P3M.OR.ID – Film-film pendek bertemakan perdamaian, kemajemukan dan toleransi buatan para santri kini bisa dinikmati melalui situs Youtube. Sepuluh film santri pilihan ini dikerjakan oleh para santri yang berasal dari sepuluh pondok pesantren dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebelumnya film-film tersebut dilombakan dalam Festival Film Santri (FFS) pada pertengahan tahun lalu yang bertema “Memahami untuk Menghargai”. Film-film ini sudah dipertontonkan kepada sedikitnya 3.200 orang di berbagai pesantren, sekolah, kampus di dalam dan luar negeri.

Sepuluh film pendek tersebut yakni “Santri Punk” dari pondok pesantren (ponpes) Nahdlatul Ulum Maros Sulawesi Selatan, “Kuda Lumping” dari Ponpes Sabilul Hasanah Banyuasin Sumatera Selatan, “Mujaji” dari Ponpes As-Shiddiqiyah Tangerang, “Shalawat” dari pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten, “Santri bukan Bibit Teroris” dari ponpes Al-Ghazaly Bogor Jawa Barat.

Selain itu ada “Harmoni Sutarji” dari ponpes Darul Ma’arif Lamongan Jawa Timur, “Dhewek be Islam” dari ponpes Al-Ihya Ulumaddin Cilacap Jawa Tengah, “Sasambat” dari ponpes Madinah Rasul, Babakan, Cirebon, Jawa Barat, “Satu Alamat” dari ponpes Al-Muayyad, Solo, Jawa Tengah, “Tata Cara Tante Cora” dari ponpes Nahdlatul Ulum, Sulawesi Selatan.

Penyelenggaraan dan sosialisasi toleransi melalui media video dan penyiaran itu didukung oleh Search for Common Ground (SFCG) dan The Wahid Institute serta Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M).

Meskipun karya-karya mereka sudah bisa ditonton melalui internet, para santri sendiri hanya menggunakan internet dengan terbatas. Dengan tujuan mengerjakan tugas, internet baru diperbolehkan misalnya yang berlaku di ponpes Sabilul Hasanah, Banyuasin. Namun demikian, para santri masih ingin membuat film-film selanjutnya agar bisa ditonton oleh masyarakat luas.

Tim pembuat film yang ikut dalam FFS dari ponpes Sabilul Hasanah delapan orang, lima perempuan dan tiga lelaki. Sementara pelajar di ponpes tersebut memang sebagian besar, hingga 60 persen adalah santri perempuan.

“Di Sekayu ada tanah yang kabarnya bisa dimakan,” kata Muhammad Rizky Astary, salah satu santri di Sabilul Hasanah ketika ditemui di pondokannya di Banyuasin, Sumatera Selatan, Senin petang (24/2). Hal tersebut kata dia akan sangat menarik diangkat menjadi film pendek.

Sementara salah satu pimpinan yayasan ponpes itu, Ubaidillah Luai menilai pengetahuan media dan penyiaran akan membawa hal positif bagi para santrinya. Menurutnya, banyak yang berminat belajar keahlian media tersebut. “Sejak tahun 2011 diadakan pelatihan (radio dan video),” kata Ubaidillah. (beritasatu/kan)


Category: Berita

Tags: