P3M.OR.ID. Di pesisir selatan Kebumen sebuah lembaga pendidikan Islam yang telah melewati perjalanan panjang hampir dua abad. Pondok Pesantren Miftahul Ulum Lirap di Dukuh Lirap, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, terus mempertahankan tradisi keilmuan yang telah ada sejak akhir abad ke-19. Pesantren ini tidak terkenal karena kemegahan bangunan atau jumlah cabangnya, namn Lirap justru masyhur karena konsistensinya menjaga kajian ilmu alat, khususnya nahwu dan shorof, yang menjadi fondasi memahami literatur Islam klasik.
Sejarah Pondok Pesantren Lirap bermula dari sosok KH Ibrahim Nuruddin. Ulama asal Maesan Brosot, Kulon Progo, itu lahir pada masa Perang Diponegoro. Sejak muda, ia menempuh perjalanan panjang dalam menuntut ilmu agama. KH Ibrahim menghabiskan waktu selama 37 tahun di Makkah untuk memperdalam berbagai disiplin ilmu Islam. Setelah kembali ke Nusantara, ia menghadapi situasi baru yang berkembang di Jazirah Arab setelah perubahan kekuasaan di bawah Ibnu Saud.
Sekembalinya ke tanah air, KH Ibrahim menikah dengan Nyai Siti Maemunah, putri KH Zainuddin Jetis Kebumen. Ia kemudian menerima amanah dakwah di wilayah Lirap yang saat itu kesohor memiliki tingkat kriminalitas tinggi dan menjadi lokasi aktivitas zending. Pada rentang 1887 hingga 1891, KH Ibrahim mulai membangun pengajian sederhana. Ia mengedepankan pendekatan sosial dan dakwah yang persuasif. Perlahan masyarakat menerima kehadirannya. Dari pengajian sederhana itulah Pondok Pesantren Miftahul Ulum Lirap tumbuh dan berkembang.
Estafet Kepemimpinan yang Penuh Tantangan
Pondok Pesantren Lirap memiliki sejarah panjang yang berawal dari perjuangan seorang ulama kharismatik, KH. Ibrahim Nuruddin. Beliau berasal dari Maesan, Brosot, Kulon Progo, dan menghabiskan sekitar 30 tahun menuntut ilmu di Makkah. Dalam masa belajarnya di Tanah Suci, beliau bertemu dengan KH. Abdurrahman, pendiri Pesantren Al-Huda Jetis, Kebumen. Pertemuan tersebut menjadi awal hubungan yang lebih erat ketika KH. Abdurrahman menikahkan putrinya, Nyai Siti Maimunah, dengan KH. Ibrahim Nuruddin. Setelah menetap beberapa waktu di Jetis, KH. Ibrahim kemudian pindah ke wilayah Lirap atas arahan mertuanya dan mulai merintis pesantren di lahan seluas sekitar 300 ubin.
Kehadiran KH. Ibrahim Nuruddin di Lirap mendapat sambutan positif dari masyarakat. Dalam waktu dua tahun, para santri mulai berdatangan untuk menimba ilmu agama. Mereka membangun tempat tinggal sederhana secara mandiri menggunakan kayu dan atap rumbia. Sarana ibadah yang kini dikenal sebagai Masjid Baitul Hamid pun awalnya hanya berupa mushala panggung sederhana. Sejak tahun 1887, KH. Ibrahim mengasuh pesantren tersebut hingga wafat pada tahun 1931. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh putranya, KH. Lukman Hakim, yang mengelola pesantren hingga tahun 1950. Masa ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan Pesantren Lirap sebagai salah satu pusat pendidikan Islam di Kebumen.
Setelah sempat mengalami masa vakum selama beberapa bulan akibat kondisi pasca-perang kemerdekaan dan berbagai tantangan sosial saat itu, Pesantren Lirap kembali bangkit di bawah kepemimpinan KH. Durmuji Ibrahim pada tahun 1950. Beliau melakukan berbagai pembenahan, mulai dari pembangunan fasilitas pesantren, penguatan administrasi, hingga penyempurnaan sistem pendidikan. Fokus utama beliau adalah pengajaran ilmu Nahwu dan Shorof melalui berbagai kitab klasik yang menjadi ciri khas pesantren. Berkat ketekunan dan metode pengajarannya, Pesantren Lirap dikenal melahirkan santri yang kuat dalam penguasaan ilmu bahasa Arab. Tidak hanya menarik santri dari berbagai daerah di Indonesia, pesantren ini juga menjadi tujuan belajar bagi santri dari mancanegara. Hingga wafat pada tahun 1990, KH. Durmuji Ibrahim meninggalkan warisan besar yang terus menjadi bagian penting dalam perjalanan Pesantren Lirap hingga sekarang.
Membangun Tradisi Ilmu Alat yang Kuat
Nama Miftahul Ulum berarti “kunci ilmu”. Nama tersebut mencerminkan orientasi utama pendidikan di pesantren ini, yaitu penguasaan ilmu nahwu dan shorof. Berbeda dengan banyak pesantren yang mengembangkan berbagai cabang keilmuan secara seimbang, Lirap memilih fokus mendalami ilmu alat. Santri tidak hanya mempelajari cara membaca kitab kuning. Mereka juga harus memahami struktur bahasa Arab secara mendalam.
Para santri mengurai i’rab, menghafal kaidah, mempelajari perubahan bentuk kata, serta mengulang pelajaran secara intensif. Di lingkungan Lirap, hafalan tidak sekadar menjadi tahap awal pembelajaran. Hafalan menjadi bagian dari cara berpikir dan memahami ilmu. Kitab-kitab seperti Jurumiyah, Imrithi, Alfiyah, Maqsud, dan Izzi menjadi rujukan utama dalam proses pembelajaran. Karena konsistensinya, pesantren ini kemnudian terkenal luas sebagai pusat pembelajaran nahwu dan shorof. Banyak kalangan bahkan menyebutnya sebagai Asrama Pesantren Shorof Nahwu (APSN).Pesantren tetap mempertahankan metode pembelajaran tradisional seperti sorogan, takror, dan tasrifan. Metode itu menekankan pengulangan, hafalan, serta praktik langsung dalam memahami bahasa Arab.













