ilustrasi pesantren, image: humaspdg
Terletak di Kelurahan Pejajaran, km sebelah utara kota kembang, Bandung, di jalan Pandu (kini Jalan Pesantren Wetan). Didirikan tahun 1912 oleh KH. Zarkasyi bin KH. Ahmad. Sudah beberapa kali pesantren ini mengalami pemugaran. Luas bangunannya pada tahun 1985, 250 m2 berdiri di atas tanah seluas 1,5 ha. Santrinya berjumlah 75 orang, 25 diantaranya putri. Sepeninggal Kyai Zarkasyi, pesantren diasuh oleh putra-putranya, KH. Syamsudin Thoha, KH. Burhanuddin, dan lain sebagainya.
Sewaktu pesantren masih diasuh KH. Zarkasyi, pesantren mengalami perkembangan yang begitu pesat, hingga jumlah santrinya mencapai 500 orang lebih. Sepeninggalnya pesantren mengalami kemunduran. Di bawah kepemimpinan KH. Badrudin, pesantren ini nampak kembali mengalami kemajuan. Namun demikian, pengasuh masih mengalami adanya hambatan, terutama dalam hal mutu pendidikan pesantren yang harus berani bersaing.
Sistem pendidikna klasikal samapai sekarang belum diterapkan. Santri dididik dengan sistem sorogan mempelajari kitab Fathuh Wahab, Fathul Qorib, Tijan Durori, Tafsir Jalalain, Alfiyah, Riyadus Shalihin dan lain-lain.
Menurut Kyai Badrudin Zarkasyi, pesantren sekarang harus membuka pintu untuk mengajarkan pelajaran umum atau membuka sekolah umum. "Ini sangat penting dazlam rangka membina kader-kader ulama yang intelektual," tandasnya, terutama untuk mengimbangi sekolah Kristen yang kini berdiri dekat komplek pesantren.
KH. Tb. Entol Ahmad Asrori
Pesantren yang terletrak di desa Menes 40 Km sebelah utara kabupaten Pandeglang Jawa Barat ini didirikan oleh KH. Tubagus Entol Ahmad Asrori pada 11 Februari 1953. Kyai Ahmad alumni lembaga pendidikan Mathla'ul Anwar. Ia juga pernah mondok di pesantren Tebu Ireng, Jombang, sekitar tahun 1923.
Usaha mendirikan pesantren ini berjalan lamban. Baru pada tahun 1966 berhasil mendurukan kamar pemondokan santri. Dibukanya sistem madrasi pada tahun 1964 agaknya berkaitan erat dengan melimpahnya santri di Lembaga Mathaliul Anwar Menes, sehingga tidak tertampung. Untuk menyalurkan hasrat mereka, pimpinan pesantren mendirikan madrasah Masalihul Ahyar.
Pesantren ahlusunnah wal jama'ah menempati arela tanah seluas satu hektar. Sarana yang dimiliki antara lain sebuah masjid, 8 buah lokal madrasah dan 5 buah kamar santri. Bangunan madrasah digunakan bergantian untuk Ibtidaiyyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Tahun 1984 jumlah santrinya 205 orang, 100 putra dan 105 putri. Santri mukim 100 orang. Bagian terbesar datang dari daerah sekitar Pandeglang. Sebagian bersekolah di ketiga madrasah tersebut, sebagian lagi  hanya mengaji kitab. 
Seperti lazimnya madrasah di lingkungan pesantren, Masalihul Ahyar pun memberikan pelajaran kitab antara lain Asasul Islam, karangan KH. TB Ahmad sendiri, Kifayatul Ahyar, Fathul Muin, Asasul Iman, Ihya Ulumuddin, Tijan Dhurori, Fawaidul Jalilah, Alfiyah, dan Nihayatus Zen. Dua dari kitab-kitab tersebut digunakan sebagai pegangan dalam pengajian, yakni Asasul Islam dan Fawaidul Jalilah.
Dalam mengasuh pesantrennya, KH Ahmad dibantu oleh dua putra dan seorang menantunya. Sedangkan untuk menjalankan madrasah, ia dibantu 30 orang guru, yang seluruhnya swasta. Untuk seluruh kegiatan pendidikan baik madrasah maupun pengajian, pesantren menghabiska biaya rutin Rp. 250.000,- perbulan (1985). separuhnya bersumber dari iuran santri dan separuhnya lagi berasal dari bantuan masyarakat.
Di bidang ketrampilan pesantren menyelenggarakan latihan jahit menjahit diikuti 15 santri. Juga telag berdiri koperasi pesantren beranggotakan 25 orang. Kekayaannnya sampai tahun 1984 mencapai Rp. 75.000,00.



Nama pesantren ini agak unik: “A Baeli Putra”. A Baeli adalah ayah dari Kyai A. Ridwanullah, BA, pendidi pesantren yang samapai sekarang masih menjadi pengasuhnya. Kyai Ridwanullah Sarjana Muda Institute Islam Siliwangi (INISI) Bandung, yang dulu bernama Akademi Pendidikan Rohani Islam Bandung (AKPRIBA). Ia juga pernah kuliah di PTDI Bandung dan belajar di beberapa pesantren, antara lain di Cintawa, di Ciamis, dan di Garut.
