Artikel

Jalan Panjang Nahdlatul Ulama (Bagian 1)

30
×

Jalan Panjang Nahdlatul Ulama (Bagian 1)

Sebarkan artikel ini

Pada awal berdirinya, NU menegaskan diri sebagai organisasi keagamaan.

Ketua Umum PBNU – KH. Said Aqil Siraj –
Photo: ROL

Sejak berdiri pada 1926, Nahdlatul Ulama (NU) menjadi organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia. 
Cikal bakal NU adalah sebuah organisasi pergerakan bernama Nahdlatul Wathan yang berdiri pada 1916. Organisasi ini bertujuan menampung pergerakan para santri dalam melawan kolonial.
Organisasi para santri ini pun terus berkembang hingga pada 1918 berdiri Taswirul Afkar atau Nahdlatul Fikri atau Kebangkitan Pemikiran. Dalam perkembangannya, organisasi kebangkitan santri tersebut mendirikan Nahdlatul Tujjar. Tujuannya adalah memajukan perekonomian rakyat kecil.
Suatu kali, ketika paham pembaruan dari Arab Saudi merasuki Muslimin nusantara, kalangan pesantren bergolak. Sebab, paham tersebut menganggap tradisi pesantren seperti ziarah kubur adalah perkara bid’ah.
Paham tersebut diterima kaum Muslim modernis seperti Muhammadiyah dan Serikat Islam, sementara kalangan pesantren tradisionalis menolak mentah-mentah. Paham tersebut dianggap telah membatasi mazhab dan menghancurkan warisan peradaban.
Atas penolakan tersebut, kalangan santri pun dikeluarkan dari anggota Kongres Al-Islam pada 1925 di Yogyakarta. Mereka juga tidak diikutsertakan dalam Kongres Islam Internasional Mu’tamar Alam Islami di Makkah. 
Akhirnya, kalangan pesantren membuat kelompok sendiri bernama Komite Hejaz dengan ketua KH Wahab Hasbullah. Komite ini menyuarakan kebebasan bermazhab.
Dari komite inilah kemudian muncul inisiatif dari para ulama pengasuh pondok pesantren untuk membentuk NU pada 16 Rajab 1344 Hijriah atau 31 Januari 1926 di Surabaya. 
Tokoh-tokoh pendiri NU, di antaranya, KH Hasyim Asy’ari dari Tebuireng, Jombang, yang kemudian menjadi Rais NU pertama, KH Wahab Hasbullah dari Surabaya, KH Bisri Syamsuri dari Denanyar Jombang, KH R Asnawi dari Kudus, KH Ridwan asal Semarang, KH R Hambali dari Kudus, KH Nachrowi dari Malang, KH Ndoro Muntaha asal Madura, serta KH Nawawi dari Pasuruan. 
Organisasi ini dinamakan Nahdlatul Ulama yang bermakna kebangkitan ulama. Secara etimologis, Al-Nahdlah berarti kemampuan, kekuatan, atau terobosan dalam mengupayakan kemajuan masyarakat.
Rozikin Daman dalam Membidik NU mengatakan, kehadiran NU saat itu dipandang sebagai upaya untuk mewadahi, melembagakan, dan mengembangkan langkah, kegiatan serta gerakan para ulama yang telah dilakukan sebelumnya. Para ulama pesantren yang tergabung di NU secara umum memiliki kesamaan pandangan dan tradisi agama berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah. 
Selain itu, pendirian NU sebagai Jam’iyah Diniyah atau organisasi keagamaan, menurut Daman, hadir melengkapi organisasi sosial kebangsaan dan organisasi sosial keagamaan, seperti Boedi Utomo, Serikat Islam, dan Muhammadiyah. (Afriza Hanifa)

Post: ROL
Link: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/04/12/n3wj5l-jalan-panjang-nahdlatul-ulama-1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *