Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar P3MPilihan Editor

P3M Rayakan Harlah ke-43 dengan Seruan Aksi Pengelolaan Sampah: Saatnya Jakarta Bergerak dari Sumbernya

200
×

P3M Rayakan Harlah ke-43 dengan Seruan Aksi Pengelolaan Sampah: Saatnya Jakarta Bergerak dari Sumbernya

Sebarkan artikel ini
harlah
P3M merayakan Hari Lahir (Harlah) ke-43 dengan mengangkat tema besar pengelolaan sampah yang menjadi persoalan mendesak di Ibu Kota. Acara yang dilaksanakan pada Senin 18 Mei 2026 di Kantor P3M itu bertajuk “Darurat Sampah Jakarta: Saatnya Berhenti Buang, Mulai Bertanggung Jawab dari Sumbernya”

P3M.OR.ID.   P3M merayakan Hari Lahir (Harlah) ke-43 dengan mengangkat tema besar pengelolaan sampah yang menjadi persoalan mendesak di Ibu Kota. Acara yang dilaksanakan pada Senin 18 Mei 2026 di Kantor P3M itu bertajuk “Darurat Sampah Jakarta: Saatnya Berhenti Buang, Mulai Bertanggung Jawab dari Sumbernya” ini berlangsung meriah, dihadiri para akademisi, tokoh pesantren, pemerintah daerah, komunitas lingkungan, dan berbagai organisasi masyarakat. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi dan konsolidasi bagi P3M untuk memperkuat peran pemberdayaan masyarakat, terutama dalam isu sampah yang semakin kritis.

Direktur P3M KH. Sarmidi Husna membuka acara dengan menyampaikan rasa syukur karena peringatan Harlah tetap terlaksana meski harus menyesuaikan waktu akibat hari libur nasional. Ia menjelaskan bahwa P3M yang berdiri pada 17 Mei kini memasuki usia 43 tahun, sebuah usia yang melambangkan kematangan organisasi. Namun ia menegaskan bahwa tantangan pemberdayaan masyarakat saat ini semakin kompleks, terutama setelah perubahan pola pendanaan lembaga masyarakat sipil yang membuat banyak organisasi mengalami kesulitan.
KH. Sarmidi Husna kemudian menegaskan bahwa inovasi menjadi kunci keberlanjutan organisasi. Ia menyoroti salah satu langkah strategis P3M dalam beberapa tahun terakhir, yakni pendampingan pengelolaan sampah di pesantren. “Program yang baik adalah program yang benar-benar lahir dari kebutuhan masyarakat. Di pesantren, kebutuhan mendesak yang kami lihat adalah persoalan sampah, karena itu selama dua tahun terakhir P3M mendampingi sekitar 15 pesantren agar mampu mengelola sampah secara lebih efektif dan berkelanjutan,” ujar KH. Sarmidi.

Menurutnya, beberapa pesantren sebelumnya harus mengeluarkan biaya sangat besar hanya untuk membuang sampah ke tempat pengangkutan. Melalui pendampingan, pemilahan, hingga pengolahan sampah organik dan anorganik, biaya tersebut dapat ditekan secara signifikan bahkan berubah menjadi pendapatan. Ia menekankan bahwa proses pendampingan harus berjalan berkelanjutan karena banyak pesantren masih membutuhkan arahan teknis yang intensif.

Belajar Dari Masyarakat

Dalam bagian lain, P3M menyampaikan keinginan untuk belajar dari pengalaman masyarakat Jakarta Timur dalam mengelola sampah berbasis RT. Inisiatif warga yang berhasil mengurangi sampah dari sumbernya telah mendapat perhatian internasional dan mendapat penilaoian layak untuk mereplikasinya lebih luas. KH Sarmidi memandang pembelajaran dari model tersebut sangat penting karena akar persoalan sampah ada di level rumah tangga dan komunitas.

Pandangan senada muncul dari pihak Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta yang hadir melalui pemaparan Suparti. Ia menjelaskan dasar lahirnya Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur kewajiban pemilahan sampah di Jakarta, khususnya setelah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang memasuki fase kritis. “Kunci pengurangan sampah di Jakarta adalah pemilahan sejak dari rumah. Sampah harus tepisah menjadi organik, anorganik, dan residu, karena pengurangan volume sampah hanya berhasil kalau mulai dari sumbernya,” jelas Suparti.

Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah mendorong setiap kelurahan membangun fasilitas pengolahan sampah seperti komposter, bank sampah, dan sarana lainnya. Pemerintah mengapresiasi berbagai komunitas yang lebih dulu bergerak, karena keberhasilan pengelolaan sampah tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan aktif masyarakat dan sektor swasta.
Komunitas lingkungan yang hadir dalam acara tersebut juga membagikan praktik baik. Taufiq Supriadi, Community Development Expert dan juga Ketua RT 08 Malaka Jaya Duren Sawit, memaparkan bahwa perubahan pola pengelolaan lingkungan memulainya dapat dari skala paling kecil seperti lorong atau RT, sebagaimana dilakukan komunitasnya yang kini mendapat perhatian internasional.

Implementasi

Sementara itu, Deputi Pemberdayaan P3M, Maman Abdurrahman, memberikan gambaran teknis mengenai implementasi program di pesantren. Ia menyampaikan bahwa pendampingan berjalan di 15 pesantren dalam tingkat kesiapan berbeda. “P3M sudah menjalankan program pengelolaan sampah di sekitar 15 pesantren. Sepuluh pesantren sudah aktif menjalankan sistem ini, sementara lima lainnya masih dalam proses pendampingan. Tujuannya adalah membangun sistem pengelolaan sampah pesantren yang terstruktur, berkelanjutan, dan melibatkan santri secara langsung,” ujar Maman. Ia menambahkan bahwa pemetaan awal menunjukkan banyak pesantren belum memilah sampah dari sumbernya, sehingga P3M fokus memberikan pelatihan teknis, pendampingan, hingga penyediaan sarana seperti alat pengolahan, rumah sampah, dan fasilitas pendukung lainnya.

Peringatan Harlah P3M ke-43 akhirnya menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi pemerintah, pesantren, komunitas, dan masyarakat dalam menghadapi krisis sampah Jakarta. Melalui kolaborasi tersebut, P3M berharap upaya pengurangan sampah dari sumbernya dapat berjalan lebih masif dan berkelanjutan, sekaligus menciptakan budaya baru bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.