P3M.OR.ID. Pondok Pesantren NU Darul Falah Pagutan menjadi salah satu pusat pendidikan Islam bersejarah di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pesantren ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan akhlak, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Berawal dari pengajian sederhana di serambi rumah, Darul Falah tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang menaungi berbagai jenjang pembelajaran. Perjalanan tersebut mencerminkan ketekunan pendirinya, Tuan Guru Haji (TGH) Abhar Muhyiddin, dalam membangun pendidikan Islam yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Berlokasi di Jalan Bhanda Sraya Nomor 47, Pagutan Timur, Kecamatan Mataram, pesantren ini mempertahankan tradisi keilmuan salaf sekaligus mengembangkan pendidikan modern. Perpaduan tersebut menjadi karakter penting dalam perjalanan panjang Darul Falah.
Dari Serambi Rumah Menuju Pesantren Bersejarah
Sejarah Darul Falah bermula dari keinginan masyarakat memperoleh bimbingan agama secara langsung. Setelah menunaikan ibadah haji, TGH Abhar Muhyiddin merintis pengajian untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pengajian pertama berlangsung di serambi rumah pendiri. Tempatnya sangat sederhana, hanya berukuran sekitar enam kali tiga meter. TGH Abhar kemudian memberikan nama Darul Falah, yang bermakna rumah keberuntungan atau kebahagiaan. Pengajian tersebut menjadi fondasi bagi perkembangan lembaga pendidikan Islam yang terus tumbuh hingga sekarang.
Catatan sejarah yang dikutip NU Online menyebutkan bahwa pengajian Darul Falah bermula pada 29 Rajab 1376 Hijriah, bertepatan dengan 1956 Masehi. Pada masa awal, pengajian ini menarik santri dari sejumlah wilayah Lombok. Jumlah peserta yang mengikuti pengajian terus bertambah seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat. Semangat belajar para santri juga memperkuat fondasi pesantren dalam membangun tradisi pendidikan yang berkelanjutan.
Perjalanan Darul Falah tidak dapat dipisahkan dari peran TGH Abhar Muhyiddin sebagai pendiri. Ia memulai pendidikan tersebut dengan fasilitas terbatas, tetapi memiliki komitmen kuat terhadap pengajaran agama. Melalui pengajian rutin, TGH Abhar membangun lingkungan belajar yang menekankan ketekunan dan keikhlasan. Nilai-nilai tersebut kemudian berkembang menjadi bagian penting dari karakter pendidikan pesantren.
Dalam perkembangannya, Darul Falah tidak berhenti sebagai tempat pengajian tradisional. Pengelola memperluas kegiatan pendidikan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. Langkah tersebut memperlihatkan bagaimana pesantren dapat berkembang tanpa meninggalkan akar tradisi. Warisan TGH Abhar tetap hidup melalui pengajaran agama, pembentukan karakter, dan penguatan pendidikan generasi muda.
Memadukan Tradisi Salaf dan Pendidikan Modern
Pondok Pesantren NU Darul Falah Pagutan mempertahankan pengajaran kitab kuning sebagai bagian penting dari tradisi keilmuan Islam. Para santri mempelajari khazanah keislaman melalui metode pembelajaran yang berkembang di lingkungan pesantren. Selain itu, pesantren memberi perhatian pada pembentukan akhlak dan pendalaman ilmu tasawuf. Pendidikan tersebut membantu santri memahami agama sekaligus menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Darul Falah juga mengembangkan pendidikan umum untuk memperluas wawasan santri. Dengan demikian, mereka memperoleh bekal keagamaan sekaligus pengetahuan yang mendukung kehidupan sosial dan profesional. Perpaduan pendidikan tersebut menunjukkan bahwa tradisi salaf tidak harus bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, pesantren dapat menjaga identitas keislamannya sambil menyiapkan santri menghadapi perubahan zaman.
Pengembangan pendidikan umum Darul Falah bahkan memperoleh pengakuan pada 2015. Saat itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan memberikan penghargaan kepada lembaga pendidikan tersebut atas kiprahnya di Lombok.
