Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar P3MPilihan Editor

Nurul Islam Jember Bangun Gerakan Lingkungan dari Akar Tradisi

447
×

Nurul Islam Jember Bangun Gerakan Lingkungan dari Akar Tradisi

Sebarkan artikel ini
pesantren
Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Jember menjadi bagian dari program pengelolaan sampah di pesantren.

P3M. OR.ID. Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Jember menjadi bagian dari program pengelolaan sampah di pesantren. Pesantren ini menggelar kegiatan Mainstreaming dan Pelatihan Pengelolaan Sampah Pesantren yang merupakan kolaborasi Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) dengan Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia. kegiatan Mainstreaming dan Pelatihan Pengelolaan Sampah pada 15–16 November 2025 sebagai langkah nyata menjawab krisis lingkungan

Direktur P3M, KH. Sarmidi Husna, MA, dalam sambutannya menegaskan bahwa kerja sama ini bukan proyek jangka pendek, melainkan bagian dari gerakan panjang membangun kesadaran ekologis pesantren. Menurutnya, P3M tidak ingin menjadikan pesantren sebagai objek program, tetapi subjek perubahan. Semua hasil ekonomi dari pengolahan sampah nantinya menjadi milik pesantren, sementara sarana yang diberikan hanya sebagai stimulan awal.

Dimensi teologis pengelolaan sampah diperkuat oleh KH. Sarmidi Husna melalui kajian fikih lingkungan. Ia menyebut pencemaran lingkungan sebagai perbuatan haram bila menimbulkan mudarat bagi orang lain. Dalam perspektif Islam, perusak lingkungan bahkan dapat dikategorikan sebagai pelaku kriminal, dengan kewajiban mengganti kerugian yang ditimbulkannya.

Kiai Sarmidi kemudian mengutip kisah Ummu Mahjan, seorang perempuan pembersih masjid pada masa Nabi Muhammad SAW, yang justru mendapat kemuliaan karena jasanya menjaga kebersihan rumah Allah. Kisah ini menjadi pesan kuat bahwa profesi pengelola sampah bukan pekerjaan hina, melainkan amal mulia dalam Islam.

Selain itu lanjut Kiai Sarmidi, bahwa tahun ini P3M mendampingi lima pesantren terpilih, dua di antaranya berada di Jawa Timur: Nurul Islam Jember dan Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang. Pemilihan ini didasarkan pada komitmen, kesiapan kelembagaan, serta potensi dampak luas melalui jaringan alumni.

Pesantren Adalah Sumber Cahaya

Sementara itu Ibu Lucia Karina, perwakilan CCEP Indonesia mengungkapkan bahwa dirinya seharusnya hadir sebagai delegasi Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP) di Belem, Brasil. Namun, undangan itu ia batalkan demi menghadiri kegiatan di pesantren. “Saya merasa pesantren adalah sumber cahaya. Di sini ada adab, kebijaksanaan, dan energi perubahan yang tidak saya temukan di ruang-ruang forum internasional,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Perempuan penerima penghargaan UN Global Compact SDG Pioneer atas kiprahnya dalam pengembangan ekonomi sirkular dan pemberdayaan berbasis lingkungan menekankan bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan (hablun minallah) dan sesama manusia (hablun minannas). Namun islam juga menekankan hubungan manusia dengan alam (hablun minal alam). Karena itu, pengelolaan lingkungan bukan aktivitas sekuler, melainkan ibadah sosial.

Dari Sampah Menjadi Sumber Ekonomi

Dalam kesempatan yang sama, masalah lingkungan Kabupaten Jember sudah kekurangan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Menurut dr. Nurul dari Dinas Lingkungan Hidup setiap penduduk Jember menghasilkan sekitar 0,5 kilogram sampah per hari. “Dengan jumlah penduduk sekitar 2,7 juta jiwa, maka total produksi sampah harian mencapai ±1.300 ton. Ironisnya, kapasitas lima TPA yang ada hanya mampu menampung sekitar 300 ton per hari. untuk sisanya berisiko dibuang ke sungai, sawah, atau lahan kosong,” ungkapnya. Dalam kondisi seperti itu, pesantren dengan ribuan santri memiliki peran strategis. Selain sebagai produsen sampah dalam jumlah besar, pesantren juga memiliki kekuatan sosial untuk mengubah perilaku dan budaya masyarakat sekitarnya. Itulah alasan mengapa Nuris dipilih menjadi model pengelolaan sampah berbasis pesantren.

Fitria Ariyani, pemateri dari P3M dalam paparannya memperkenalkan konsep bank sampah berbasis pesantren. Menurutnya setiap jenis sampah memiliki nilai ekonomi berbeda, sehingga pemilahan yang tepat sangat menentukan pendapatan. Untuk itu penting sekali melakukan pemilahan sampah sampah anorganik seperti botol PET, kardus, dan plastik tertentu. Selanjutnya bisa menjualnya ke mitra daur ulang seperti BSI. Fitri kemudian memberikan contoh pengolahan sampah yang ada di Lampung. Bank sampah komunitas berhasil menurunkan timbulan sampah TPA hingga 40 persen dan meningkatkan pendapatan desa mencapai 60 juta rupiah per bulan. Di Bali, sebuah bank sampah bahkan mencatat kenaikan pendapatan dari 3 juta menjadi lebih dari 400 juta rupiah per bulan.

