Pendidikan Quote Gus Dur
KabarKabar P3MPilihan Editor

Kisah Inspiratif Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Pesantren Al-Anwar 2 Sarang

30
×

Kisah Inspiratif Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Pesantren Al-Anwar 2 Sarang

Sebarkan artikel ini
Persemian rumah sampah Pesantren al Anwar 2. Sarang Rembang
Pondok Pesantren Al-Anwar 2 berhasil mewujudkan pengelolaan sampah berkelanjutan, menciptakan lingkungan bersih, sehat, dan mandiri ekonomi

P3M.OR.ID. Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang II Sarang, Rembang telah menunjukkan komitmen yang kuat terhadap visi lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif. Melalui program pengelolaan sampah terpadu, pesantren ini tidak hanya mengatasi masalah lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi yang signifikan.Program pengelolaan sampah di Pesantren Al-Anwar sangat efektif. Dahulu, sampah sering dianggap menjijikkan. Namun, kini tampilan itu telah berubah total. Santri-santri menyadari bahwa sampah dapat bermanfaat, bahkan mendatangkan berkah. para santri berhasil mengelola sampah berkelanjutan di lingkungan pesantren.

Dulu, pengelolaan sampah memerlukan biaya yang besar. namun kini  pesantren justru menghasilkan kas 2 hingga 3 juta rupiah setiap bulan dari pengolahan sampah. Ini membuktikan program tersebut efektif dalam menjaga kebersihan dan menciptakan nilai ekonomi. Berkolaborasi dengan Perhimpunan pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) dan CCEP Indonesia telah membuka mata seluruh komunitas pesantren bahwa pengelolaan sampah bukan sekedar tugas, melainkan sebuah peluang. Program .

Pimpinan pesantren menunjukkan komitmen tinggi terhadap kebersihan. Ini bukan sekadar program, tetapi perhatian utama. Berbagai kebijakan telah diterapkan untuk mendukung inisiatif ini. ” Pesantren menyediakan tempat sampah terpilah di setiap asrama. Mereka sudah mendapat bantuan dari CCEP. Namun, pesantren menambah lagi tempat sampah tersebut. Kini, setiap asrama memiliki dua tempat sampah terpilah, total sekitar 30 unit. Ini memadai untuk sampah anorganik,” ungkap ,'” Gus Samsuddin, sa;ah satu pengasuh Pondok Al Anwar II

Selain itu , Gus  Samsuddin menambahkan bahwa pihal keamanan pesantren juga terlibat aktif. “Santri yang melanggar aturan akan diberi sanksi. Salah satunya membersihkan halaman atau membuat sampah. Integrasi disiplin dengan kebersihan ini sangat efektif. Sub-sub lainnya, seperti penerangan dan media, mendukung sosialisasi. Mereka bahkan memiliki tagihan yang mengingatkan santri membuang sampah. Komitmen pimpinan diwujudkan dalam infrastruktur, insentif, dan penegakan disiplin,” ungkapnya. .

Manfaat Ekonomi Konkret dari Pengelolaan Sampah

menurut Gus Samsuddin manfaat ekonomi dari program ini sangat menggembirakan. “Dahulu, pesantren mengeluarkan 5 juta rupiah setiap bulan. Biaya itu untuk mengangkut sampah. Kini, biaya tersebut sudah tidak ada lagi. Ini adalah penghematan yang sangat besar. Lebih dari itu, tim kebersihan kini bisa menabung. Dari penjualan sampah anorganik, mereka memperoleh kas 2 hingga 3 juta rupiah per bulan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Gus Samsuddin menjelaskan  bahwa uang ini digunakan untuk kepentingan dan penambahan fasilitas. “Tim kebersihan sekarang mandiri secara finansial. Mereka dapat membiayai kebutuhan mereka sendiri. Sampah, yang tadinya beban, kini menjadi sumber pendapatan dan penghematan. Ini bukti nyata pengelolaan sampah berdampak positif pada pesantren finansial,” ungkapnya.

Perubahan signifikan terlihat telah terjadi di pesantren An Anwar  II yaitu dalam kebersihan, estetika, dan kesadaran santri. Dulu, beberapa area kurang rapi namun pondok terlihat jauh lebih rapi dan bersih. Seluruh komunitas pesantren merasakan perubahan positif ini. Kemudian kesadaran santri juga meningkat pesat. Mereka terbiasa membuang sampah anorganik pada tempatnya. ” Edukasi dari P3M dan CCEP sangat efektif. Pemateri memberikan pengalaman baru kepada santri. Baik tim kebersihan maupun santri tertarik. Mereka melihat manfaat langsung dari program ini. Ada perubahan perilaku yang signifikan. Santri tidak lagi menganggap sampah kotor, tetapi sebagai sesuatu yang bisa diolah,” ujarnya.

Rumah sampah dan dan Pembelajaran

Untuk infrastruktur, kondisi sampah rumah masih semi permanen. Pesantren merencanakan pembangunan rumah sampah baru yang lebih efektif. Mereka mencari desain standar rumah sampah yang ideal. P3M dan CCEP diharapkan dapat memberikan gambaran desain tersebut. Ini akan membantu perencanaan ke depan.
Pesantren berencana menjadikan rumah sampah sebagai pusat pembelajaran. Tujuannya agar semua santri merasa terlibat. Mereka ingin memperdekat jarak santri dengan sampah. Santri akan diajak langsung ke tempat pengolahan sampah.

Di rumah sampah tersebut akan melihat alur sampah. Mereka akan mengamati bagaimana sampah dipilah. Mereka juga akan melihat sampah bagaimana diolah. Sampah menjadi berubah produk. Bahkan menghasilkan nilai ekonomi. Pembelajaran di lapangan akan lebih menancap. Beberapa pengajar tertarik mengajak siswa ke sana. Mereka ingin mengajarkan cara membuat EPNZ dan kompos. Ini adalah langkah awal menjadikan rumah sampah sebagai ‘Pusat Pendidikan Maggot’. Model ini diharapkan dapat diterapkan di pesantren atau komunitas lain.

Pengelolaan sampah berkelanjutan adalah tanggung jawab bersama. Dulu, santri berjumlah 2.500. Setiap tahun bertambah seribu. Jika sampah tidak dikelola dengan baik, ini bisa menjadi ‘bom sampah’. Kemudian pesantren melakukan pembenahan . “Jika pengelolaan sampah sudah baik, jumlah santri berapapun tidak akan menjadi masalah. Ini tanggung jawab keluarga besar Al-Anwar. Pengurus, terutama alumni, harus merasakan keresahan ini. Semakin banyak santri, semakin banyak pula timbulan sampah. Ini bukan hanya kebersihan fisik, melainkan keberlangsungan pesantren,” tegasnya.

Kepada pihak eksternal, pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Pesantren adalah agen perubahan lingkungan. Dengan komitmen, kolaborasi, dan kesadaran, sampah dapat menjadi berkah. Apa yang dilakukan di Al-Anwar bisa menjadi inspirasi. Mari bersama menjaga bumi, amanah dari Allah SWT.
Kemajuan Pembangunan Rumah Sampah dan Tantangan Teknis

Catatan

Kanopi pemilahan sampah sendiri berukuran 15 × 6 m. Di dalamnya terdapat instalasi listrik untuk 2 mesin pencacah sampah plastik. Emperan kini beratap, lebih nyaman. Area yang diperbaiki menjadi sampah rumah kardus dan kertas utara. Di dekatnya, ada tempat pencacah dan rumah sampah plastik. Area istirahat tim juga sudah lebih layak. Rencana ke depan, area utara akan menjadi tempat produksi sampah. Di sana akan dikembangkan budidaya maggot, ekoenzim, lele, azolla, dan peternakan lainnya. Konsepnya integrasi pengolahan sampah dengan budidaya.

” Tantangan krusial adalah optimasi pemilahan di tingkat santri. Santri kadang belum memilah sempurna. Kaleng atau botol plastik masih kotor. Ini membutuhkan alokasi waktu khusus untuk memilah kembali. Pemilahan di tempat penampungan belum maksimal. Namun, sampah anorganik sudah masuk ke tempatnya,” ungkap Fachrur Rozi  salah satu Rumah Sampah pesantren Al Anwar II

ia menambahkan bahwa dari catatan data kuantitatif rutin untuk sampah anorganik menunjukkan setiap asrama menghasilkan 3 hingga 4 kilogram sampah anorganik per hari. “Total sekitar 42 kilogram per hari dan sampah anorganik mendapatkan penghargaan. Dulu, tanpa dicacah, harganya Rp 3.000 per kilogram. Kesepakatan dengan nasabah (santri dan ketua asrama) adalah Rp 1.000 per kilogram untuk nasabah, Rp 1.000 untuk operasional, dan Rp 1.000 untuk kas. Setelah dicacah, laba semakin banyak,” tambahnya.

Pimpinan sangat mendukung santri untuk pengelolaan sampah berkelanjutan ini. Saat ini pesantren memiliki 2 mesin pengolah sampah anorganik. Satu mesin pencacah plastik (output biji plastik) seharga 16 juta rupiah. Satu lagi mesin pembuka cincin plastik seharga 6 juta rupiah. Ini meningkatkan kapasitas pengolahan sampah plastik.

Terus berbenah dan berinovasi

Manajemen tim pengelolaan sampah berkelanjutan Pesantren Al Anwar II terus berbenah. Optimalisasi itu relatif. Tim solid, tetapi ada hambatan pengelolaan di tengah kesibukan pesantren. Santri punya jadwal yang padat. Kegiatan pengelolaan sampah sering bersaing dengan kegiatan pondok.
Tim lokal di setiap asrama dibentuk. Mereka seperti ‘juri bayangan’ yang menilai kebersihan. Hasil pengumpulan sampah anorganik menjadi kriteria penilaian.

Pesantren Al-Anwar-2 juga menerapkan beberapa inovasi dan praktik terbaik seperti inovasi sistem hadiah. Tidak hanya uang, tetapi juga buku atau piagam. Selain itu ada agenda rutin pimpinan pesantren sehingga santri merasa termotivasi  dalam menjaga kebersihan dan pengelolaan sampah. ” Kemudian pemanfaatan sampah anorganik sebagai sumber kas mandiri. Hasil penjualan 2-3 juta per bulan adalah untuk kebutuhan tim kebersihan. Membuktikan sampah bisa menjadi sumber keuangan mandiri,” ujar Rozi.  selain itu ada pengembangan media sosial khusus sampah. Rencana membuat video profil pengelolaan sampah. Rutin memposting kegiatan harian pengelolaan sampah berkelanjutan ini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *