0

Korupsi telah menjadi penyakit nomer wahid di negri ini. Daya jangkitnya tidak mengenal batas. Mulai dari rakyat biasa, tentara,birokrasi sampai rohaniwanpun terkena virusnya. Lebih parah lagi, korupsi telah menjadi budaya baru  di negri ini. Perilaku korup yang seharusnya dihindari, berubah menjadi sesuatu yang lumprah dilakukan. Yang terjadi di sini, korupsi tidak mengalami proses kriminalisme. Tetapi sebaliknya, korupsi menjadi sebuah perilaku yang wajar dan diterimamasyarakat.
Dari kejahatan korupsi ini, ada sebuwah titik simpul yang menarik. Ia selalu berujung dari dan pada penyalahgunaan keuwangan republik. Tidak aneh jika wilayah terbesar arena (sarang) korupsi pada birokrasi. Data Bang Dunia misalnya, mununjuk lebih dari 20 sampai 40 persen dana anggaran telah dikorupsi para birokrat. Birokrat menjadi ladang subur tindak korupsi. Sementara BPK mengungkapkan, tahun anggaran 2002 kemarin, lebih dari RP 30 triliyun dana anggaran kita bocor. Kenyataan ini menjadi sebuah tolak ukur bagi kita bahwa korupsi di negeri sudah sangat parah.
Meminjam istilah pengamat politik Arbi Sanit, korupsi di negeri ini telah menjadi darah daging. Tidak salah kalau pangkat Negara terkorup se-Asia melekat di negeri kita. Korupsi itu seperti kanker yang menggerogoti tubuh yang berjalan mempengaruhi system, seluruh unsure Negara dan seluruh lapisan masyarakat. Korupsi tidak mengenal kondisi dan jenis kelamin. Dalam keadaan aman atau perang, lelaki atau perempuan.

Judul : Menolak Korupsi Membangun Kesalehan Sosial
Penulis : KH. Mustofa Bisri, Dkk. 

Editor: Burhan AS
Penerbit : Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)
Tahun : Cetakan I, 2004
Tebal : xvi+152 halaman

Redaksi P3M

Pendapatan Guru Ngaji dan Ustaz Memprihatinkan

Previous article

Mengutamakan Hak-Hak Dasar Rakyat: Panduan Gerakan Pesantren Mengawal Kebijakan Anggaran Daerah

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Buku