Pesantren A. Baeli Putra terletak di tepi Gunung Galunggung. Tepatnya di jalan Cintamulya, Cipanas, Galunggung, Desa Tawang Banteng, Kecamatan Indihiang, 15 Km dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Lokasi pesantren berdekatan dengan tempat rekreasi Cipanas Galunggung, sehingga sarana perhubungan ke pesantren cukup baik dan mudah.
Didirikan 26 Juni 1967, bersamaan dengan pembangunna sebuah masjid jami’ yang selesai tahun 1968. Masjid ukuran 60 m2 ini dibangun atas swadaya masyarakat dan merupakan cukal bakal pesantren. Dengan bantuan masyarakat dan pemerintah daerah Tasikmalaya tahun 1969 dibangun sebuah asrama santri putra, ukuran 7x14 m. Januari 1971, madrasah Ibtidaiyah didirikan meskipun belum memiliki gedung khusus. Sesudah itu November 1972, asrama guru dibangun, dan menyusul asrama putri, tahun 1974. Baru pada tahun 1976 gedung permanen untu madrasah ibtidaiyah dibangun. Secara keseluruhan, kini pesantren memiliki 3.5 ha tanah. Di atasnya berdiri 14 lokal belajar, 12 kamar pondok putra, 6 kamar asrama putri, asrama guru, sebuah masjid, sebuah lapangan badminton dan sebuah lapangan volley.
Santrinya tahun 1984 berjumlah 303 orang, 125 putra dan 178 putri, 42 diantaranya santri mukim. Sedangkan madrasah ibtidaiyah muridnya 197 orang.
Para santri mengaji kitab sesudah subuh, sore dan malam hari. Kitab yang dipelajari anatara lain Safinah, Qutrul Goets, Sanusi, Imriti, Alfiyah, Sullam Munajat, Sahih Bukhari, Tafsir Jalalain dan sebagainya. Para santri juga belajar ilmu tajwid. Bagi tamatan pesantren tidak disediakan ijazah, tetapi kepada lulusan ibtidaiyah diberikan.
Banyak kegiatan dan latihan ketrampilan yang diselenggarakan pesantren secara rutin, seperti PKK, UPGJ, Pramuka, latihan pertanian, perikanan dan peternakan.
Pemimpin pesantren juga mengadakan pengajian khusus bagi masyarakat sekitar. Pengajian yang diselenggarakan setiap minggu dihadiri kurang lebih 500 orang dari tiga desa sekitar. Sedang pegajian bulanan diikuti kurang lebih seribu orang dari 5 desa sekitar.

Contact Pesantren
Alamat: Jalan Cintamulya, Cipanas Galunggung, Tasikmalaya
Pesantren ini dimulai dari pengajian yang diadakan KH. Umar bin Abdul Mannan di rumahnya sejak tahun 1937. Selang beberapa tahun kemudian, sebuah surau berhasil didirikan yang pada tahun 1942 diubah menjadi masjid dengan nama al-Muayyad. Lima tahun sesudah itu, KH Umar yang dikenal sebagai ahli al-Qur'an, berhasil membangu 10 buah kamar pemondokan santri, tiga tahun berikutnya ditambah lagi 5 kamar.
Pada tahun 1955, upaya pendidikan ditingkatkan dengan mengembangkan sistem madrasi, yaitu dengan dibukanya Madrasah Ibtidaiyah. Menyusul Madrasah Tsanawiyah pada tahun 1966 dan Aliyah pada tahun 1976. Meskipun dalam sistem ini, pelajaran disesuaikan dengan kurikulum negeri dan lulusannya diberi ijazah, pelajaran kitab tradisional masih tetap disisipkan.
Kyai Umar wafat pada bulan Agustus 1980 dan kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh Drs. H. Abdul Razak bin H. Ahmad Shofawi, sarjana lulusan IAIN Yogyakarta. Dalam mengelola pesantren ini, ia dibantu oleh sejumlah pengasuh dan guru. Ada tiga orang pengasuh yang secara rutin memberikan pengajian kita setiap selesai shalat wajib. Sementara itu, guru ibtidaiyah 27 orang, dan Aliyah 27 orang guru. Dan masih ada 6 guru khusus menghafal al-Qur'an.
Tahun 1984, jumlah santri mencapai 653 orang yang seluruhnya mukim, 277 putra dan 376 putri. Sebagian mereka murid madrasah yang ada di lingkungan pesantren.Ibtidaiyah tahun ajaran 1984 ini mencatat jumlah murid 427 orang, Aliyah 285 orang, SMP yang baru dirintis beberapa tahun terakhir bermurid 345 orang dan hafidzul Qur'an 46 orang siswa.
