KabarKabar PesantrenPilihan Editor

Digitalisasi Pesantren Penting Untuk Menjaga Khasanah Nusantara dan Keislaman

48
×

Digitalisasi Pesantren Penting Untuk Menjaga Khasanah Nusantara dan Keislaman

Sebarkan artikel ini
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meluncurkan Digitalisasi Pesantren pada Devotion Experience (Dev-X) Kementerian Agama di JCC, Senayan ( Foto dok.kemenag.go.id)

P3M.OR.ID. Digitalisasi pesantren merupakan bagian dari menjaga khazanah nusantara. Untuk itu Kementerian Agama meluncurkan dua aplikasi dalam upaya melestarikan khasanah nusantara dan keilmuan keislaman. Adapun dua aplikasi yang diluncurkan adalah Pegon Virtual Keyboard dan Rumah Kitab.

“Ini menjadi bagian dari upaya menjaga khasanah nusantara. Karena aksara pegon sendiri sudah ada sejak zaman Walisongo, untuk melakukan dakwah. Belakangan sudah mulai hilang, dan kita tidak mengininkan ini tentunya,” ungkap Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas

Menurutnya salah satu cara melestarikan aksara Pegon adalah dengan mendigitalisasikannya. “Menurut penelitian, huruf ini dulu digunakan bangsa Melayu dalam mesyiarkan keilmuan dan keislaman. Khasanah ini agar bisa tetap bertahan adalah dengan digitalisasi.  Kemenag sejak setahun lalu dengan melibatkan ahli khat. Ini sangat luar biasa,” ucapnya.

Selain Pegon Keyboard Virtual, Kemenag juga merilis Rumah Kitab. “Rumah kitab itu aplikasi untuk belajar kitab tetapi dilakukan secara virtual, seperti ruang guru. Rumah Kitab bisa belajar tanpa mengenal jarak dan waktu, dengan modal handphone dan paket data,” katanya.

Adanya Rumah Kitab juga menjadi upaya Kementerian Agama dalam menjaga keilmuan serta keislaman yang selama ini digunakan pendidikan pesantren. Meski demikian, Gus Men panggilan akrab Yaqut Cholil Qoumas juga menilai masih ada kelemahan dalam aplikasi ini. Bukan dari segi sistem, namun secara keberkahan dalam menuntut ilmu.

Digitalisasi Pesantren

Meski demikian, Gus Men juga menilai masih ada kelemahan dalam aplikasi ini. Bukan dari segi sistem, namun secara keberkahan dalam menuntut ilmu.

“Tak ada yang sempurna pasti ada kelemahannya, terutama keberkahannya. Karena dulu santri datang ke pesantren niat awalnya adalah ambil barokah dulu, baru belajar. Tapi mudah-mudahan meski demikian tatap barokah. Karena ini memenuhi kebutuhan zaman. Karena sekali lagi ini niatnya menjaga khasanah nusantara dan keislaman dengan baik,” tutupnya.

Beberapa waktu yang lalu Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren (P3M) Sarmidi Husna menilai transformasi digital pada lingkungan pesantren menjadi salah satu isu penting dalam memperkuat kemandirian pesantren demi stabilitas nasional.

“Saat ini transformasi digital bukan lagi pilihan, tapi telah menjadi keharusan, sementara pesantren saat ini masih belum melek dunia digital,” katanya dalam Halaqah Nasional Pengasuh Pesantrendi Pesantren Al Muhajirin Purwakarta belum lama ini.

Sarmidi berharap bahwa pondok pesantren lebih inisiatif dan adaptif terhadap proses transformasi digital. “Di sisi lain, para pengasuh pesantren mendorong pemerintah untuk dapat memfasilitasi penguatan infrastruktur dan ekosistem digital di pesantren secara menyeluruh,” katanya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *