KETAPANG – Bagi kalangan pondok pesatren (ponpes), mempelajari buku klasik berbahasa Arab atau sering disebut dengan kitab “kuning” hal yang mengherankan. Namun sedikit mengetahui, bahwa kitab kuning yang klasik itu banyak digunakan peneliti dunia dalam mempelajari Islam.
“Selama ini ada anggapan sulit dalam mempelajari kitab kuning, padahal kitab kuning banyak dijadikan bahan atau literatur para peneliti dunia dalam mempelajari Islam,” kata Mat Nuh, Kasi Kesra Setwilda Kabupaten Ketapang dalam acara peluncuran program cepat membaca kitab kuning di Ponpes Nurilahi Sukaharja, Senin (23/1).
Di hadapan para pengurus ponpes dan para santri, Mat Nuh mengatakan tantangan di masa mendatang akan lebih berat. Zaman yang terus berkembang memaksa setiap lembaga pendidikan termasuk ponpes untuk menyiapkan sumber daya manusia yang andal.
“Untuk itu mari kita menjadi motivator dalam segala bidang bukan sebaliknya menjadi beban masyarakat,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Kasi PK Pontren Kementrian Agama Kabupaten Ketapang Drs Nasbun menuturkan kelebihan pondok pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya dikarenakan di pondok pesantren ada program pembacaan kitab kuning yang menjadi rujukan dalam memahami ajaran Islam dengan baik dan benar.
“Kebanyakan kita paham agama hanya dari mendengar dan itu hanya untuk diri sendiri. Sedangkan memahami Islam untuk dapat disampaikan ke khalayak harus memahami kitab kuning yang rujukan aslinya Alquran dan hadis,” terang Nasbun.
Dikatakannya, Kementerian Agama Kabupaten Ketapang akan terus memantau dan mensupport pemahaman dan pembacaan kitab kuning di Ponpes Nur Ilahi dengan harapan dapat dipelajari santri dan masyarakat sekitar.
Tokoh masyarakat Sukaharja Abdullah Lehan mengatakan Ponpes Nur Ilahi dibangun atas ide dan swadaya masyarakat Ketapang. Dalam perjalanannya, Ponpes Nur Ilahi tersendat-sendat karena terbentur masalah pendanaan.
“Saya mengimbau kepada semua masyarakat agar ikut berpartisipasi membantu kelangsungan proses belajar-mengajar di Ponpes Nur Ilahi demi menegakkan siar agama Islam,” tuturnya.
Diakuinya, kondisi ponpes saat ini cukup memprihatinkan. Banyak atap yang berlubang sehingga mengganggu santri belajar saat hujan. Sementara sumber pendanaan juga sangat minim. Belum lagi setiap usulan yang diajukan ke pemerintah tidak dikabulkan.
“Sungguhpun demikian, Ponpes Nur Ilahi masih tetap eksis. Khusus untuk warga miskin tak dipungut bayaran,” ungkapnya. (KiA)

Category: Berita