Radikalisme
0

P3M Online – Badan Intelijen Negara (BIN) mengungkap 41  dari 100 masjid di lingkungan kementerian, lembaga negara, dan BUMN terinfiltrasi paham radikal. BIN menyebutkan hal itu berdasar hasil studi.

“Hasil survei terhadap kegiatan khotbah yang disampaikan beberapa penceramah. Survei dilakukan oleh P3M NU yang hasilnya disampaikan kepada BIN sebagai early warning dan ditindaklanjuti dengan pendalaman dan penelitian lanjutan oleh BIN,” kata Jubir Kepala BIN Wawan Hari Purwanto dilansir Detik.com.

Pernyataan soal 41 masjid terpapar radikalisme ini sebelumnya disampaikan oleh Kasubdit di Direktorat 83 BIN Arief Tugiman dalam diskusi Peran Ormas Islam dalam NKRI di Kantor Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Jakarta, Sabtu (17/11).

Wawan menyatakan, keberadaan masjid perlu dijaga dari segala upaya penyebaran kebencian.

“Keberadaan masjid di Kementerian/Lembaga dan BUMN perlu dijaga agar penyebaran ujaran kebencian terhadap kalangan tertentu melalui ceramah-ceramah agama tidak mempengaruhi masyarakat dan mendegradasi Islam sebagai agama yang menghormati setiap golongan,” tutur Wawan.

“Hal tersebut adalah upaya BIN untuk memberikan early warning dalam rangka meningkatkan kewaspadaan, tetap menjaga sikap toleran dan menghargai kebhinekaan,” jelasnya.

Lebih lanjut, dalam mencegah tersebarnya paham radikalisme juga dilakukan pemberdayaan da’i agar menyampaikan ceramah yang menyejukan.

“Terkait tujuh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang terpapar radikalisme, dan 39 persen mahasiswa di 15 Provinsi tertarik dengan paham radikal, benar adanya,” ujar Wawan.

“Namun data PTN dimaksud hanya disampaikan kepada Pimpinan Universitas tersebut untuk evaluasi, deteksi dini dan cegah dini, tidak untuk konsumsi publik, guna menghindari hal-hal yang merugikan universitas tersebut,” paparnya.

Redaksi P3M

Workshop Konsolidasi Program – Masjid Peduli Desa di Lebak

Previous article

BIN Bina 50 Lebih Dai Terkait 41 Masjid Terpapar Radikalisme

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Berita