Eco Enzyme

Salah satu sesi paling mendpatkan minat para santri adalah pelatihan pembuatan eco-enzyme oleh Bu Grossi. Pegiat Eco-Enzyme Nusantara. Eco-enzyme melatih fermentasi sampah organik dapur. Bahannya antara lain gula merah, dan air dengan perbandingan 1:3:10. Setelah selama tiga bulan terfermentasi, cairannya memiliki banyak manfaat. Selain sebagai  pembersih lantai, sanitizer alami, pupuk cair, cairan tersebut juga dapat untuk perawatan kulit.

Selain eco-enzyme, santri juga mendapat pelatihan pada pembuatan biopori dan kompos. Mereke membuat lubang biopori sedalam 60 cm untuk mengolah sampah organik sekaligus mengurangi genangan air. Sampah organik yang mencapai sekitar 120 kg per hari di lingkungan pesantren dapat menjadi kompos dalam waktu ±40 hari dengan bantuan starter seperti EM4 atau eco-enzyme. Mereka juga mendapatkan pengenalan budidaya maggot sebagai solusi pengolahan sampah organik sekaligus penghasil pakan ternak bernilai ekonomis.

Materi yang tidak hanya berhenti pada konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Akan tetapi  memperliasnya menjadi 5R.  Tambahan tersebut adalah Refuse (menolak barang tidak perlu) dan Rot (mengolah organik menjadi kompos). materi ini tidak hanya mengajak santri membuang sampah pada tempatnya, tetapi lebih jauh lagi yaitu berpikir sebelum membeli dan menggunakan barang.

Dalam sesi pelatihan, santri diminta membawa tumbler, mengurangi pemakaian kemasan sekali pakai, dan menolak plastik tidak perlu. Mereka juga memperoleh pelajatan mengenali jenis-jenis sampah mulai organik, anorganik, B3, hingga residu. Bahkan melakukan praktik langsung pemilahan sampah dengan mengelompokkan botol plastik, kertas, kaleng, dan kemasan multilayer sesuai kategori yang benar. Kemudian peserta juga mendapatkan peserta pelatihan budidaya maggot dan budidaya lele untuk mengatasi sampah di pesantren.

Green Jobs dan Sertifikasi Profesi

Program ini tidak hanya berhenti pada edukasi moral, tetapi juga membuka peluang masa depan santri. Pesantren berencana bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk memberikan sertifikat kompetensi pengelolaan sampah kepada santri terpilih. Sertifikat ini dapat digunakan sebagai bekal memasuki dunia kerja di sektor lingkungan atau green jobs. Santri yang berprestasi diharapkan bisa menjadi pelatih bagi angkatan berikutnya, sehingga lahir kader-kader pengelola lingkungan berbasis pesantren yang tersebar di berbagai daerah melalui jaringan alumni Nuris.

Acara Mainstreaming dan Pelatihan Pengelolaan Sampah pada 15–16 November 2025 sebagai langkah nyata menjawab krisis lingkungan. Bekerja sama dengan P3M dan CCEP Indonesia, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi transformasi budaya yaitu membentuk kesadaran ekologis santri berbasis nilai keislaman, sains lingkungan, dan ekonomi sirkular. Pesantren ingin membuktikan bahwa dari ruang tradisi, lahir jawaban atas persoalan modern bernama sampah. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara Nuris Jember, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), serta Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia. Acara dihadiri oleh Syaikhul Ma’had KH. Muhyidin Abdushomad, Pengasuh Pesantren KH. Robit Qosidi dan para ustaz-ustazah pesantren, santri, serta narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember dan para pegiat lingkungan nasional.

Ikrar Bersama

Pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Imam Maliki menjadi pembuka acara. Ayat-ayat  tersebut menyinggung larangan merusak bumi.  Pembacaan ayat ini juga sebagai pengantar teologis bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari perintah agama. Selain itu juga bukan sekadar tren hijau modern. Kegiatan berkahir dengan pembacaan ikrar bersama para santri. Mereka berkomitmen menjaga lingkungan mulai dari diri sendiri dan mulai dari hari itu juga. Para pengasuh menegaskan bahwa gerakan ini merupakan bagian dari jihad ekologis: perjuangan menjaga bumi sebagai amanah dari Allah SWT.

Dalam dunia yang semakin penuh krisis ekologis, langkah pesantren Nurul Islam Jember menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama saja. Akan tetapi pesantren juga laboratorium sosial untuk solusi lingkungan. Sampah yang tak lagi dibuang, melainkan dikelola dengan iman dan ilmu. ( Maman Abdurahman)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.