FigurKhazanah IslamPilihan Editor

Kiai Afifuddin Sebut Tradisi Pengajaran Kitab Kuning Harus Diutamakan di Ma’had Aly

128
×

Kiai Afifuddin Sebut Tradisi Pengajaran Kitab Kuning Harus Diutamakan di Ma’had Aly

Sebarkan artikel ini
KH Afifuddin Muhajir. (Foto: NU Online/Suwitno))

Tradisi pengajaran kitab kuning menjadi pembeda antara Ma’had Aly sebagai lembaga pendidikan tinggi pesantren dengan lembaga pendidikan tinggi non pesantren

P3M.OR.ID. Mah’ad Aly harus terus mendorong upaya melestarikan tradisi pengajaran kitab kuning. Hal tersebut penting agar Ma’had Aly selalu menjadi kualitasnya sebagai lembaga yang mencetak ahli ilmu-ilmu agama.

Pendapat tersebut dikatakan KH. Afifuddin Muhajir dalam pertemuan Mudir Ma’had Aly di Surabaya, 25 – 27 Januari 2024. Menurutnya, tradisi pengajaran kitab kuning menjadi pembeda antara Ma’had Aly sebagai lembaga pendidikan tinggi pesantren dengan lembaga pendidikan tinggi non pesantren. “Kitab kuning menjadi pembeda antara Ma’had Aly sebagai lembaga pendidikan tinggi pesantren dengan lembaga pendidikan tinggi non pesantren. Dan kitab kuning yang dikaji di Ma’had Aly diutamakan kitab kuning yang lama. Sebab lebih sulit dibandingkan dengan kitab kuning yang ditulis belakangan,” kata Rais Am PBNU ini  Senin (29/1).

Menurut Kiai Afif ,seseorang mampu memahami kitab kuning yang sulit lebih memuaskan ketimbang membaca kitab semata. Memahami isi kitab kuning inilah yang menjadi bukti yang seseorang mampu dan benar dalam membaca kitab kuning . Untuk itu mahasantri Ma’had Aly harus menguasai ilmu-ilmu yang mendukung pemahaman terhadap kitab kuning. “Harus menguasai ilmu Nahwu, Sharaf, kalau bisa sekaligus ilmu Balaghah dan kaidah-kaidah Ushul Fikih,” ujar dia.

Kemudian Kiai Afif juga berpesan agar pengelola Ma’had Aly benar-benar memperhatikan proses seleksi masuk. Proses rekrutmen mahasantri di Ma’had Aly harus menggunakan pendekatan penyaringan, bukan penjaringan. “Artinya harus ada seleksi yang ketat bagi yang hendak belajar di Ma’had Aly. Tidak boleh asal terima,” ujar dia.

Mudir Ma’had Aly Zainul Hasan Genggong Probolinggo Jawa Timur ini mengaku sangat berhati-hati dalam menerima mahasantri baru. “Kami benar-benar menerapkan standar yang ketat dalam menyeleksi calon mahasantri. Kalau pendaftar tidak bisa membaca kitab kuning dengan baik, maka kami tidak menerimanya,” ujar dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *