Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorProfil Pesantren

Pesantren Sunan Pandanaran, Dari Pesantren Tahfidz hingga Jadi Pusat Pendidikan Islam Modern

540
×

Pesantren Sunan Pandanaran, Dari Pesantren Tahfidz hingga Jadi Pusat Pendidikan Islam Modern

Sebarkan artikel ini
profil
Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta yang didirikan KH Mufid Mas’ud sebagai pusat tahfidz Al-Qur’an dan pendidikan Islam.

P3M.OR.ID. Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta menjadi salah satu pesantren besar yang berkembang pesat di Indonesia. Pesantren ini dikenal sebagai pusat pendidikan tahfidz Al-Qur’an yang tetap mempertahankan tradisi salaf, namun mampu mengikuti perkembangan zaman. Berdirinya pesantren tersebut tidak lepas dari perjuangan KH Mufid Mas’ud bersama sang istri, Hj. Jauharoh, putri pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, KH Munawwir.

Pondok Pesantren Sunan Pandanaran atau PPSPA resmi berdiri pada 17 Dzulhijjah 1395 Hijriah. Tanggal itu bertepatan dengan 20 Desember 1975 Masehi. Sejak awal, pesantren ini hadir sebagai media dakwah Islam sekaligus pusat pendidikan tahfidz Al-Qur’an di wilayah Sleman, Yogyakarta.KH Mufid Mas’ud dikenal sebagai ulama ahli tahfidz Al-Qur’an. Pengalaman panjang beliau di dunia pesantren membentuk karakter PPSPA sebagai pesantren yang fokus pada pengajaran dan hafalan Al-Qur’an. Sistem pendidikan awal pesantren juga dibuat khusus untuk mendukung para santri penghafal Al-Qur’an. PPSPA membagi tingkatan khataman menjadi tiga level. Tingkatan pertama ialah khataman Juz Amma atau hafalan Juz 30. Kemudian tingkatan kedua ialah khataman bi al-nadhar. Tingkatan itu mencakup hafalan Juz 30, Surat Al-Kahfi, Surat Yasin, dan surat pendek lainnya. sedangkan tingkatan tertinggi ialah khataman bi al-ghaib, yaitu hafalan penuh dari Juz 1 sampai Juz 30.

Berawal dari Krapyak

Sejarah Pondok Pesantren Sunan Pandanaran memiliki hubungan erat dengan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Sebelum mendirikan PPSPA, KH Mufid Mas’ud merupakan pengasuh Pondok Putri Al-Munawwir Krapyak. Pada Oktober 1975, KH Mufid Mas’ud hijrah bersama keluarga dari Krapyak menuju Desa Candi, Sleman. Di lokasi itu, beliau menempati tanah wakaf seluas 2.000 meter persegi dari H. Masduqi Abdullah. Tanah tersebut berada sekitar 200 meter dari Jalan Raya Yogyakarta-Kaliurang Km 12,5. Dua bulan setelah kepindahan itu, KH Mufid mulai mendirikan pesantren sederhana. Bangunan awal PPSPA hanya berupa masjid kecil dan rumah sederhana di atas tanah wakaf tersebut. Meski sederhana, pesantren itu perlahan berkembang dan menarik banyak santri dari berbagai daerah.

Nama “Sunan Pandanaran” dipilih untuk menghormati jasa Sunan Pandanaran atau Sunan Tembayat. Tokoh tersebut merupakan leluhur KH Mufid Mas’ud yang dikenal aktif menyebarkan Islam di wilayah Tembayat, Klaten.Penggunaan nama itu juga menjadi bentuk harapan agar pesantren mampu meneladani perjuangan Sunan Pandanaran dalam berdakwah hingga pelosok desa.
“Penggunaan nama Sunan Pandanaran sebagai nama Pondok Pesantren ini juga mempunyai tujuan untuk bertafa’ul, berusaha untuk meniru, dan mengikuti kegigihan, serta mewarisi semangat Sunan Pandanaran dalam menjalankan misi Islam sampai ke pelosok pedesaan,” demikian sejarah yang tercatat dalam perjalanan PPSPA.

 Restu Ulama

Latar belakang berdirinya PPSPA berasal dari kesadaran pentingnya dakwah Islamiah dan kebutuhan kader muballigh Ahlussunnah wal Jama’ah. Pesantren ini juga lahir dari semangat perjuangan warga Nahdliyin dalam menghadapi perkembangan zaman. Ada beberapa faktor penting yang mendorong berdirinya pesantren tersebut. Pertama, niat tulus KH Mufid Mas’ud untuk berdakwah demi kejayaan Islam dan umat Muslim. Kedua, adanya permintaan langsung dari KH Jamhari dan KH Masduqi Abdullah agar KH Mufid mendirikan pesantren di atas tanah wakaf keluarga mereka. Ketiga, dukungan penuh dari keluarga besar Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, khususnya KH Ali Ma’shum. Dukungan itu membuat KH Mufid semakin mantap membangun pesantren baru di Sleman. Keempat, berdirinya PPSPA mendapat restu banyak ulama besar Indonesia. Beberapa di antaranya ialah KH Abdul Hamid Pasuruan, Habib Muhammad Ba’abud Lawang Malang, KH Ali Ma’shum Krapyak, serta KH Muntaha Wonosobo.

Pada masa awal berdiri, PPSPA menerapkan model pesantren salaf dengan fokus utama tahfidz Al-Qur’an. Mayoritas santri datang khusus untuk menghafal Al-Qur’an dan mendalami ilmu agama. Meski begitu, KH Mufid terkenal sebagai sosok ulama NU yang terbuka terhadap perkembangan zaman. Sikap itu membuat PPSPA mampu berkembang menjadi pesantren besar dengan sistem pendidikan yang lebih luas. Pesantren tetap mempertahankan tradisi salaf melalui program tahfidz dan kajian kitab kuning. Namun, PPSPA juga membuka pendidikan formal dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Lembaga formal di bawah PPSPA meliputi RA Sunan Pandanaran, MI Sunan Pandanaran, MTs Sunan Pandanaran, MA Sunan Pandanaran, hingga Institut Studi Al-Qur’an dan Ilmu Keislaman atau ISQI. bMadrasah tersebut memadukan kurikulum pemerintah dengan pendidikan khas pesantren. Para santri belajar ilmu umum sekaligus memperdalam kitab kuning dan ilmu Al-Qur’an. MASPA juga membuka tiga jurusan utama, yaitu IPA, IPS, dan Keagamaan. Sistem itu bertujuan mencetak generasi Islam yang memiliki keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern.

Program Tahfidz dan Pesantren Mahasiswa

PPSPA tetap mempertahankan program unggulan tahfidz Al-Qur’an. Program itu bertujuan mencetak penghafal sekaligus pengamal Al-Qur’an. Selain hafalan, para santri mempelajari tajwid, tafsir, ta’wil, dan ilmu penunjang lainnya. Metode pembelajaran adalah melalui pendekatan personal dan sistem evaluasi berkala. Adapun kitab-kitabnya berasal dari kitab mu’tabar. Beberapa kitab yang  santri pelajari antara lain Ihya’ Ulumuddin, Shahih Bukhari-Muslim, dan Tafsir Jalalain. PPSPA juga menyediakan pesantren mahasiswa dan pesantren mandiri. Program itu membantu santri dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa belajar di pesantren.Kini, Pondok Pesantren Sunan Pandanaran berkembang menjadi salah satu pesantren besar di Yogyakarta. Pesantren ini tetap menjaga tradisi tahfidz Al-Qur’an sambil membuka diri terhadap perkembangan pendidikan modern.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.