Apa kabar Indonesia hari ini. Kabar buruk setiap hari untuk anak-anak dan rakyat negeri ini. Baru-baru ini ramai di pemberitaan, dan social media, dengan foto-foto anak-anak sekolah sedang menyebrangi sungai untuk sekolah dari kampungnya. Menyebrangi sungai, tentu bukan hal yang aneh, tetapi menjadi luar biasa karena anak-anak dari berbagai daerah musti menyebrangi sungai dengan ‘jembatan’ yang tak layak. Di Kampung Ciwaru, Desa Sangiang Tanjung, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Banten, anak-anak pulang pergi sekolah harus menyebrangi jembatan gantung yang tinggal separo tali penahannya, anak-anak bergelantungan meniti sisa-sisa papan jembatan.

Tak kalah, di Dusun Cadas Bodas, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut Jawa Barat, kondisi serupa juga terjadi. Tak ada jembatan, anak-anak yang masih kecil itu harus terjun langsung menyebrangi sungai Cisanggiri, yang lebarnya 100 meter.
Di Kompas, dimuat gambar anak-anak kampung Cicaringin, Kecamatan Gunung Kencana, Lebak, Banten. Anak-anak SD nampak sedang menyebrangi sungai dengan meniti tali baja. 
Mereka anak-anak hebat. Meski dapat kita dengar sebagai anak-anak, mungkin dalam hati mereka juga sebenarnya terbesit untuk tak mau melakukan itu. Sedikit ada keengganan ke sekolah, karena harus setiap hari bertaruh nyawa untuk menimba ilmu.  Miris yang melihatnya. Bukan soal perasaan anak-anak itu tentunya. Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Mungkin hanya sekian dari ribuan kasus di negeri ini. Banyak hal yang bisa dilihat dari satu macam gambar dari sekian gambar serupa seperti ini. Soal akses pendidikan? Kesadaran warga dan anak-anak untuk mengenyam pendidikan tentu tak diragukan. Tetapi bahwa kesadaran Pemda, Lebak, baik dari aparatur di tingkat kabupaten, kecamatan, maupun desanya, kesadaran tentang akses pendidikannya sepertinya bisa dibilang minim. Persoalan jembatan seperti ini di satu daerah tentu bukan sekedar persoalan akses pendidikan semata, kebijakan, keberpihakan, ekonomi warga, sosial-politik, budaya dan sebagainya, akan sangat memiliki implikasi logis dari tidak adanya satu hal, jembatan.
Kalau persoalan jembatan saja, yang secara konkrit memiliki fungsi sedemikian pentingnya, tidak ditangani dengan tanggap dan cepat, tak heran kalau kita tak pernah bisa bicara banyak hal di level percaturan dan persaingan global. Pertanian, kelautan, kehutanan, perkebunan, pertambangan, telekomunikasi-informatika, dan teknologi, sepertinya masih terlalu mengandalkan investor asing, yang sejatinya datang ke negeri ini karena sudah kehabisan sumber daya di negerinya. Sumber daya yang terkait hajat hidup orang banyak dikelola negara bukan menjadi basis penggerak dari ideologi perekonomian Indonesia, hanya sekedar slogan yang masih kalah dengan iklan-iklan simcard dan rokok di TV-TV.
Parahnya, para pejabat, di legislatif dan eksekutif, berlomba bukan untuk bertugas yang baik demi kemajuan bangsa, tetapi lebih pada kenyamanan pribadi dan golongan. Kalo bisa, mereka bisa hidup mewah, pergi jalan-jalan ke luar negeri di biayai negara, syukur kalau akomodasi dan oleh-oleh sekembalinya dari negeri tujuan juga APBN yang menanggung. Untuk anak-anak sekolah yang masih pulang pergi meniti tali besi, cukup bilang, “matilah awak”
Apa kabar Indonesia hari ini? Dengan santai kita bilang, “Kabarnya baik-baik saja!” 
[disarikan dari berbagai sumber]

Category: Berita , Editorial