Pendidikan Quote Gus Dur
Khazanah IslamPilihan EditorTokoh

Tuan Guru Haji Turmudzi, Ulama Sasak yang Membangun Warisan Pendidikan Islam di Lombok

18
×

Tuan Guru Haji Turmudzi, Ulama Sasak yang Membangun Warisan Pendidikan Islam di Lombok

Sebarkan artikel ini
Tuan Guru Haji Turmudzi
Tuan Guru Haji Turmudzi merupakan ulama Sasak, pengasuh Pesantren Qomarul Huda, mursyid tarekat, dan tokoh Nahdlatul Ulama di NTB.

P3M.OR.ID. Tuan Guru Haji Turmudzi merupakan salah satu ulama kharismatik dari suku Sasak, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pengasuh Pondok Pesantren Qomarul Huda, Bagu, Lombok Tengah, ini dikenal melalui kiprahnya dalam pendidikan Islam, pengabdian kepada masyarakat, dan perjuangannya di Nahdlatul Ulama (NU).

Ulama yang akrab disapa Datuk ini pernah menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010–2015. Ia juga dikenal sebagai mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang membimbing santri dan masyarakat dalam kehidupan spiritual.

Perjalanan Tuan Guru Haji Turmudzi memperlihatkan bagaimana tradisi keilmuan keluarga, pendidikan pesantren, dan pengabdian organisasi dapat membentuk sosok ulama yang berpengaruh. Dari Bagu, ia meneruskan perjuangan pendidikan Islam yang telah dirintis keluarganya hingga berkembang menjadi lembaga pendidikan dengan jenjang yang beragam.

Tumbuh dari Keluarga Ulama dan Bangsawan Sasak

Tuan Guru Haji Turmudzi lahir pada 1 April 1936 dari keluarga Perwangse atau bangsawan suku Sasak. Gelar “Lalu” di depan namanya menandai latar belakang kebangsawanan tersebut.

Ayahnya, Tuan Guru Haji Lalu Badarudin, merupakan ulama berpengaruh yang merintis pendidikan Islam di lingkungan keluarga dan masyarakat. Ia memulai kegiatan mengajar melalui langgar sederhana di rumahnya.

Dari tempat belajar yang sederhana itu, pendidikan Islam kemudian berkembang menjadi pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi. Perkembangan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan Islam di Bagu dan wilayah Nusa Tenggara Barat.

Lingkungan keluarga membentuk dasar pendidikan agama Turmudzi sejak usia dini. Ia belajar langsung dari orang tuanya sebelum melanjutkan pendidikan formal dan memperdalam ilmu agama melalui lembaga pendidikan Islam.

Menempuh Pendidikan Agama hingga ke Makkah

Pada 1944, Turmudzi menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat. Empat tahun kemudian, ia melanjutkan pendidikan ke Madrasah Mu’alimin Darul Qur’an di Bengkel, Lombok.

Lembaga tersebut berada di bawah asuhan Tuan Guru Haji Soleh Chambali. Turmudzi belajar di sana pada 1948–1952 untuk memperkuat pengetahuan agama dan tradisi keilmuan Islam.

Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, ia berangkat ke Makkah dan menetap selama sekitar sepuluh tahun. Pengalaman belajar di Tanah Suci menjadi bagian penting dalam perjalanan keilmuannya sebelum kembali mengabdi di kampung halaman.

Turmudzi pulang ke Indonesia pada 1962. Kepulangannya menandai awal babak baru pengabdiannya dalam membangun lembaga pendidikan Islam di Bagu, Lombok Tengah.

Membangun Pesantren Qomarul Huda dari Bagu

Setelah kembali dari Makkah, Turmudzi mulai merintis Madrasah Diniyah dan Madrasah Ibtidaiyah Qomarul Huda pada 1962. Setahun kemudian, ia mendirikan Pondok Pesantren Qomarul Huda sebagai wadah pendidikan agama bagi masyarakat.

Pengembangan pendidikan berlanjut melalui pendirian Madrasah Tsanawiyah pada 1968. Pada 1984, lembaga tersebut menambah jenjang pendidikan melalui Madrasah Aliyah.

Langkah itu memperlihatkan upaya Turmudzi memperluas akses pendidikan Islam. Ia tidak hanya membina santri melalui pengajaran agama, tetapi juga membangun lembaga yang memungkinkan mereka melanjutkan pendidikan secara bertahap.

Pondok Pesantren Qomarul Huda kemudian menjadi salah satu pusat pendidikan Islam di Lombok Tengah. Keberadaannya meneruskan tradisi pendidikan yang sebelumnya dirintis oleh ayahnya melalui langgar sederhana.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pesantren membutuhkan kesinambungan antargenerasi. Pendidikan yang bermula dari ruang belajar sederhana dapat berkembang ketika pengelolanya menjaga tradisi keilmuan sekaligus memperluas layanan pendidikan.

Pesantren Qomarul Huda dan Perkembangan Pendidikan Tinggi

Peran Pesantren Qomarul Huda tidak berhenti pada pendidikan dasar dan menengah. Pada 1999, pesantren tersebut menjadi lokasi penyelenggaraan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama.

Dalam kesempatan itu, muncul gagasan untuk mendirikan perguruan tinggi di lingkungan pesantren. Inisiatif KH Abdurrahman Wahid, yang saat itu menjabat Ketua Umum PBNU, mendorong kerja sama antara Pesantren Qomarul Huda dan Sekolah Tinggi Agama Islam Ibrahimy di Jawa Timur.

Kerja sama tersebut melahirkan STAI Ibrahimy di lingkungan pesantren pada 1999. Kehadiran perguruan tinggi memperluas kesempatan pendidikan bagi masyarakat, khususnya mereka yang ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Perkembangan ini memperlihatkan upaya menghubungkan pendidikan pesantren dengan pendidikan tinggi. Pesantren tidak hanya menjadi tempat mempelajari ilmu agama, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang lebih luas.

Mengabdi di Nahdlatul Ulama

Selain mengasuh pesantren, Tuan Guru Haji Turmudzi aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Ia memulai pengabdiannya dari tingkat lokal sebagai pengurus Ranting NU Bagu.

Perjalanan organisasinya berlanjut di jajaran Syuriyah Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Pringgarata. Ia kemudian dipercaya menjadi Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Lombok Tengah.

Pengabdiannya berlanjut ke tingkat wilayah sebagai Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah NU Nusa Tenggara Barat. Ia kemudian menjabat Rais Syuriyah PWNU NTB dan pernah tercatat sebagai Mustasyar PBNU periode 2010–2015.

Perjalanan tersebut menunjukkan keterlibatan Turmudzi dalam kehidupan organisasi keagamaan dari tingkat desa hingga nasional. Ia menjalankan peran sebagai pengasuh pesantren sekaligus tokoh yang ikut menjaga tradisi keilmuan dan kehidupan keagamaan masyarakat.

Mursyid Tarekat dan Penulis Kitab Zadul Ma’ad

Di luar pendidikan dan organisasi, Turmudzi juga menjalankan peran spiritual sebagai mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Peran ini berkaitan dengan pembinaan rohani dan bimbingan amalan bagi para pengikut tarekat.

Ia juga menulis Zadul Ma’ad pada 2009. Karya tersebut berisi wirid dan doa-doa untuk diamalkan oleh para santri serta masyarakat luas.

Karya itu memperlihatkan perhatian Turmudzi terhadap praktik keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui tulisan dan bimbingan spiritual, ia turut menjaga tradisi amalan yang berkembang di lingkungan pesantren dan masyarakat.

Sebagai ulama Sasak, Turmudzi dikenal karena pengabdiannya dalam pendidikan dan dakwah. Ia menjalankan tugas keulamaan dengan istiqamah serta mempertahankan penampilan yang bersahaja.

Warisan Keilmuan bagi Generasi Penerus

Perjalanan Tuan Guru Haji Turmudzi memperlihatkan hubungan erat antara pendidikan keluarga, tradisi pesantren, pengabdian organisasi, dan pembinaan spiritual. Ia meneruskan rintisan ayahnya sekaligus mengembangkan Qomarul Huda melalui berbagai jenjang pendidikan.

Dari langgar sederhana yang menjadi awal pendidikan keluarga, tradisi keilmuan tersebut berkembang hingga mencakup pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi. Perkembangan itu menjadi bagian dari perjalanan pendidikan Islam di Lombok Tengah.

Kiprah Turmudzi juga menunjukkan bahwa pengabdian ulama tidak hanya berlangsung melalui ceramah atau pengajaran di ruang kelas. Pembangunan lembaga pendidikan, pembinaan masyarakat, dan keterlibatan dalam organisasi menjadi bagian dari kontribusi yang lebih luas.

Melalui Pesantren Qomarul Huda dan aktivitas keagamaannya, Tuan Guru Haji Turmudzi meninggalkan jejak pengabdian bagi masyarakat Sasak. Perjalanan hidupnya menjadi gambaran tentang pentingnya menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus membuka ruang pendidikan bagi generasi berikutnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.