Syech Afifuddin Aljailani: Syiah-nonSyiah harus tebarkan cinta

0
59
P3M, Surabaya- Ulama Baghdad Maulana Syech Afifuddin Abdul Qodir bin Mansyuruddin Aljailani Albaghdadi meminta kelompok Syiah dan non-Syiah untuk saling menebarkan cinta di antara mereka, karena Islam itu menyebarkan cinta, bukan kebencian.
“Karena itu Syiah jangan membenci pecinta Abubakar Assiddiq dan sebaliknya non-Syiah juga jangan membenci pecinta Ali bin Abi Thalib, karena Nabi Muhammad SAW menggandeng keduanya untuk sama-sama masuk ke surga,” katanya di Gedung PWNU Jatim, Surabaya, Selasa.
Ia mengemukakan hal itu dalam silaturrahmi dan sambutan pada pengajian Hari Lahir ke-89 Nahdlatul Ulama (NU) di Gedung PWNU Jatim yang dihadiri Wakil Rais Syuriah PWNU KH Agoes Ali Masyhuri, Wakil Katib PWNU KH Abdurrahman Navis Lc, dan Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah.
Dalam acara yang juga dihadiri Ketua Majelis Taklim Roudlotus Salaf, Bangil, Pasuruan, Habib Umar bin Abdullah Assegaf, Syech Afifuddin yang merupakan keturunan ke-19 dari mursyid tarekat Qodiriyah, Syech Abdul Qodir Aljailani itu, mengakui kedatangannya ke PWNU untuk bertemu saudara sendiri.
“Pertemuan ini merupakan pertemuan sesama saudara, karena negeri ini paling kuat Islamnya. Dalam berdakwah di Jember, Malang, Bangil, Surabaya, saya lihat masyarakatnya ramah dan tumaknina (khusyuk dalam beragama),” katanya.
Apalagi, katanya, NU merupakan perkumpulan umat Islam yang kuat di Indonesia, karena itu umat Islam yang mayoritas itu tidak mungkin sesat seperti tuduhan orang lain bahwa warga NU sering berbuat bid`ah.
“Misalnya, bacaan Fatihah kepada orang yang sudah meninggal dunia itu dikatakan tidak bermanfaat, padahal Shalat Jenazah itu membaca Fatihah, shalawat, dan bacaan lainnya, apakah hal itu sesat?,” katanya.
Dalam beberapa bulan terakhir, di Jatim terjadi gejolak umat Islam dengan kelompok Syiah di Sampang, Bondowoso, Jember, dan sebagainya, bahkan gejolak terkait Syiah di Sampang memicu aksi kekerasan.
Di sela-sela acara itu, Sekretaris Majelis Taklim Roudlotus Salaf, Bangil, Pasuruan, H Murtaji Djunaidi, menegaskan bahwa Syech Afifuddin yang kini bermukim di Kuala Lumpur itu sudah menganggap Indonesia sebagai “negara kedua” setelah Baghdad.
“Tahun lalu, beliau menyediakan waktu untuk berdakwah di Indonesia hanya tiga hari, tapi tahun ini cukup lama yakni 14-27 Juni. Tentu, hal itu karena kesan positif beliau terhadap umat Islam di Indonesia,” katanya.
Ia menjelaskan Syech Afifuddin tiba di Jakarta pada 14 Juni, lalu bersilaturrahmi ke Bangil, Pasuruan untuk menyantuni 2.000-an anak yatim pada 15 Juni lalu. “Beliau sempat menyemangati anak-anak yatim agar tidak berkecil hati, karena Nabi Muhammad SAW juga yatim piatu,” katanya.
Pada 16 Juni, Syech Afifuddin menghadiri Haul Habib Abdullah bin Sholeh Assegaf di Bangil, Pasuruan, lalu pada 17 Juni menghadiri Haul Syech Abdul Qodir Aljailani di Bangil, Pasuruan.
Selanjutnya, ke Pesantren Putri Salafiyah, Bangil, Pasuruan pada 18 Juni, lalu ke Pesantren Assalafiyah milik KH Hamid di Pasuruan dan mengunjungi TV-9 serta ke PWNU Jatim di Surabaya pada 19 Juni.
Pada 20 Juni, Syech Afifuddin menghadiri pengajian oleh Jamaah Manaqib di Curahmalang, Jember. “Beliau juga bertemu Kiai Asrori di Kedinding Lor, Surabaya dan ke Malang,” katanya.
Dari Jatim, Syech Afifuddin juga akan bersilaturrahmi dengan umat Islam di NTB dan Banjarmasin hingga akhirnya kembali ke Jakarta pada 27 Juni untuk persiapan pulang ke Kuala Lumpur, Malaysia. (ANT)
Editor: B Kunto Wibisono
Sumber: Antara

Repost: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini