Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorProfil Pesantren

Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, Pusat Pendidikan Besar di Utara Jawa

817
×

Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, Pusat Pendidikan Besar di Utara Jawa

Sebarkan artikel ini
profil pesantren
Pesantren Futuhiyyah, Mranggen

Awalnya, pesantren hanya berupa surau sederhana. Bangunan tersebut adalah tempat untuk ibadah dan kegiatan belajar. Materi pengajian meliputi Al-Qur’an, fashalatan, dan kitab makna gandul. Selain itu, santri juga mempelajari tasawuf.

P3M.OR.ID. Pondok Pesantren Futuhiyyah merupakan salah satu pesantren bersejarah di Kabupaten Demak. Pesantren ini berdiri sejak awal abad ke-20. Pendiri pesantren adalah KH Abdurrahman bin Qasidil Haq sekitar tahun 1901 M. Data pendirian pesantren belum tercatat secara pasti. Namun, masyarakat meyakini pesantren sudah berdiri saat terjadi hujan abu Gunung Kelud. Pada masa awal, jumlah santri masih sedikit. Mereka berasal dari wilayah Mranggen dan sekitarnya. Para santri datang pada malam hari untuk mengaji. Mereka pulang pada pagi hari untuk bekerja. Model ini populer dengan sebutan santri kalong.

Awalnya, pesantren hanya berupa surau sederhana. Bangunan itu adalah untuk ibadah dan kegiatan belajar. Materi pengajaran meliputi Al-Qur’an, fashalatan, dan kitab makna gandul. Selain itu, santri juga mempelajari maulid dan tasawuf. Praktik dzikir menggunakan Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah juga mengajarkannya sejak awal . Kepemimpinan KH Abdurrahman berlangsung hingga tahun 1942. Setelah beliau wafat, kepemimpinan beralih kepada putra sulungnya, KH Utsman. Pada masa ini, pesantren mulai mengembangkan pendidikan formal. KH Utsman mendirikan Madrasah Diniyyah Awaliyyah. Langkah ini beriringan dengan perkembangan organisasi Nahdlatul Ulama.

Nama Futhuhiyah

Kesibukan KH Utsman di organisasi membuat pengelolaan pesantren beralih kepada adiknya, Kiai Muslih Abdurrahman. Beliau mengelola pesantren selama dua tahun. Setelah itu, beliau kembali menuntut ilmu ke Pondok Termas.Pengelolaan pesantren kemudian beralih kepada Kiai Murodi. Namun, pada tahun 1936, KH Muslih kembali memimpin pesantren. Pada masa kepemimpinan kedua ini, pesantren berkembang pesat. Jumlah santri meningkat signifikan. Bangunan kamar mulai didirikan. Surau lama kemudian berubah menjadi masjid. Pada masa awal, pesantren terkenal sebagai Pondok Suburan. Nama Futuhiyyah muncul sekitar tahun 1927 atas usulan KH Muslih. Sejak saat itu, pesantren populer dengan nama Futuhiyyah.

Perkembangan pendidikan sempat terhambat saat masa penjajahan Jepang. Kondisi semakin sulit saat perang kemerdekaan. Santri kecil harus mengungsi ke beberapa daerah. Santri dewasa ikut berjuang bersama laskar Sabilillah dan Hizbullah. Pesantren bahkan menjadi basis perjuangan di wilayah Semarang Tenggara. Setelah masa perang berakhir, kegiatan belajar kembali berjalan normal. KH Muslih mengembangkan madrasah secara intensif. Ia mendirikan berbagai lembaga pendidikan. Di antaranya Madrasah Aliyah Diniyyah, MI, dan MWB. Ia juga mendirikan lembaga pendidikan umum dan keagamaan.

Pada tahun 1977, dibentuk Yayasan Futuhiyyah. Yayasan ini bertujuan memperbaiki sistem manajemen pesantren. Perkembangan pesantren semakin pesat setelah pembentukan yayasan. Selain pendidikan formal, pesantren tetap mengajarkan kitab kuning. Metode wetonan dan bandongan digunakan dalam pengajian. Kegiatan pengajian kilatan rutin juga ada pada setiap Ramadan. Pengajiannya mulau kitab fikih, tafsir, hadits, dan ilmu alat. KH Muslih juga aktif dalam pengembangan thariqah. Beliau menyebarkan Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah ke berbagai daerah. Selain itu beliau juga berperan dalam pembentukan JATMAN. Banyak muridnya menjadi ulama besar dalam bidang tasawuf.

Semakin Meluas

KH Muslih wafat pada tahun 1981 di Jeddah. Kepemimpinan pesantren kemudian berlanjut kepada putranya, KH M S Luthfil Hakim. Beliau memimpin bersama KH Ahmad Muthohar.
Pada masa ini, pembangunan fisik meningkat pesat. Salah satunya asalah perluasan masjid. Fasilitas pendidikan juga bertambah dengan berdirinya sekolah, termasuk SMA dan SMK.
Setelah wafatnya KH Luthfil Hakim pada 2004, kepemimpinan pesantren beralih kepada KH Muhammad Hanif. yang membawa pesantren semakin berkembang. Dengan adanya perbaikan sistem administrasi  dan perluasan program pendidikan menjadikan pesantren ini semakin banyak peminatnta.

KH Hanif juga melanjutkan penyebaran thariqah. Kegiatan Tawajuhan Akbar rutin diselenggarakan setiap tahun. Kegiatan ini diikuti jamaah dari berbagai daerah.
Setelah wafatnya KH Hanif pada 2020, kepemimpinan beralih kepada KH Ahmad Said Lafif. Ia meneruskan pengembangan pesantren hingga saat ini.
Jumlah santri terus meningkat dari tahun ke tahun. Santri berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian besar santri tinggal di lingkungan pesantren. Sisanya merupakan santri nonmukim.

Secara geografis, pesantren terletak di Desa Suburan Barat, Mranggen, Demak. Lokasinya sekitar 200 meter dari Jalan Raya Semarang–Purwodadi. Lingkungan pesantren berada di tengah perkampungan yang strategis. Kini, Pondok Pesantren Futuhiyyah menjadi pusat pendidikan Islam yang berkembang pesat. Pesantren ini tetap menjaga tradisi keilmuan klasik. Di sisi lain, pesantren juga terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman modern.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.