Fasilitas Pendidikan dan Pengembangan Kampus Pesantren
Pertumbuhan jumlah santri mendorong Darul Falah mengembangkan lingkungan pendidikan yang lebih luas. Berdasarkan informasi yang dihimpun NU Online, kompleks pesantren ini berdiri di atas lahan sekitar 6.000 meter persegi. Kawasan tersebut mendukung kegiatan pendidikan, pembinaan santri, dan aktivitas kelembagaan pesantren. Pengembangan kompleks juga mencerminkan kebutuhan pengelola dalam menyediakan lingkungan belajar yang menunjang kehidupan sehari-hari santri.
Darul Falah turut mengembangkan pendidikan tinggi melalui Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Darul Falah. Kehadiran perguruan tinggi tersebut memperluas kesempatan santri melanjutkan pendidikan dalam bidang keislaman. Namun, rincian fasilitas tertentu, seperti kapasitas asrama, jumlah ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, dan sarana olahraga, memerlukan konfirmasi langsung dari pengelola. Informasi tersebut penting agar masyarakat memperoleh gambaran akurat mengenai fasilitas yang tersedia saat ini.
Pengembangan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi memperlihatkan upaya Darul Falah membangun kesinambungan pembelajaran. Santri memiliki kesempatan memperdalam ilmu agama sekaligus memperluas wawasan akademik.
Salah satu catatan penting dalam perjalanan Darul Falah terjadi pada 23–25 November 2017. Saat itu, pesantren menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Nusa Tenggara Barat. Kompleks pesantren menjadi tempat berlangsungnya sidang komisi Bahtsul Masail Waqi’iyah, Maudhu’iyah, dan Qanuniyah. Para kiai dari berbagai daerah membahas persoalan masyarakat, bangsa, dan negara melalui perspektif hukum Islam.
Forum tersebut membahas 18 persoalan yang membutuhkan pandangan keagamaan dan pertimbangan hukum. Para peserta berupaya merumuskan jawaban melalui tradisi diskusi ilmiah yang menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama. Penyelenggaraan forum nasional itu turut menunjukkan kemampuan pesantren mendukung kegiatan berskala besar. Darul Falah tidak hanya menyediakan tempat, tetapi juga menggerakkan santri untuk membantu kelancaran acara.
Keteladanan Santri Menjadi Cerminan Pendidikan Akhlak
Selama kegiatan berlangsung, para santri membantu melayani tamu dan mendukung kebutuhan para kiai. Mereka menjalankan tugas, mulai dari menjaga pintu masuk hingga memastikan aktivitas tamu berjalan lancar. Sebagian santri bahkan merapikan sandal para tamu agar mudah digunakan kembali. Mereka tetap menjalankan tugas tersebut meskipun pembahasan Bahtsul Masail berlangsung hingga larut malam.
Kebiasaan sederhana itu menggambarkan nilai penghormatan kepada guru dan tamu dalam tradisi pesantren. Para santri tidak sekadar mempelajari akhlak melalui pelajaran, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Pengelola juga mengatur penjagaan melalui sistem giliran untuk mendukung kelancaran kegiatan. Keterlibatan santri memperlihatkan pentingnya kedisiplinan, tanggung jawab, dan kerja sama dalam pendidikan pesantren.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada fasilitas atau capaian akademik. Pembentukan karakter juga berperan penting dalam menyiapkan generasi yang mampu hidup berdampingan dengan masyarakat.
Menjaga Warisan Pendiri untuk Generasi Mendatang
Perjalanan Pondok Pesantren NU Darul Falah Pagutan memperlihatkan perubahan dari pengajian sederhana menjadi lembaga pendidikan dengan cakupan yang semakin luas. Perkembangan tersebut bertumpu pada warisan keilmuan dan keteladanan TGH Abhar Muhyiddin. Pesantren terus memadukan pengajaran agama, pendidikan umum, dan pengembangan akademik. Pendekatan ini memberi ruang bagi santri untuk memahami tradisi Islam sekaligus mengikuti perkembangan masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, Darul Falah mempertahankan akhlak sebagai bagian penting dari proses pendidikan. Nilai tersebut tampak melalui kedisiplinan, penghormatan kepada guru, dan kesediaan santri melayani orang lain. Dengan sejarah panjang dan pengembangan pendidikan yang berkelanjutan, Darul Falah memiliki peran penting dalam perjalanan pendidikan Islam di Lombok. Warisan pendirinya menjadi pengingat bahwa kemajuan pesantren membutuhkan keseimbangan antara penguasaan ilmu dan pembentukan karakter.













