P3M.OR.ID. Profil Pesantren Tunanetra Raudlatul Makfufin menunjukkan bahwa keterbatasan penglihatan tidak pernah menjadi penghalang untuk menuntut ilmu agama. Lembaga pendidikan yang berdiri di Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, ini menjadi pelopor pesantren khusus tunanetra di Indonesia sekaligus menghadirkan pendidikan Islam yang inklusif sejak lebih dari empat dekade lalu.
Suasana belajar di pesantren ini menghadirkan pengalaman yang berbeda. Seusai shalat berjamaah, para santri melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an sambil meraba titik-titik Braille dengan ujung jari mereka. Aktivitas itu berlangsung tenang, khusyuk, dan penuh semangat belajar. Di balik setiap lembar Al-Qur’an Braille, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan menghadirkan kesetaraan pendidikan bagi penyandang disabilitas netra. Pesantren ini membuktikan bahwa akses pendidikan agama dapat dibangun melalui inovasi, dedikasi, dan kepedulian sosial.
Berawal dari Kepedulian Seorang Dai
Profil Pesantren Tunanetra Raudlatul Makfufin tidak dapat dipisahkan dari sosok almarhum RM Halim Sholeh. Dai tunanetra tersebut mendirikan lembaga ini pada 1983 setelah melihat minimnya akses pendidikan Islam bagi penyandang disabilitas netra. Perjalanan pesantren bermula dari pengajian rutin mingguan yang diikuti sejumlah penyandang tunanetra. Kegiatan sederhana itu kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan yang terus melayani masyarakat hingga sekarang.
Adapun nama Raudlatul Makfufin memiliki arti Taman Tunanetra. Filosofi tersebut menggambarkan harapan agar setiap penyandang disabilitas netra memperoleh ruang yang sama untuk tumbuh melalui pendidikan. Seiring waktu, pesantren berkembang menjadi lembaga pendidikan formal dan nonformal. Kini, Raudlatul Makfufin menyelenggarakan pendidikan mulai tingkat SD, SMP, SMA, hingga Majelis Taklim. Perjalanan panjang tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan inklusif lahir dari kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat. Semangat itu terus menjadi fondasi utama pesantren hingga saat ini.
Guru dan Santri Sama-Sama Menunjukkan Semangat Kemandirian
Salah satu keunikan dalam Pesantren ini terlihat dari komposisi tenaga pendidiknya. Sebagian besar guru di lembaga ini juga merupakan penyandang tunanetra. Model pendidikan tersebut menciptakan lingkungan belajar yang saling memahami kebutuhan peserta didik. Guru tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga membagikan pengalaman hidup kepada para santri. Guru Raudlatul Makfufin, Vimall Fitri, menjelaskan bahwa mayoritas warga sekolah merupakan difabel netra. “Di sini, seluruh siswa tunanetra, sebagian besar guru juga tunanetra, walaupun ada yang enggak seperti saya. Bahkan kepala sekolahnya juga tunanetra,” ujar Vimall Fitri melansir laman NU Online. Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas mampu berperan sebagai pendidik, pemimpin, sekaligus inspirasi bagi generasi berikutnya.
Peran Raudlatul Makfufin tidak berhenti pada penyelenggaraan pendidikan. Pesantren ini juga menjadi pelopor pengembangan literasi Al-Qur’an Braille di Indonesia. Pada 1996, RM Halim Sholeh menggagas digitalisasi Al-Qur’an Braille. Gagasan tersebut menjadi langkah besar dalam memperluas akses kitab suci bagi penyandang tunanetra. Setelah melalui berbagai tahapan, pencetakan massal Al-Qur’an Braille sejak tahun 2000. Sejak saat itu, distribusi mushaf Braille terus berkembang ke berbagai daerah di Indonesia.
Bahkan, hasil produksi Raudlatul Makfufin telah menjangkau sejumlah negara seperti Turki, Thailand, hingga Afrika Selatan. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa karya dari pesantren ini memberi manfaat bagi komunitas difabel netra di tingkat internasional.
Literasi Braille Membuka Kesempatan Belajar Lebih Luas
Selain mencetak Al-Qur’an Braille, Raudlatul Makfufin menyusun buku Pandai Membaca Al-Qur’an Braille. Buku adalah sebagai panduan praktis bagi penyandang tunanetra yang ingin belajar membaca huruf Arab Braille.Metode pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan sensorik peserta didik. Pendekatan itu membantu santri memahami bacaan Al-Qur’an secara bertahap. Komitmen literasi kemudian berkembang ke bidang yang lebih luas. Yayasan Raudlatul Makfufin menjalin kerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk mengalihaksarakan berbagai buku umum ke dalam format Braille.
Kolaborasi tersebut memperluas akses informasi bagi penyandang tunanetra. Mereka tidak hanya memperoleh bahan bacaan agama, tetapi juga buku pengetahuan, pendidikan, dan literatur umum. Perpusnas selama beberapa tahun memang aktif mengembangkan layanan perpustakaan inklusif melalui koleksi Braille dan buku audio. Program tersebut bertujuan memperluas hak masyarakat terhadap informasi tanpa memandang kondisi fisik. Keberadaan Raudlatul Makfufin menunjukkan bahwa pesantren mampu menjadi pelopor pendidikan inklusif di Indonesia. Lembaga ini menghadirkan lingkungan belajar yang menghargai kemampuan setiap individu.
Kemudian spara santri juga memperoleh pendidikan agama, pendidikan formal, serta keterampilan hidup dalam suasana yang mendukung kemandirian. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa keterbatasan penglihatan tidak membatasi masa depan. Moto pesantren, “Tiada Mata Tak Hilang Cahaya”, mencerminkan semangat tersebut. Cahaya ilmu tetap dapat diraih melalui ketekunan, kesabaran, dan kesempatan belajar yang setara.Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pendidikan inklusif, pesantren ini menjadi contoh nyata bagaimana lembaga keagamaan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Pesantren ini tidak hanya mencetak santri yang memahami ilmu agama, tetapi juga memperjuangkan kesetaraan akses pendidikan bagi seluruh penyandang disabilitas netra.
s.













