Pendidikan Quote Gus Dur
Pilihan EditorProfil Pesantren

Warisan Perjuangan dari Pesantren KH. Zainal Musthafa Sukamanah Tasikmalaya

1954
×

Warisan Perjuangan dari Pesantren KH. Zainal Musthafa Sukamanah Tasikmalaya

Sebarkan artikel ini
pesantren
Pesantren Sukamanah Tasikmalaya ( foto dok ayotasik.com)

P3M.OR.ID. Salah satu pesantren yang masyhur di Jawa Barat adalah Pesantren KH. Zainal Musthafa Sukamanah. Pesantren yang terletak di Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya adalah pusat pendidikan Islam tertua yang hingga kini tetap mempertahankan karakter perjuangan dan kekhasan tradisi keilmuan pesantren salaf. Pahlawan nasional K.H. Zainal Mustofa adalah pendiri ondok pesantren ini.  Pesantren yang terletak di Kampung Sukamanah, Desa Sukarapih, ini tumbuh dari sebuah rumah dan masjid sederhana. Pafa tahun 1927 pesantren ini berdiri di atas tanah wakaf seorang dermawan, Hj. Siti Juariah.

Adalah Hudaeni, pria kelahiran  Kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna yang memulai berdirinya pesantren inil. Beliau berasal dari keluarga petani taat beribadah, pasangan Nawapi dan Ratmah, yang menanamkan kecintaan terhadap agama sejak kecil. Setelah pemekaran wilayah, kampung kelahirannya kini berada di Kecamatan Sukarame. Sejak remaja, Hudaeni menempuh pendidikan agama secara intensif. Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR), ia melanjutkan pendalaman ilmu di Pesantren Gunung Pari asuhan kakak sepupunya, KH. Zainal Muhsin. Setelah menimba ilmu selama total 17 tahun di berbagai pesantren, ia menunaikan ibadah haji pada 1927. Sepulangnya, nama Hudaeni berubah menjadi Zainal Musthafa, yang kelak masyhur sebagai ulama pejuang. Pada tahun 1927 itu pula, ia mendirikan Pondok Pesantren Sukamanah yang menjadi cikal-bakal Pesantren KH. Zainal Musthafa hari ini.

Masa Keemasan Pesantren dan Ribuan Santri

Di bawah kepemimpinan KH. Zainal Musthafa, Pesantren Sukamanah berkembang pesat. Dalam kurun 17 tahun, ratusan santri berhasil dicetak menjadi alim-ulama dan kembali mengajar di daerah masing-masing. Bahkan, jumlah santri mukim mencapai 600–700 orang yang tinggal di enam asrama. Sementara itu, santri non-mukim (santri kalong) diperkirakan lebih dari sepuluh kali lipat jumlah tersebut.

Pesantren ini menjadi rujukan penting bagi pencari ilmu agama di wilayah Priangan Timur. Tradisi pembelajaran kitab kuning, metode sorogan, bandongan, hingga pendalaman akidah Ahlusunnah wal Jamaah menjadi fondasi utama pendidikan di Sukamanah. Selain sebagai pendidik, KH. Zainal Musthafa juga dikenal sebagai ulama pejuang yang menolak keras kebijakan kolonial Belanda maupun Jepang. Pada 1944, ia memimpin perlawanan santri melawan penjajah Jepang yang semakin menekan umat Islam, terutama terkait keharusan seikerei (membungkuk ke arah matahari). Perlawanan tersebut menempatkannya sebagai simbol perjuangan umat dan kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Regenerasi Kepemimpinan dan Perkembangan Yayasan

Setelah wafatnya KH. Zainal Musthafa, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh KH. Fuad Muhsin dan KH. Abdul Aziz pada tahun 1950 di bawah bimbingan KH. Wahab Muhsin. Pada 1956, mereka mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Sukahideng. Pada tanggal 17 Agustus 1959, berdirilah Yayasan KH. Zainal Musthafa berdasarkan Akta Notaris No. 8 yang kemudian diperbarui pada 1999. Yayasan ini menjadi wadah resmi yang mengelola pengembangan pendidikan sesuai perjuangan sang Pahlawan Nasional.. Pada tahun 2003, KH. Fuad Muhsin menyerahkan estafet kepemimpinan kepada putranya, KH. A. Thahir Fuad, yang kini memimpin pesantren dalam menghadapi tantangan zaman modern.

Hingga kini, Pesantren KH. Zainal Musthafa menerapkan sistem pendidikan terpadu antara tradisional (salaf) dan formal. Struktur pendidikan di Sukamanah meliputi pendidikan Salaf (Tradisional) dengan pengajian kitab kuning dan metode sorogan dan bandongan. Selain itu ada hafalan/murajaah dan kajian akidah Ahlusunnah wal Jamaah. Selain itu ada Pendidikan Formal seperti SMP hingg SMA dan MTs serta MA. Kemudian Pesantren Sukamanah menyediakan fasilitas lengkap untuk menunjang pendidikan dan pembinaan karakter santri, seperti asrama putra dan putri, masjid besar, perpustakaan dan arana olahraga. Terdapat pula koperasi pesantren , pos kesehatan pesantren (Poskestren).

Untuk jegiatan ekstrakurikuler juga menjadi bagian penting dalam pembinaan santri, di antaranya hadranul mujahidin, akademi dakwah, keolahragaan, kajian multimedia Kini, lembaga tersebut berkembang menjadi pusat pendidikan besar dengan jenjang formal, diniyah, hingga sekolah negeri terintegrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.