P3M.OR.ID. Meski sudah melakukan inovasi, pesantren tetap memerlukan penguatan melalui transformasi. Selain itu tantangan pesantren pada saat ini adalah kecepatan mengadopsi dan mengeksekusi perubahan.
Hal ini dikatakan oleh Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar dalam Rapat Kerja Forum Percepatan Transformasi Pesantren (FPTP) Tahun 2026 di Jakarta, Selasa. “Kita bukan tidak inovatif, tetapi perlu penguatan dan percepatan implementasi. Tinggal bagaimana kita menentukan titik awal dan merumuskan formula yang tepat,” ujarnya. Selain itu, lanjut Cak Imin, panggilan akrabnya, tantangan utama pesantren pada saat ini adalah kecepatan dalam mengadopsi dan mengeksekusi perubahan.
Menurut Cak Imin, FPTP memiliki peran strategis untuk merumuskan formula yang tepat dalam mendorong akselerasi transformasi pesantren. Untuk itu peran strategis tersebut turut mendapat dukungan dengan program-program FPTP yang dapat membawa pesantren dari keterbatasan menuju kemajuan yang berkelanjutan. Untuk itu dirinya berharap FPTP dapat berperan sebagai jembatan yang efektif antara pesantren, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah dalam mendorong transformasi pesantren secara menyeluruh. “Insyaallah apa yang program dari FPTP mampu menggerakkan seluruh subjek untuk terlibat aktif dalam transformasi pesantren,” jelasnya.
Mampu Menggerakkan
Ia berharap FPTP dapat berperan sebagai jembatan yang efektif antara pesantren, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah dalam mendorong transformasi pesantren secara menyeluruh. “Insyaallah apa yang FPTP lalkukan akan mampu menggerakkan seluruh subjek untuk terlibat aktif dalam transformasi pesantren,” tambahnya.
Lebih lanjut Cak Imin menekankan dua agenda utama yang harus segera pesantren lakukan. Agenda tersebut adalah adaptasi dan adopsi metodologi pendidikan baru. Kemudian kemampuan pesantren mengantisipasi perkembangan sains dan teknologi. “Karakter pendidikan itu adalah dari sistem. Semakin baik sistemnya, maka semakin baik pula output lulusan pesantren, sehingga memiliki daya saing yang kuat,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur FPTP, KH Saifullah Maksum, menegaskan bahwa Raker FPTP 2026 tidak lagi fokus pada perdebatan konseptual mengenai persoalan pesantren. “Soal problem, rekomendasi tokoh, hingga paradigma pesantren sudah kita bahas dan susun dalam berbagai forum dan buku. Sekarang yang kita cari adalah cara dan metode yang paling efektif agar pesantren mampu mengimplementasikan semua rekomendasi itu dan menjadi lebih maju,” jelasnya.
KH Saifullah mengakui bahwa FPTP memiliki banyak program strategis pada tahun ini, namun berhadapkan pada keterbatasan sumber daya dan kapasitas pendukung. Meski demikian, ia menegaskan komitmen FPTP untuk terus berjuang demi kesejahteraan dan pemberdayaan pesantren. “Niat kita jelas, bagaimana pesantren berdaya, sejahtera, dan tidak kalah bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya,” pungkasnya. Hadir dalam eaker FPTP 2026 jajaran pengurus inti FPTP, di antaranya KH Badawi Basyir, KH Maman Imanulhaq, KH Zainal Arifin Junaidi. Selain itu hadir pula KH Nasirul Mahasin, serta unsur Dewan Pengarah, Dewan Eksekutif, dan para adviser FPTP.













