P3M.OR.ID. Salah satu pesantren yang cukup tenar dengan santrinya yang berhasil menjadi ulama adalah Pondok Darussalam Watucongol di Desa Watucongol. Pesantren ini hingga sekarang terus menghidupkan tradisi ilmu, spiritualitas, dan pengabdian masyarakat. Sejak masa perjuangan pesantren ini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang dihormati di Jawa Tengah. Hal ini karena akar sejarahnya yang dalam serta peran besarnya dalam mencetak santri berakhlak mulia dan berpengetahuan luas.
Jejak sejarah Pondok Darussalam Watucongol bermula dari masa Pangeran Diponegoro. Kyai Abdurrauf bin Raden Bagus Kemuning Hasan Tuqo mulanya mendirikan sebuah majelis taklim. Bertempat di kawasan Watucongol beliau ingin mengajar agama di tengah tekanan penjajah Belanda. Saat itu pemerintah melarang pendirian lembaga pendidikan di luar kendali kolonial. Majelis taklim itu kemudian berkembang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Darussalam.
Setelah wafatnya Kiai Hasan Tuqo, maka muncullah Kyai Abdurrahman yang kemudian melanjutkan perjuangan ayahnya. Beliau kemudian memimpin pengajaran, memperkuat tradisi intelektual, dan menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat sekitar. Setelah Kyai Abdurrahman wafat, tongkat kepemimpinan berpindah kepada putranya, KH. Dalhar Nahrowi.
Mbah Kiai Dalhar
Tokoh yang masyhur dengan panggilan Mbah Dalhar itu memegang peran besar dalam perkembangan Pondok Darussalam. Selain menjadi mursyid tarekat Sadziliyah dan mengajar banyak ulama di berbagai daerah, Mbah Dalhar adalah yang berilmu tinggi, sederhana, dan tegas dalam menjaga moral serta spiritualitas umat. Banyak ulama besar datang kepadanya untuk belajar, dan mereka menghormatinya sebagai guru yang mampu menguasai ilmu agama sekaligus memimpin spiritualitas masyarakat. Kharisma Mbah Dalhar menjadikan Watucongol sebagai pusat rujukan bagi umat Islam yang ingin memperdalam ilmu.
Nasab keluarga Mbah Dalhar juga menguatkan posisi pesantren dalam tradisi keilmuan Jawa. Garis keturunannya tersambung hingga Sunan Amangkurat Mas, atau Amangkurat III. Kyai Hasan Tuqo, leluhur keluarga itu, memegang gelar Raden Bagus Kemuning. Tradisi keilmuan, spiritualitas, dan moral keluarga itu turun kepada generasi berikutnya, termasuk kepada Mbah Dalhar yang kemudian menghidupkan pesantren dalam skala yang lebih luas.
Setelah Mbah Dalhar wafat, kepemimpinan pesantren berada di tangan KH. Ahmad Abdul Haq, atau Mbah Mad Watucongol. Ia memperkuat struktur pendidikan dan memperluas pengajaran kitab kuning. Ribuan santri datang dari berbagai daerah untuk menimba ilmu kepadanya. Pada tahun 2010, Mbah Mad berpulang, dan kepemimpinan pesantren kemudian berada di tangan KH. Aly Qoishor, putranya yang melanjutkan tradisi keilmuan keluarga.
Pendidikan Pondok
Pondok Darussalam Watucongol menggabungkan kurikulum tradisional pesantren dengan pendekatan modern. Para santri mempelajari tafsir Al-Qur’an, hadis, fiqh, dan bahasa Arab secara mendalam. Mereka juga mempelajari keterampilan hidup yang menyiapkan mereka menghadapi tantangan zaman. Program tahfidz Al-Qur’an menjadi salah satu program unggulan yang menarik minat banyak santri. Mereka menghafal Al-Qur’an dengan metode yang sistematis dan menyenangkan, kemudian menguatkan hafalan melalui murojaah harian.
Rutinitas ibadah juga membentuk karakter santri. Mereka mengikuti shalat berjamaah, dzikir, serta pengajian kitab setiap hari. Pesantren mengarahkan santri agar menjalani hidup sederhana dan disiplin, kemudian menanamkan tanggung jawab moral dalam setiap tindakan. Pembinaan karakter menjadi pilar penting karena pondok ini ingin mencetak generasi yang kuat secara spiritual dan matang secara intelektual.
Selain fokus pada pendidikan internal, Pondok Darussalam Watucongol ikut menghidupkan kegiatan sosial keagamaan untuk masyarakat sekitar. Pesantren mengadakan pengajian umum, bakti sosial, dan berbagai kegiatan keislaman yang mendukung kebutuhan warga. Masyarakat merasa terbantu karena pesantren memberi ruang belajar dan ruang pembinaan moral bagi umat.
Pesantren ini menjadi tempat bagi para santri untuk menempa akhlak, menguatkan iman, serta memperluas ilmu demi masa depan yang lebih baik. Pesantren terus menguat di tengah perubahan zaman, karena para pengasuh, guru, dan santri mempertahankan nilai perjuangan yang sudah berakar sejak masa Pangeran Diponegoro.













