Pendidikan Quote Gus Dur
Khazanah IslamPilihan EditorTokoh

Tuan Guru H Turmudzi, Ulama Sasak yang Membangun Pesantren Qomarul Huda hingga Perguruan Tinggi

10
×

Tuan Guru H Turmudzi, Ulama Sasak yang Membangun Pesantren Qomarul Huda hingga Perguruan Tinggi

Sebarkan artikel ini
Tuan Guru Turmudzi
TGH Turmudzi merupakan ulama Sasak, mursyid tarekat, dan pengasuh Pesantren Qomarul Huda yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan Islam. ( foro nu.or.id)

P3M.OR.ID. Tuan Guru Haji (TGH) Turmudzi dikenal sebagai ulama kharismatik dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia mengabdikan hidupnya untuk pendidikan Islam, pengembangan pesantren, dan perjuangan Nahdlatul Ulama (NU). Ulama yang akrab disapa Datuk ini pernah menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010–2015. Selain itu, ia menjadi mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sekaligus pengasuh Pesantren Qomarul Huda di Bagu, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah.

Perjalanan hidup TGH Turmudzi memperlihatkan peran ulama lokal dalam membangun tradisi keilmuan Islam. Melalui pendidikan pesantren, ia ikut memperkuat fondasi pendidikan keagamaan masyarakat Sasak.

Berasal dari Keluarga Bangsawan Sasak

TGH Turmudzi lahir pada 1 April 1936 dari keluarga Perwangse atau bangsawan Sasak. Gelar “Lalu” yang melekat pada namanya menunjukkan latar belakang kebangsawanan tersebut. Ayahnya, Tuan Guru Haji Lalu Badarudin, merupakan ulama berpengaruh yang merintis pendidikan Islam di lingkungan keluarga. Ia memulai pengajaran agama melalui langgar kecil di rumahnya.

Dari tempat sederhana itu, pendidikan berkembang menjadi pesantren, madrasah, hingga perguruan tinggi. Tradisi tersebut kemudian menjadi fondasi penting bagi perjalanan pendidikan Islam di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar. Sejak kecil, Turmudzi memperoleh pendidikan agama langsung dari orang tuanya. Pada 1944, ia melanjutkan pendidikan formal melalui Sekolah Rakyat.

Beliau kemudian belajar di Madrasah Mu’allimin Darul Qur’an, Bengkel, Lombok. Ia menempuh pendidikan di lembaga yang diasuh TGH Soleh Chambali pada 1948–1952. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, Turmudzi berangkat ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Ia menetap di kota suci itu selama sepuluh tahun sebelum kembali ke Indonesia pada 1962. Pengalaman belajar di Makkah memperkaya perjalanan keilmuannya. Setelah pulang ke tanah air, ia mulai mengembangkan pendidikan Islam melalui pendirian madrasah di kampung halamannya.

Membangun Pesantren Qomarul Huda dari Madrasah

Pada 1962, TGH Turmudzi merintis Madrasah Diniyah dan Madrasah Ibtidaiyah Qomarul Huda. Setahun kemudian, ia mendirikan Pesantren Qomarul Huda untuk memperluas pendidikan agama bagi masyarakat. Pengembangan lembaga pendidikan terus berlanjut. Pesantren tersebut mendirikan Madrasah Tsanawiyah pada 1968 dan Madrasah Aliyah pada 1984.

Langkah itu menunjukkan konsistensinya dalam memperluas akses pendidikan Islam. Ia tidak hanya membangun tempat belajar agama, tetapi juga menyiapkan jalur pendidikan berjenjang bagi para santri. Pada 1999, Pesantren Qomarul Huda menjadi tuan rumah Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar PBNU. Momentum tersebut turut mendorong gagasan pendirian perguruan tinggi di lingkungan pesantren.

Atas inisiatif KH Abdurrahman Wahid, yang saat itu menjabat Ketua Umum PBNU, pesantren menjalin kerja sama dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Ibrahimy di Jawa Timur. Kerja sama tersebut melahirkan STAI Ibrahimy di lingkungan Pesantren Qomarul Huda pada 1999. Selain mengasuh pesantren, TGH Turmudzi aktif mengembangkan organisasi NU. Ia memulai kiprah dari tingkat Ranting Bagu, kemudian menjadi bagian dari jajaran Syuriyah di tingkat kecamatan dan kabupaten.

Karier organisasinya berlanjut sebagai Wakil Rais Syuriyah PCNU Lombok Tengah. Ia kemudian mengemban amanah sebagai Wakil Rais Syuriyah PWNU NTB dan Rais Syuriyah PWNU NTB. Pengalaman tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam penguatan organisasi keagamaan di tingkat lokal maupun wilayah. Perannya sebagai Mustasyar PBNU juga menempatkannya dalam jajaran ulama senior yang memberikan pertimbangan bagi organisasi.

Menjaga Tradisi Spiritual dan Kesederhanaan

TGH Turmudzi juga dikenal sebagai mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Peran tersebut menegaskan kiprahnya dalam membimbing kehidupan spiritual para pengikut tarekat. Pada 2009, beliau menulis Zadul Ma’ad, sebuah karya yang berisi wirid dan doa untuk diamalkan para santri serta masyarakat luas. Karya tersebut menjadi bagian dari kontribusinya dalam menjaga tradisi amalan keagamaan.

Di tengah pengaruhnya sebagai ulama Sasak, TGH Turmudzi tetap dikenal karena kesederhanaan dan keteguhannya menjalankan tugas keulamaan. Ia menunjukkan bahwa pengabdian seorang ulama tidak hanya tumbuh melalui dakwah, tetapi juga melalui pendidikan, organisasi, dan pembinaan spiritual. Perjalanan TGH Turmudzi memperlihatkan bagaimana tradisi keilmuan keluarga dapat berkembang menjadi lembaga pendidikan yang menjangkau masyarakat luas. Pesantren Qomarul Huda menjadi salah satu jejak nyata pengabdiannya bagi pendidikan Islam di Lombok. Ulama sepuh kharismatik asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin meninggal dunia pada Kamis (15/10/2026) pukul 13.37 Wita. . Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah meninggalkan warisan luar biasa bagi umat Islam di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Khutbah Jumat

Khotbah Pertama إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِيْرُهُ…

Ini adalah toko demo untuk tujuan pengujian — tidak ada pesanan yang harus dipenuhi.