Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar P3MPilihan Editor

Coaching Clinic Pengolahan Sampah P3M di Arena Muktamar NU ke-35, Dorong Pesantren Kelola Lingkungan

111
×

Coaching Clinic Pengolahan Sampah P3M di Arena Muktamar NU ke-35, Dorong Pesantren Kelola Lingkungan

Sebarkan artikel ini
muktamar
P3M menghadirkan coaching clinic pengolahan sampah. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi komunitas pesantren, para pengunjung Muktamar NU 35

P3M.OR.ID. Persoalan sampah menjadi salah satu tantangan yang semakin dekat dengan kehidupan pesantren. Di tengah pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, P3M menghadirkan coaching clinic pengolahan sampah. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi komunitas pesantren, para pengunjung Muktamar dan masyarakat  untuk memahami pengelolaan sampah secara lebih praktis. Peserta tidak hanya membahas persoalan sampah, tetapi juga mencari cara membangun kebiasaan baru di lingkungan pesantren dan masyarakat.

Suasana Muktamar NU ke-35 membuat kawasan Tambakberas menjadi titik pertemuan berbagai kalangan. Para pengasuh pesantren, santri, pegiat lingkungan, dan masyarakat bertemu dalam berbagai kegiatan. P3M memanfaatkan momentum tersebut untuk mengangkat isu pengelolaan sampah. Coaching clinic pengolahan sampah*memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi mengenai persoalan lingkungan yang mereka hadapi.

Sampah sering muncul sebagai persoalan sederhana, tetapi dampaknya cukup luas. Pengelolaan yang tidak tepat dapat mengganggu kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan lingkungan pesantren. Karena itu, pesantren membutuhkan sistem pengelolaan yang melibatkan seluruh komunitas. Santri, pengelola, pengasuh, dan masyarakat sekitar dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

Coaching Clinic Pengolahan Sampah Dorong Perubahan Kebiasaan

Pengelolaan sampah tidak cukup mengandalkan kegiatan membersihkan lingkungan. Pesantren juga perlu mengurangi sampah sejak dari sumbernya. Peserta coaching clinic belajar mengenali jenis sampah yang muncul dalam aktivitas sehari-hari. Mereka kemudian dapat menentukan cara memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali sampah tersebut. Pendekatan itu membuat pengelolaan sampah tidak berhenti pada persoalan membuang sampah. Peserta juga memahami bahwa sebagian sampah masih memiliki nilai guna dan ekonomi.

Maman Abdurahman, Deputi Pemberdayaan Pesantren P3M,   menilai pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pusat perubahan perilaku masyarakat.  “Pesantren memiliki komunitas yang kuat untuk menggerakkan perubahan. Pengelolaan sampah bisa menjadi gerakan bersama yang dimulai dari kebiasaan sehari-hari,” ujar Maman Abdurahman staff P3M.  Menurutnya, perubahan membutuhkan keterlibatan warga pesantren. Semakin banyak pihak terlibat, semakin besar peluang program berjalan secara konsisten.

Menurutnya Santri memiliki posisi penting dalam membangun budaya bersih di lingkungan pesantren. Mereka menjalani aktivitas setiap hari sehingga dapat menjadi contoh bagi komunitas lainnya. Keterlibatan santri juga membuat edukasi lingkungan terasa lebih dekat. Mereka dapat belajar mengelola sampah sekaligus mengajak teman dan masyarakat sekitar melakukan hal serupa. Dalam konteks ini, coaching clinic memberikan pengetahuan sekaligus ruang praktik. Peserta dapat membicarakan persoalan yang mereka hadapi dan mencari solusi berdasarkan kondisi masing-masing. Selain itu, lanjutnya, P3M juga mendorong pesantren melihat sampah sebagai bagian dari persoalan pengelolaan lingkungan. Dengan sistem yang baik, pesantren dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan.

Coaching Clinic Pengolahan Sampah Bangun Sistem Berkelanjutan

Sementara itu Fitria Ariyani, Manager Program Pengelolaan Sampah P3M,  menekankan pentingnya membangun sistem yang dapat berjalan dalam jangka panjang. Menurutnya, program lingkungan membutuhkan keterlibatan aktif warga pesantren. “Pengolahan sampah tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat sampah. Pesantren perlu membangun sistem yang melibatkan santri dan pengelola,” kata Fitria Ariyani.

Sistem tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana. Pesantren dapat menyediakan tempat pemilahan dan memberikan pemahaman tentang jenis sampah. Selanjutnya, pengelola dapat menentukan mekanisme pengumpulan dan pengolahan. Pesantren juga dapat mengembangkan kerja sama dengan pihak lain yang memiliki keahlian pengelolaan sampah. Dengan pola tersebut, program lingkungan tidak bergantung pada satu atau dua orang. Pesantren dapat membangun mekanisme yang terus berjalan meskipun terjadi pergantian pengurus atau santri.

Pelaksanaan coaching clinic di arena Muktamar NU ke-35 memiliki arti tersendiri. Forum tersebut mempertemukan gagasan lingkungan dengan komunitas pesantren dari berbagai latar belakang. Tambakberas menjadi ruang yang strategis untuk menyebarkan gagasan tersebut. Peserta dapat membawa pengetahuan dari coaching clinic ke pesantren dan komunitas masing-masing. Maman mengatakan, persoalan lingkungan membutuhkan gerakan bersama. Pesantren dapat mengambil peran melalui pendidikan dan keteladanan. “Kalau pesantren mulai membangun budaya memilah dan mengolah sampah, dampaknya bisa meluas ke masyarakat,” ujar Maman. Pandangan tersebut memperlihatkan besarnya potensi pesantren dalam membangun kesadaran lingkungan. Pesantren memiliki jaringan sosial yang kuat dan hubungan langsung dengan masyarakat.

Sampah Bisa Menjadi Sumber Nilai

Pengelolaan sampah juga membuka peluang untuk menciptakan nilai ekonomi. Sampah tertentu dapat dipilah dan dimanfaatkan kembali melalui berbagai kegiatan produktif. Pesantren dapat mengembangkan bank sampah sesuai kemampuan dan kebutuhan. Program tersebut sekaligus mengajarkan santri tentang tanggung jawab lingkungan dan pengelolaan sumber daya. Fitria menilai pendekatan tersebut dapat membuat santri memahami persoalan sampah secara lebih menyeluruh. “Kami ingin pesantren melihat sampah bukan hanya sebagai masalah. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah juga bisa menjadi sumber pembelajaran dan nilai ekonomi,” tutur Fitria. Pendekatan seperti itu membuat edukasi lingkungan semakin relevan. Santri tidak hanya mengetahui dampak sampah, tetapi juga memahami solusi dan manfaat pengelolaannya.

Antusiasme Pengunjung Muktamar dan masyarakat pada Coaching clinic pengolahan sampah di arena Muktamar NU ke-35 ini menunjukkan bahwa isu lingkungan memiliki tempat penting dalam pengembangan pesantren. Kebersihan lingkungan tidak lagi sekadar menjadi urusan teknis. Pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter dan pemberdayaan masyarakat. Pesantren dapat mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, gotong royong, dan kepedulian melalui program lingkungan.

Dari Tambakberas, pesan tersebut dapat berkembang ke berbagai pesantren lainnya. Perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. Karena itu, coaching clinic bukan sekadar forum berbagi pengetahuan. Kegiatan tersebut menjadi pintu masuk untuk membangun gerakan pengelolaan sampah yang lebih terencana, partisipatif, dan berkelanjutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.