Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar P3M

Monitoring Pengelolaan Sampah di Pesantren Cijawura: Program Berjalan 4 Bulan dan Tunjukkan Hasil Positif

224
×

Monitoring Pengelolaan Sampah di Pesantren Cijawura: Program Berjalan 4 Bulan dan Tunjukkan Hasil Positif

Sebarkan artikel ini
pengelolaan sampah
Monitoring program pengelolaan sampah di pesantren Cijawura Bandung

P3M.OR.ID. Program pengelolaan sampah di Pesantren Cijawura telah terlaksana selama empat bulan melalui dukungan P3M dan CCEP. Program ini mengintegrasikan sarana, pelatihan, dan sistem pencatatan untuk membangun pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Seluruh kegiatan arahnya bertujuan untuk menciptakan lingkungan pesantren yang bersih, sehat, dan tertata, serta memberikan edukasi praktis kepada santri.

Sebelum program berjalan, pesantren belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang terstruktur. Sampah harian tidak terpilah, sehingga seluruh timbulan langsung membuangnya tanpa proses pengolahan. Kondisi tersebut menimbulkan masalah lingkungan dan menyulitkan upaya pembentukan sistem yang efektif. Keterbatasan sarana juga menjadi hambatan besar dalam pengelolaan yang berkelanjutan. “Program hadir untuk menjawab kebutuhan dasar tersebut. Sistem baru memberi alur pemilahan yang jelas, sarana yang memadai, serta metode pengolahan yang penerapannya dapat secara konsisten dan berkesinambungan. Dengan pendekatan tersebut, pesantren mulai membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah,” ungkap Maman Abdurahman dari P3M.

Dukungan Sarana dan Pelatihan

Maman menambahkan pesantren menerima dukungan sarana yang membantu operasional harian berupa motor viar, rumah sampah. Selain itu ada  tempat sampah terpilah, tempat botol plastik, instalasi maggot, kandang ayam, serta fasilitas Loseda. “Seluruh sarana tersebut adalah untuk mendukung pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan sampah. Dalam pelaksanaan program ada pelatihan kepada santri dan pengelola pesantren,” tambahnya.  Pelatihan tersebut mencakup pemilahan sampah, pengolahan plastik, budidaya maggot, pengurangan sampah, dan pemeliharaan ayam. Pelatihan bertujuan meningkatkan pemahaman santri agar mampu menjalankan sistem dengan baik.

Program pengelolaan sampah di Pesantren Cijawura berjalan melalui beberapa sistem. Setiap sistem saling terhubung untuk memastikan alur pengolahan berjalan per langkah dan memiliki hasil yang terukur. Program pengelolaan sampah di Pesantren Cijawura telah dilaksanakan selama empat bulan melalui dukungan P3M dan CCEP. Program ini mengintegrasikan sarana prasarana, pelatihan, serta sistem pencatatan untuk membangun pengelolaan sampah berkelanjutan. Timbulan sampah bulanan mencapai 400–500 kilogram.

” Selain itu sistem yang diterapkan mencakup pemilahan sampah, pengolahan sampah organik untuk pakan maggot, pemeliharaan ayam (dikasih pakan maggot), serta pengolahan melalui Loseda, ” ujarnya.  Seluruh sistem berjalan simultan untuk mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPS. Program juga mencatat capaian ekonomi. Sampah anorganik memberi pendapatan Rp802.000. Selain itu, program menekan biaya operasional sekitar Rp300.000 per bulan, sehingga pesantren merasakan manfaat langsung.

Integrasi Sistem Pengelolaan Sampah

Selain itu dalam pengelolaan sampah, pesantren ini melakukan intergrasi. Pertama adalah pengelolaan sampah anorganik. Sistem anorganik adalah dengan melalui mekanisme drop box, penampungan botol plastik secara kolektif, pembersihan, pemilahan, penyimpanan, dan penjualan ke pengepul. Sistem ini sudah stabil dan memberi nilai ekonomi rutin untuk pesantren.
Kedua adalah pengelolaan sampah organik. Pengelolaan organik berjalan melalui budidaya maggot, pemanfaatan Loseda (Lobang Sesa Dapur), dan pemeliharaan ayam. Hasil organik kemudian menjadi kompos dan pakan, sehingga memberi efisiensi bagi lingkungan pesantren. Dan ketiga, pengelolaan sampah B3 dan residu. Sampah residu dipisahkan dari sampah organik dan anorganik. Sampah ini dibuang ke TPS karena belum dapat diolah lebih lanjut.

Adapun Total timbulan sampah selama empat bulan berada pada angka 1.600–2.000 kilogram. Rata-rata timbulan harian mencapai ±112 kilogram. Adapun Rincian pengelolaan menunjukkan bahwa sampah organik ada ±300–350 kilogram per bulan. Sampah tersebut kemudian dikelola untuk pakan maggot, kompos, dan pakan ayam. Untuk sampah anorganik: ±50 kilogram per bulan yang kemudian menhualnyake pengepul. Adapun sampah residu ada ±200–300 kilogram, pihak pesantren membuangnya ke TPS. Dari total timbulan, 31% telah terolah. Sementara itu, 69% masih termasuk kategori residu.

Dampak Program

Program memberikan dampak positif di lingkungan pesantren. Kawasan pesantren kini lebih bersih dan rapi. Santri semakin memahami pentingnya pengelolaan sampah. Sistem pemilahan berjalan lebih baik, dan nilai ekonomi dari sampah mulai dirasakan pesantren. Santri juga terlibat aktif dalam proses pemilahan hingga pengelolaan. Kebiasaan tersebut mendorong perubahan perilaku yang lebih berkelanjutan.

Selain itu program menghadapi beberapa kendala. Tikus mengganggu budidaya maggot dan ayam. Pencatatan belum optimal. Sebagian santri belum konsisten dalam pemilahan. Sampah botol plastik juga belum masuk drop box secara menyeluruh. Kendala ini menunjukkan pentingnya pendampingan lanjutan.
Program pengelolaan sampah di Pesantren Cijawura menunjukkan perkembangan positif. Sistem berjalan lebih teratur, sarana dimanfaatkan optimal, dan partisipasi santri meningkat. Program ini menjadi pondasi penting untuk membangun pengelolaan sampah yang berkelanjutan di lingkungan pesantren.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.