ketatanegaraan. “Santri masa kini harus punya target besar. Kalau bisa, selain tafaqquh fiddin, pelajari juga ketatanegaraan agar bisa berkontribusi di posisi strategis,” kata Kamarudin.

Sementara itu, pengasuh PP Al-Tsaqafah, KH Said Aqil Siradj, mengingatkan bahwa kekuatan pesantren terletak pada khazanah kitab kuning. Ia menjelaskan bahwa konstruksi keilmuan pesantren bertumpu pada tiga sumber utama: bayan ilahi, bayan nabawi, dan bayan aqli, yang menjadi fondasi ijtihad melalui ijma dan qiyas. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Basnang kembali menegaskan bahwa tema “Dari Pesantren untuk Dunia” bukan sekadar slogan, tetapi arah pembangunan pesantren ke depan. Kiai Said yakin, santri masa depan harus menjadi figur yang menguasai tradisi klasik namun tetap adaptif terhadap perubahan global. Identitas keislaman dan keindonesiaan, katanya, harus menjadi penuntun dalam setiap langkah mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.