Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorProfil Pesantren

Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Pesantren Bersejarah di Pesisir Lamongan

249
×

Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Pesantren Bersejarah di Pesisir Lamongan

Sebarkan artikel ini
Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholaba
Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah berdiri sejak 1898 di Kranji Lamongan. Simak sejarah, kepemimpinan, pendidikan, dan perkembangannya.(Foto dok. radarlamongan.jawapos.com)

n P3M.OR.ID. Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah adalah salah satu pesantren tua di Indonesia. Pesantren yang terletak di Desa Kranji, Kecamatan Paciran, Lamongan. Pesantren yang berdiri sejak 1898.

Masyarakat mengenalnya dengan sebutan Pondok Kranji atau TABAH. Letaknya berada di kawasan Pantura Lamongan, sekitar satu kilometer dari Makam Sunan Drajat. Selama lebih dari satu abad, pesantren ini terus menjaga tradisi keilmuan Islam. Pada saat yang sama, lembaga tersebut mengembangkan pendidikan formal dan berbagai program baru.
Perjalanan panjang itu membuat Tarbiyatut Tholabah menarik sebagai gambaran pesantren yang mampu melewati perubahan zaman. Tradisi lama tetap menjadi fondasi, sedangkan inovasi membantu pesantren menjawab kebutuhan masyarakat.

Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Berawal dari Kranji

Sejarah pesantren bermula dari sosok KH Musthofa Abdul Karim. Ia mendirikan pesantren di Kranji pada 1898 atau 1316 Hijriah. Sebelum menetap di Kranji, KH Musthofa memiliki hubungan dengan lingkungan pesantren di Gresik. Ia kemudian memenuhi permintaan masyarakat Kranji untuk membangun pusat pendidikan Islam.
Pada masa awal, masyarakat menyebut lembaga tersebut sebagai Pondok Kranji. KH Musthofa mengajarkan berbagai cabang ilmu agama kepada para santri. Materinya mencakup Al-Qur’an, hadis, tafsir, nahwu, sharaf, balaghah, fikih, tasawuf, dan akhlak. Ia menggunakan pola pengajaran kelompok dalam proses pendidikan santri. Jumlah santri kemudian berkembang secara bertahap. Santri tidak hanya datang dari Kranji, tetapi juga dari berbagai daerah sekitar.

Sepeninggal KH Musthofa, kepemimpinan pesantren berlanjut kepada KH Abdul Karim Musthofa. Setelah itu, KH Adelan Abdul Qodir melanjutkan pengelolaan Pondok Kranji. Estafet kemudian berpindah kepada KH Moh Baqir Adelan. Ia memimpin pesantren mulai 1976 hingga 2006.  KH Baqir Adelan membawa pesantren memasuki fase perkembangan penting. Ia tidak hanya memperkuat pendidikan agama, tetapi juga mengembangkan berbagai kegiatan produktif. Penelitian UIN Sunan Ampel mencatat perhatian KH Baqir terhadap entrepreneurship pesantren. Ia mengembangkan usaha sebagai salah satu penopang operasional lembaga. Salah satu usaha awalnya bergerak pada bidang mebel. Usaha tersebut juga melayani kebutuhan perahu masyarakat nelayan Kranji.Langkah tersebut menunjukkan cara pandang yang cukup progresif pada masanya. Pesantren tidak hanya mengandalkan sumber dana dari donatur. Pesantren juga berusaha membangun kemandirian melalui aktivitas ekonomi. Pola tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Tarbiyatut Tholabah.

Memperluas Pendidikan

Perkembangan pesantren kemudian berjalan bersama pertumbuhan lembaga pendidikan formal. Salah satu tonggak penting muncul pada 1963. KH Moh Baqir Adelan mendirikan Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatut Tholabah pada 1 Agustus 1963. Lembaga tersebut berkembang dalam lingkungan pendidikan pesantren. Pendidikan formal kemudian berkembang ke jenjang lainnya. Jaringan pendidikan mencakup MI, MTs, MA, SMK, dan pendidikan tinggi. Data pemerintah juga mencatat keberadaan MTs dan MA Tarbiyatut Tholabah di Kranji. Kedua lembaga tersebut berada dalam naungan Yayasan Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah.

Perkembangan itu menunjukkan kemampuan pesantren merespons kebutuhan pendidikan masyarakat. Santri kini dapat memperoleh pendidikan agama sekaligus pendidikan formal dalam satu lingkungan. Perubahan zaman mendorong pesantren memperluas orientasi pendidikan. Kemampuan teknologi dan keterampilan praktis mulai mendapat perhatian. Salah satu inovasinya hadir melalui program Prodistik di MA Tarbiyatut Tholabah. Program tersebut bertujuan membekali santri dengan keterampilan teknologi informasi.
Pesantren juga pernah mengembangkan Madrasah Diniyah Formal. Program tersebut mengadaptasi kurikulum dari tradisi pendidikan Islam Mesir dan Suriah. Selain itu, jaringan pendidikan kini mencakup SMK. Data pemerintah mencatat program Teknik Mesin, Teknik Otomotif, Akuntansi, dan Busana.

Kehadiran berbagai program tersebut memperlihatkan arah pendidikan yang semakin beragam. Pesantren tetap mempertahankan pendidikan keagamaan sambil membuka ruang bagi keterampilan modern.

Memasuki Generasi Keenam

Perjalanan kepemimpinan pesantren terus berlanjut hingga generasi sekarang. Kajian akademik yang terbit pada 2025 mencatat enam periode kepemimpinan. KH Musthofa memimpin sejak 1898 hingga 1950. Setelah itu, KH Abdul Karim Musthofa memimpin pada periode berikutnya. kemudia KH Adelan Abdul Qodir kemudian memimpin hingga 1976. KH Moh Baqir Adelan melanjutkan kepemimpinan sampai 2006. KH Moh Nasrullah Baqir kemudian memimpin pesantren sejak 2006. Ia menjalankan kepemimpinan hingga wafat pada 2024 Setelah itu, kepemimpinan beralih kepada KH Moh Sahlul Khuluq Baqir. Kajian 2025 mencatatnya sebagai pengasuh keenam sejak 2024. Situs resmi Yayasan pada Agustus 2026 juga menyebut KH Moh Sahlul Khuluq sebagai Pengasuh PP Tarbiyatut Tholabah.

Kehidupan pesantren tetap berjalan dalam suasana yang dekat dengan tradisi keilmuan. Pengajian kitab dan pembelajaran agama menjadi bagian dari keseharian santri. Namun, pesantren tidak menutup diri terhadap perubahan. Pengembangan pendidikan formal menunjukkan upaya menjaga relevansi lembaga di tengah perkembangan masyarakat.

Lokasi Kranji juga memberi warna tersendiri bagi kehidupan pesantren. Lingkungan Pantura memiliki karakter masyarakat yang kuat dengan tradisi keagamaan dan aktivitas sosial. Kedekatan dengan kawasan Makam Sunan Drajat memperkuat atmosfer sejarah Islam di wilayah tersebut. Pesantren tumbuh dalam lingkungan yang memiliki jejak panjang penyebaran Islam di Lamongan.

Menatap Masa Depan

Perjalanan 128 tahun menunjukkan satu hal penting. Pesantren dapat bertahan ketika mampu merawat identitas sekaligus membaca perubahan. Tarbiyatut Tholabah telah melewati berbagai fase kepemimpinan. Setiap generasi membawa tantangan dan strategi yang berbeda. Kini, jaringan pendidikan pesantren semakin luas. Bahkan, lembaga pendidikan tinggi di bawah yayasan terus berkembang mengikuti tuntutan zaman.

Pada 2026, Universitas Tarbiyatut Tholabah atau UNITABAH menjalankan program pengabdian mahasiswa hingga Malaysia. Kampus tersebut sebelumnya berkembang dari Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah. Perkembangan tersebut memperlihatkan perluasan peran pesantren dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Pesantren juga semakin aktif membangun hubungan dengan masyarakat melalui kegiatan akademik dan pengabdian.

Pada akhirnya, kekuatan Tarbiyatut Tholabah tidak hanya terletak pada usianya. Warisan terpentingnya justru terletak pada kemampuan menjaga tradisi sambil terus beradaptasi. Dari Kranji, perjalanan panjang itu terus berlanjut. Pesantren tua tersebut masih memiliki ruang luas untuk melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.