![]() |
| Perdamaian, RimanewsDotCom |
Sebuah seminar oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) mencoba menjawab bisakah tercipta kerukunan beragama tanpa pemeluknya masing-masing mengkompromikan iman.
Kebanyakan pemeluk agama manapun memang tidak memahami ajaran agama mereka secara utuh. Maka, mereka tidak bisa membedakan mana yang absolut dan mana yang relatif dari ajaran agama tersebut. Kelemahan seperti ini, seperti dikatakan Quraish, juga terdapat pada umat beragama yang lain. Di situlah para pemuka bisa mengambil peran : menjelaskan bagaimana ajaran agama masing-masing melihat soal hubungan antar agama.
Bila bertahun-tahun masalah ini ulang dibicarakan, tetapi kemudian muncul juga masalah, itu hanya membuktikan soal toleransi beragama bukan soal yang mudah. Alam agama manapun selalu ada mereka yang lapang dada dan mereka yang fanatik. Untuk itu saran KH. Ali Yafie, Wakil Rais Am Nahdlatul Ulama, tiap agama perlu meningkatkan wawasan agama umatnya.
Namun,mudah mengataka dan sulit melaksanakan berlaku pula untuk masalah ini. Pihak-pihak yang terlibat dalam upaya meluaskan wawasan umat, dari agama manapun, mengakui sulitnya menyampaikan wawasan itu. Seperti yang dikatakan Victor Tanja, pendeta Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB), “Jangankan Islam yang mayoritas, kami yang minoritas ini, sulit sekali memberikan pengertian (hubungan antar agama) kepada mereka yang menganut garis keras.”
Tidak semua orang bisa menerima bahwa “ajaran agama yang diberikan Allah bukan untuk pembenaran diri atau kelompok, yang nantinya bermuara pada sikap fanatisme beragama, ” kata Victor Tanja dengan tegas. Tak berarti Victor Tanja ingin mengatakan bahwa semua agama sama. Penyamaan agama itu bisa berbahaya karena berarti mengkompromikan akidah, yang tentunya tidak dibenarkan oleh agama mana pun.
Dalam Islam sebenarnya Nabi Muhammad SAW., sendiri sudah memberikan teladan. Misalnya terhadap tamu-tamu beliau dari kalangan Nasrani yang berkunjung ke Madinah, Nabi pernah mempersilahkan tamunya yang ingin melakukan kebaktian menjalankanya di Masjid. Kisah ini diceritakan oleh Ibn Qoyyim, ulama besar murid Ibn Taimiyah yang hidup pada abad ke 14. Tentu Nabi melakukannya hal tersebut karena memang di sekitar kediaman Nabi tidak ada tempat ibadah bagi kaum Nasrani.
Bila sering toleransi terlupakan, pada hakekatnya bersikap toleran tidak mudah. Soalnya dalam toleransi terkandung sikap yang oleh Frans Magnis Suseno dijelaskan sebagai “kesediaan menerima dan menghormati orang yang berkeyakinan lain dengan kita meski hal itu tidak kita setujui.”
Memang ada orang yang memutlakkan jatuhnya siksaan Tuhan pada orang selain golongannya. Orang seperti ini seakan-akan ingin membatasi rahmat Tuhan. “Padahal Tuhan sendiri berkata, “RahmatKu mengalahkan amarah-Ku,” kata Quraish Shihab mengutip hadits Qudsi [Julizar Kasri, Wahyu Muryadi]
Sumber: Tempo, 1 Desember 1990)














