Majalah Kelompok Radikal
0

P3M Online – Penyebaran paham radikalisme dan aksi terorisme yang melibatkan anak-anak muda, membuat ibu-ibu perlu mengetahui cara menangkal radikalisme dalam keluarga melalui Mother School atau sekolah ibu yang didirikan oleh organisasi Women Without Border.

Kecemasan tampak jelas dari wajah seorang ibu dari dua anak yang namanya kami sebut sebagai Nurul Mardiah. Matanya memerah ketika bercerita tentang anak pertamanya yang diduga mengikuti ajaran radikal di salah satu pesantren di Jawa Timur.

Sesekali dia melihat foto anaknya di layar tablet.

Nurul mengatakan putranya secara rutin mengikuti kajian-kajian yang diadakan pesantren itu sejak usia 14 tahun ketika duduk di bangku SMP, sampai sekarang.

“Dia sudah terang-terangan menentang orangtuanya, mengatakan kita itu ahlul bi’ah, tasabuh (Fil Islam, menyerupai non-Muslim), sunnah itu bi’ah yang lebih parah lagi mengatakan pemerintah itu Thogut kaum kufar, ingin ke Palestina ingin membantu saudaranya sesama muslim yang di Palestina,” jelas Nurul menahan tangis.

Nurul Mardiah mengaku telah berupaya untuk menyadarkan anaknya, tetapi masih belum berhasil. Anaknya sekarang tinggal bersama dengan mantan suaminya di kota yang berbeda.

Alasan itu pula yang menyebabkan Nurul Mardiah mengikuti kelas Mother School atau Sekolah Ibu pertama di Indonesia, pada 2013 lalu yang digelar oleh organisasi yang berbasis di Wina, Austria, Women Without Borders (WWB) yang bekerja sama dengan ahli anti-terorisme Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE).

Inisiatif ini dilakukan di berbagai negara dengan dana dari berbagai kementerian di Austria, Uni Eropa dan Kemenlu AS.

Tanda-tanda radikalisme

Inisiatif dilakukan sejak 2012 di berbagai negara agar ibu dapat mencegah penyebaran radikalisme.

Sekolah pertama dibuka di Tajikistan pada 2012 lalu, kemudian di Pakistan dan Nigeria, di Indonesia Mother School yang pertama di Jember pada tiga tahun lalu, dan sekarang dikembangkan di beberapa daerah.

Dewirini Anggraeni, National coordinator WWB di Indonesia mengatakan banyak orangtua yang tidak menyadari anaknya telah terpengaruh ajaran radikal, setelah sang anak pergi ke Suriah ataupun melakukan aksi terorisme, karena mereka tak mengetahui tanda-tanda anak ‘terpengaruh paham radikal’.

“Ini yang disayangkan makanya adanya Mother School agar orangtua dapat mengetahui tanda-tanda dini mengenali tanda-tanda dini radikalisme yang masuk ke anak-anaknya mereka, di Mother School itu kita di trigger atau diberikan pendidikan untuk mengetahui perubahan perilaku anak,” jelas Dewirini.

Dia menjelaskan beberapa tanda anak-anak sudah ‘terpengaruh paham radikal’

“Anak udah tidak mau ikut makan malam bersama dengan keluarga atau pertemuan keluarga… pokoknya anak merasa tidak nyaman dengan orang lain, mereka tertutup dan punya ideologi mereka tersendiri dan berbeda dengan pada umumnya,” tambah dia.

Anak udah tidak mau ikut makan malam bersama dengan keluarga atua pertemuan keluarga… pokoknya anak merasa tidak nyaman dengan orang lain, mereka tertutup dan punya ideologi mereka tersendiri dan berbeda dengan pada umumnya

Dewirini menjelaskan untuk memahami bagaimana mengenali tanda dan melakukan pendekatan terhadap anak akan diajarkan dalam kelas Mother School yang berlangsung sekitar 10 kali.

Di Jakarta Barat, Mother School bekerja sama dan melibatkan ibu-ibu PKK yang berjumlah lebih dari 10 orang.

Ketika saya mengikuti kelas tersebut pada April lalu, tampak para peserta antusias untuk mengetahui bagaimana mengenali paham radikal di keluarga mereka.

“Waswasnya itu karena satu, okelah di lingkungan rumah kita udah kita arahkan ke anak-anak, tetapi nanti di luar rumah itu kita khawatirnya seperti itu, apalagi bilang udah keluar ISIS, teror cuci otak itu yang saya khawatir… apalagi anak saya kalo udah waktunya pulang itu ga’ pulang..,” jelas salah seorang peserta Sohroh M Sofa.

Kekhawatiran Sohroh semakin meningkat karena adanya penangkapan terduga teroris di lingkungan tempat tinggalnya, pasca serangan Thamrin Januari lalu.

“Nah apalagi saya kemarin dengar teroris ‘kan….., kita kaget kebetulan lingkungannya itu deket sama kita, cuma berbeda RW aja, itu kaget tiba-tiba kok ada teroris, mereka katanya berpindah-pindah tinggalnya,” jelas Sohroh.

Serangan bom dan senjata di kawasan Jl. Thamrin Jakarta pada Januari lalu, diduga dilakukan pelaku-pelaku berusia muda, sekitar 20-30 tahun, mereka dianggap sebagai generasi muda pelaku terorisme.

Sejumlah penelitian menyebutkan anak muda banyak yang mendukung aksi kekerasan ini. Media sosial dan kajian-kajian agama dianggap sebagai salah satu yang menyebarkan paham radikal, meski tak semuanya melakukan tindakan terorisme.

BNPT menyebutkan sekitar 500 orang telah bergabung dengan ISIS, yang sebagian besar adalah anak-anak muda.

Sumber: BBC

Redaksi P3M

US students learn multiculturalism in a pesantren in East Java

Previous article

Radical Teachings Enter Mosques of Gov’t Institutions

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Berita