Kabar P3M

Konsensus Ahli Sunnah terhadap Turunnya Isa Al-Masih di Akhir Zaman

78
×

Konsensus Ahli Sunnah terhadap Turunnya Isa Al-Masih di Akhir Zaman

Sebarkan artikel ini

Mempercayai bahwa al-Masih ad-Dajjal akan turun ke bumi dan di jidatnya tertulis kata kâfir, kebenaran hadist-hadist yang mewartakan tentang Dajjal, dan akan turunnya Isa as yang kemudian akan membunuh Dajjal di pintu negeri Lud adalah sebuah keniscayaan. Inilah pendapat imam Ahmad bin Hambal yang terdapat dalam “Aqîdah Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ`ahsebagaimana diriwayakan ‘Abdûs bin Malik al-Aththâr dari beliau.
Imam Abu Muhammad al-Barbahârî berkata dalam Syarhas-sunnah berkata: “Iman dengan turunnya Isa as ialah ia akan turun ke muka bumi, akan membunuh Dajjal, menikah, shalat di belakang imam yang berasal dari keluarga Muhammad Saw, wafat, serta dimakamkan oleh orang-orang muslim”.
image source: kitabrisalah

Imam Ath-Thâhâwî dalam Al-Aqîdah al-Ath-Thahâwiyyahkata: “Kami percaya dengan tanda-tanda kiamat, seperti keluarnya Dajjal dan turunnya Isa as dari langit…”.

Imam Asy’ari dalam Maqâlât al-Islâmiyyîn berkomentar: “Sederet keyakinan yang dianut oleh ahli hadits dan sunnah ialah percaya kepada Allah, para malaikat, serta para rasul-Nya. Firman Allah dan hadist-hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan para perawi yang tsiqah tidaklah mereka tolak barang sedikitpun…dan mereka juga membenarkan akan keluarnya Dajjal kemudian akan dibunuh Isa as”.Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abi Zaid al-Qairuwânî al-Maliki dalam risalah-nya yang terkenal berpendapat: “Kita harus percaya akan keluarnya Dajjal, turunnya Isa as ke muka bumi sebagai hakim yang adil yang akan membunuh Dajjal….”
Imam Abu Ahmad bin Husain as-Syafi`i yang dikenal dengan nama Ibnu Hadad dalam Aqîdah-nya berkata: “Tanda-tanda bahwa kiamat sudah dekat serti keluarnya Dajjal, turunnya Isa as, munculnya asap, keluarnya binatang melata dari tanah, terbitnya matahairi di ufuk Barat, dan lainnya sebagaimana yang terdapat dalam hadits-hadits sahih adalah benar adanya….”
Imam Ibnu Qudamah dalam Aqîdah-nya terkenal berkata: “Kita harus percaya dengan semua yang diwartakan Rasulullah Saw dan hadits sahih yang diriwayatkan darinya yang membicarakan hal yang dapat kita saksikan maupun yang tidak. Kita mengetahui bahwa hal itu adalah benar…..Dari apa yang dikatakan Nabi adalah tanda-tanda kiamat, seperti keluarnya Dajjal, turunnya Isa as yang kemudian membunuh Dajjal, keluanya Ya`jû` dan Ma`jûj, terbitnya matahri drai ufuk Barat, keluarnya bintang melata dari dalam tanah…dan yang liannya sebagaima yang diriwayatkan dalam hadits sahih”.
Ibnu Taimiyyah bekomentar: “Isa bin Maryam tetaplah hidup, Allah telah mengangkat ruh serta badan Isa kepada-Nya  Dan firman Allah Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu [QS. Ali Imran: 55], maksudnya adalah “mengambilmu”. Bagitu juga telah ditetapkan bahwa Isa as akan turun di menara putih yang terletak di sebelah timur Damaskus. Kemdudia ia membuhuh dajjal, menghancurkan salib, membunuh babi, dan menjadi hakim yang adil. Adapun yang dimaksud dengan kata at-tawaffâ ialah pengambilan, bisa juga yang dimaksudkan adalah mati atau tidur. Dan konteks pembicaraan yang ada beserta Isa as memungkinkan untuk menafsirkan at-tawaffâ dengan semua arti tersebut”.
Qadhi Iyadh berkata dalam Syarh ShahîhMuslim: “Menurut keyakinan Ahli Sunnah turunnya Isa as kemudian membunuh dajjal adalah benar karena keyakinan ini didukung dengan hadits-hadits sahih. Dan tak ditemukan dalil baik dari akal maupun syara’ yang menggugurkan keyakinan tersebut. Oleh sebab itu, keyakinan akan turunnya Isa as yang kemudian membunuh dajjal musti dikukuhkan. Meski sebagian pengikut Muktazilah, Jahmiyyah, dan orang-orang yang menyepakati pendapat mereka menolak keyakinan tersebut. Mereka beranggapan bahwa hadits-hadits yang terkait dengan turunnya Isa as tidak dapat diterima karena firman Allah bahwa Muhammad sebagai penutup para nabi [QS. Al-Ahzâb: 40], sabda Rasulullah Saw Tidak nabi setelahku, dan konsensus para ulama yang menyatakan tidak ada nabi setelah nabi Muhammad Saw dan syari’atnya akan tetap berlaku dan tidak dihapus sampai hari kiamat. Kesimpulan mereka ini jelas keliru. Sebab, turunnya Isa as tidak berarti ia menjadi nabi yang membawa syari’at baru yang menghapus syari’at kita, dan tidak juga ditemukan baik dalam hadits maupun selainnya dalil yang mendukung pendapat mereka ini. Tetapi hadits-hadits ini dan hadits lain yang disebutkan dalam bab iman dan selainnya, yang menyatakan bahwa Isa akan turun ke muka bumi sebagi hakim yang adil, memutuskan segalanya dengan syari’at kita, dan menghidupkan kembali ajaran-ajaran syari;at kita yang telah ditinggalkan oleh orang-oranadalah valid”. 
Lantas Qadhi Iyadh kembali memberikan komentar tentang hadits-hadits yang mingisahkan kisah dajjal: “Hadits-hadtis yang sebutkan imam Muslim dan lainnya dalam “Kisah Dajjal” ini merupakan hujjah bagi aliran Ahli Sunnah untuk menjustifikasikan kebenaran adanya dajjal, seorang yang bermata satu, dijadikan Allah sebagai cobaan untuk hamba-hamba-Nya, dan  diberi kemampuan luar bisa. Seperti, mampu menghidupkan orang mati, bisa menjadikan keindahan dan kemegahan dunia, surga dan neraka dunia beserta kedua sungainya, semua perbendahaarn dunia tunduk kepadanya, bisa memerinthakan langit untuk menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Semua ini terjadi berkat kekuasan dan kehendak Allah Swt. Setelah itu Allah melemahkan dajjal, membunuhnya melalui Isa as dan meneguhkan orang-orang yang beriman. Demikianlah keyakinan Ahli Sunnah, semua ulama hadits, fikih, dan para cendekiawan berlawanan dengan keyakinan kaum Khawarij, Jahmiyyah, dan sebagian orang Muktazilah.
Al-Manâwî dalam Syarh Al-Jâmi’ Ash-Shaghîr berkomentar: “Para ulam telah bersepakat atas turunnya Isa as ke muka bumi sebaagi nabi. Tetapi ia membawa syari’at nabi kita, Muhammad Saw”. Dan pada bagian lain dalam kitab tersbeut, Al-Manâwî juga berkata: “Di dalam kitab Al-Mathâmih disebutkan konsensus para ulama terhadap turunnya Isa as dan tak ada seorangpun penganut agama Islam yang menolak konsensus tersebut kecuali dari kalangan filsuf dan ateis”.

As-Safarayainî dalam menjelaskan akidahnya berkata: “Turunnya Isa putera Maryam telah ditetapkan baik dalam Al-Qur`an, sunnah, maupun ijma’”. Kemudian As-Safrayainî menyebutkan dalil dari Al-Qur`an dan sunnah. Lalu berkata: “Adapun dalil ijma’nya ialah kesepakatan umat Islam atas turunnya nabi Isa as dan tak ada seorangpun pemeluk Islam yang menolak konsensus tersebut kecuali dari kalangan filsuf dan atheis di mana kedua kalangan tersebut termasuk kelompok orang yang perbedaannya tidak diperhitungkan. Dan umat Islam telah bersepkat bahwa Isa as akan turun dan menetapkan segala ssuatu dengan syarî’ah muhammadiyyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *