Kabar P3MPilihan Editor

Maarif Institute dan P3M Promosikan Toleransi dan Cegah Ekstremisme

35
×

Maarif Institute dan P3M Promosikan Toleransi dan Cegah Ekstremisme

Sebarkan artikel ini

MAARIF Institute bekerjasama dengan Perhimpunna Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), menyelenggarakan Workshop Lintas Agama; Penguatan Kolaborasi Lintas Agama Untuk Mempromosikan Toleransi Dan Pencegahan Ekstremisme Kekerasan. Kegiatan dilaksanakan secara daring pada Senin (9/8).

Sejumlah narasumber yan hadir di antaranya Prof. Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin (UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta) dan Erin Gayatri (Srikandi Lintas Iman). Acara ini dimoderatori oleh Hijroatul Maghfiroh dari P3M.

Abd. Rohim Ghazali, Direktur Eksekutif Maarif Institute, dalam pengantarnya mengatakan bahwa kegiatan workshop Lintas Agama ini amat sangat bermanfaat bagi para peserta, untuk meningkatkan toleransi, saling menghormati/menghargai, memperkuat kerjasama baik intern maupun antar umat beragama, dan memelihara kerukunan beragama sehingga mampu hidup bersama dalam keberagaman menuju kehidupan yang damai.

“Kita harus menciptakan suasana kehidupan beragama yang kondusif. Hal ini dilakukan dalam rangka memantapkan pendalaman dan penghayatan agama serta pengamalan agama yang mendukung pembinaan kerukunan hidup, baik intra dan antar umat beragama. Ini keniscayaan,” jelas Rohim.

Dalam paparannya, Ruhaini, mengatakan bahwa moderasi beragama menjadi bagian tak terpisahkan dari revolusi mental dan pembangunan kebudayaan. Konsep manusia moderat memiliki pandangan keyakinan yang egaliter, bertindak inklusif, serta berkehendak responsif afirmatif yang terbuka untuk berbagi di ruang publik.

“Dalam konteks kemajemukan di alam demokrasi, perbedaan keyakinan menjadi niscaya selama keadilan, kemakmuran dan jaminan perlindungan terhadap pelaksanaan ibadah dan aktivitas keagamaan terpenuhi,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa kesetaraan pendidikan dan keterbukaan informasi keagamaan telah mendewasakan umat Islam dalam melaksanakan kewajiban agama tanpa tergantung sepenuhnya pada pemimpin. Kalaupun kepemimpinan agama masih diperlukan, keberadaan organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dan NU dapat menjadi rujukan.

Dalam kesempatan yang sama, Gayatri mengatakan bahwa toleransi adalah sikap mau menerima dan menghargai segala perbedaan. Toleransi beragama dapat dilakukan dengan cara saling menghargai antar penganut agama lain.

“Yang dapat kita lakukan yaitu saling menjaga silaturahmi dan saling berkomunikasi antarumat beragama agar tidak saling curiga satu sama lain. Dengan demikian, cita-cita luhur bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang aman dan damai dapat sama-sama kita wujudkan,” ujarnya.

Workshop ini secara khusus didesain untuk memperkuat kapasitas tokoh agama dan kepemudaan di lingkungan organisasi dan aktivis lintas agama agar menjadi penangkal tumbuhnya ekstremisme atas nama agama, politik, ras atau apa saja yang didasari perbedaan.

Kegiatan ini diikuti oleh 50 orang peserta dari organisasi lintas agama di lima kota, yaitu Bandung, Bogor, Malang, Makassar dan Surakarta. Peserta terdiri dari GP Anshor, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Fatayat, Pemuda Kristen, Pemuda Katholik, Pemuda Hindhu, Pemuda Budha, Pemuda Konghuchu, dan Interfaith institutions/organizations/communities.

Artikel ini telah dimuat di IBTimes.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *