Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorProfil Pesantren

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Pesantren yang Melahirkan Tokoh Bangsa

763
×

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Pesantren yang Melahirkan Tokoh Bangsa

Sebarkan artikel ini
pesantren
Mengenal sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, pesantren berusia hampir dua abad yang melahirkan ulama dan tokoh bangsa.

Bahrul Ulum, Warisan Keilmuan Islam yang Tumbuh dari Perjuangan Melawan Kolonialisme

P3M.OR.ID. Di tengah Kabupaten Jombang, Jawa Timur, berdiri salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Indonesia, yaitu Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Lembaga pendidikan Islam yang berdiri sejak 1838 ini tidak hanya menjadi pusat pembelajaran ilmu agama, tetapi juga melahirkan banyak ulama, intelektual, hingga pemimpin nasional.

Nama Bahrul Ulum yang berarti “Lautan Ilmu” bukan sekadar simbol. Selama hampir dua abad, pesantren ini terus berkembang menjadi salah satu pusat transmisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan pesantren di Indonesia. Keberadaan Bahrul Ulum juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan sejarah Nahdlatul Ulama (NU). Salah satu tokoh besarnya, K.H. Abdul Wahab Hasbullah, tercatat sebagai pendiri NU sekaligus salah satu ulama yang berperan penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Kini Pondok Pesantren Bahrul Ulum berada di Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang.

Sejarah Bahrul Ulum tidak dapat terpisahkan dari perjuangan K.H. Abdus Salam, atau yang lebih masyhur dengans sebutan Mbah Soihah. Setelah Perang Jawa pimpinanPangeran Diponegoro berakhir pada 1830, banyak pejuang memilih meninggalkan daerah asal untuk menghindari pengejaran tentara kolonial Belanda. Salah satunya ialah K.H. Abdus Salam yang kemudian menetap di kawasan Tambakberas.

Pondok Selawe

Saat itu wilayah Tambakberas masih berupa hutan lebat. Kawasan tersebut terkenal angker dan banyak binatang liar. Bersama sekitar 25 pengikutnya, K.H. Abdus Salam mulai membuka lahan dan membangun surau, langgar, serta pondok sederhana. Dari sinilah lahir sebuah lembaga pendidikan Islam yang mula-mula dikenal sebagai Pondok Selawe, yang berarti “dua puluh lima”, sesuai jumlah pengikut pertama yang mendampinginya.Selain dikenal sebagai ulama pejuang, K.H. Abdus Salam juga disebut dalam silsilah keluarga sebagai keturunan Raja Brawijaya melalui garis Pangeran Benowo dan Jaka Tingkir.

Memasuki usia senja, K.H. Abdus Salam menyerahkan kepemimpinan kepada dua menantunya yang juga merupakan santri terbaiknya, yakni Kiai Utsman dan Kiai Sa’id. Keduanya kemudian mengembangkan pesantren di lokasi berbeda agar mampu menampung jumlah santri yang terus bertambah. Kiai Utsman mendirikan pondok di Dusun Gedang, sebelah timur sungai pesantren. Ia memusatkan pendidikan pada bidang tasawuf dan tarekat. Sementara itu, Kiai Sa’id mengembangkan pesantren di sebelah barat sungai. Ia lebih menitikberatkan pembelajaran fikih, syariat, dan ilmu-ilmu keislaman klasik.Pembagian fokus pendidikan tersebut menunjukkan bahwa sejak awal Bahrul Ulum telah memberikan ruang bagi beragam disiplin ilmu keislaman tanpa menghilangkan karakter pesantren salaf.

Perjalanan Panjang

Dalam perjalanan panjangnya pesantren juga mengalami perubahan. Pada masa kepemimpinan K.H. Hasbullah, putra Kiai Sa’id, nama Pondok Selawe berubah menjadi Pondok Pesantren Tambakberas sesuai lokasi berdirinya pesantren. Perubahan terbesar terjadi ketika kepemimpinan beralih kepada K.H. Abdul Wahab Hasbullah pada 1965.
Kala itu, beliau meminta empat santri, yakni Ahmad Junaid, Masrur Dimyati, Abdullah Yazid Sulaiman, dan Syamsul Huda, untuk mengusulkan nama baru bagi pesantren. Mereka mengajukan tiga pilihan, yaitu Bahrul Ulum, Darul Hikmah, dan Mambaul Ulum. Setelah melaksanakan salat istikharah, K.H. Abdul Wahab Hasbullah memilih nama Bahrul Ulum yang bermakna “Lautan Ilmu”.

Nama tersebut menjadi doa agar pesantren mampu menjadi pusat keilmuan bagi siapa pun yang menuntut ilmu agama. Perubahan nama tersebut berdampak pada penyusunan identitas baru berupa lambang pesantren. K.H. Abdul Wahab Hasbullah mengadakan sayembara desain logo dengan pemenang bernama Abdullah Yazid. Beliau kemudian meminta agar lambang tersebut memuat penggalan ayat Surah Al-Kahfi ayat 109, yang menggambarkan keluasan ilmu Allah. Sebelum peresmian logo, K.H. Abdul Wahab juga memerintahkan santri bernama Djamaluddin Ahmad membacakan manaqib sebagai bagian dari rangkaian doa.

Terus Menjaga Identitas

Sejak 1967, nama Bahrul Ulum beserta lambangnya resmi digunakan dan tetap menjadi identitas pesantren hingga sekarang. Transformasi besar kembali berlangsung pada 1987. Sejak saat itu, sistem kepemimpinan pesantren tidak lagi bertumpu pada satu orang pengasuh, melainkan dijalankan secara kolektif melalui Dewan Pengasuh. Kepemimpinan pertama model tersebut dipimpin K.H. M. Sholeh Abdul Hamid. Pada saat bersamaan, para kiai juga membentuk Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum sebagai badan hukum yang mengelola berbagai unit pendidikan. Model kepemimpinan kolektif memungkinkan pesantren berkembang lebih cepat tanpa meninggalkan tradisi musyawarah yang menjadi ciri khas pesantren.
Melahirkan Ulama, Intelektual, hingga Presiden Republik Indonesia

Perkembangan Bahrul Ulum semakin pesat pada masa kepemimpinan K.H. M. Sholeh Abdul Hamid. Jumlah santri terus meningkat dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, banyak santri berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam, hingga negara Asia Tenggara lainnya. Salah satu alumninya yang paling dikenal ialah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden keempat Republik Indonesia sekaligus tokoh pluralisme Indonesia. Selain Gus Dur, Bahrul Ulum juga melahirkan banyak ulama, akademisi, birokrat, politisi, serta pemimpin organisasi kemasyarakatan Islam.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa sistem pendidikan pesantren mampu mencetak sumber daya manusia yang berkiprah di berbagai bidang kehidupan. Keseimbangan antara pelestarian tradisi dan inovasi pendidikan menjadi salah satu alasan Bahrul Ulum tetap dipercaya masyarakat hingga kini. Dengan usia yang mendekati dua abad, Bahrul Ulum bukan hanya menjadi bagian penting dari sejarah pesantren di Indonesia, tetapi juga menjadi simbol kesinambungan tradisi keilmuan Islam yang terus hidup, berkembang, dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.