Bagi murid madrasah, pelajaran kitab diberikan sesuai dengan tingkatannya. Kitab yang digunakan antara lain sullam, Khoridatul Bahiyah, Husunul Hamidiyah, Akhlak lil Banin, Alfiyah, Arbain Nawawi, Bulughul Maram dan sebagainya.Sedangkan bagi para santri yang mengikuti pengajian di luar sekolah disediakan pengajian kitab tafsir Jalalain, Bulughul Marom, Fathul Wahab, Ajurumiyah, Imriti, Ihya Ulumiddin dan shahih Muslim.
Menempati areal seluas 0.35 ha, pesantren ini merasa kesulitan mengembangka sarana fisik yang lebih besar dan luas untuk melaksanakan rencanannya membangun sistem pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Bangunan yang telah dimilikinya antara lain masjid, 16 lokal belajar, 30 kamar pemondokan santri dan peralatan olah raga.
Pesantren yang lebih dikenal "Pondok Mangkuyudan" ini terletak di jalan KH. Samanhudi nomor 56 Surakarta. Berbagai jenis kendaraan dapat menjangkaunya dengan mudah. 

Perkembangan Al-Muayyad Kini
(Data ini masih perlu pengembangan)



PP Al-Muayyad Mangkuyudan 
Jl. KH. Samanhudi 64 Mangkuyudan Surakarta 57142 
Telp. ( 0271 ) 727138, 714821 Fax ( 0271 ) 714821 HP/SMS : 081 225 82 9292
SMS Center : 0898 999 6464
Pesantren Wahid Hasyim dirintis oleh KH. Abdullah Hadi, seorang alumni pesantren Wonokromo, Bantul, pimpinan KH. Abdul Ghani. Selesai belajar Wonokromo tahun 1965, ia merintis sebuah Madrasah Diniyah bersama tiga orang warga masyarakat setempat.
Madrasah diniyah tersebut dibagi ke dalam tiga kelas. Tidak ada seleksi formal untuk kenaikan kelas di madrasah ini. Setiap santri yang telah selesai mempelajari satu kitab, boleh naik kelas untuk mempelajari kitab lain yang lebih tinggi. Hal ini berjalan selama tiga tahun, madrasah inilah yang merupakan cikal bakal pesantren.
Pada perkembangan selanjutnya, madrasah ini berubah menjadi Ibtidaiyah, dengan kurikulum Departemen Agama. Sejak saat itu, madrasah menerima bantuan guru negeri sebanyak tiga orang. Pada tahun 1973, sebuah sekolah PGA yang sedang mengalami krisis, bergabung dengan madrasah ini dalam pengelolaan KH. Abdullah Hadi. Di tangannya, sekolah PGA ini berhasl bertahan dan berkembang. Namun pada tahun 1980, PGA tersebut diubah menjadi Tsanawiyah dan Aliyah.
Pada tahun 1977, KH. Abudullah Hadi mendirikan sebuah pemondokan kecil untuk tempat bermukim lima orang santri. Sejak saat itu, jumlah santri terus meningkat. Pada tahun 1982/1983, jumlah mereka mencapai 112 orang. Untuk menampung mereka, pihak pesantren telah berhasil membangun 33 kamar santri. Sebagian besar merupakan pelajar dan mahasiswa di beberapa sekolah dan Perguruan Tinggi di Yogyakarta.
Selain itu masih terdapat santri non mukim yang diperkirakan berjumla 220 orang, terdiri dari orang tua, remaja, dan kanak-kanak. Juga masih ada sejumlah 224 orang murid Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah yang berada di kompleks pesantren. Murid Ibtidaiyah sendiri berjumla 124 orang; 61 putra dan 63 putri. Tsanawiyah 68 orang; 33 siswa dan 35 siswi. Sedangkan murid Aliyah hanya 32 orang; 20 siswa dan selebihnya putri.
Para santri mendapat pengajian kitab secara tradisional. Kitab yang dipelajari antara lain Fathul Qarib, Ta'lim Mutaalim, Nashoihul Ibad, Bulughul Marom, Hidayatul Hidayah, Alfiyah dan lain-lain. Mereka juga memperoleh pelajaran tambahan berupa latihan berpidato dan seni membaca al-Qur'an. Bagi orang tua, pengasuh pesantren memberikan wirid thariqat.
Pesantren yang menempati tanah seluas 3.500 m2 (1982) ini lebih dikenal dengan sebutan "Pondok Gaten" karena terletak di dusun Gaten, Kelurahan Condonggatur, Kecamatan Depok, Sleman, sekitar 1 km dari kota Yogyakarta. Semua alat transportasi dapat menjangkau lokasi ini, meskipun jalan hingga tahun 1982 belum diaspal.
Fasilitas yang telah dimiliki sampai tahun 1982 antara lain sebuah masjid, sebuah bangunan asrama santri dengan 33 kamar, 6 lokal untuk madrasah (Ibtidaiyah pagi dan Tsanawiyah serta Aliyah sore hari) dan ruang sekretariat. Di samping itu telah dimiliki juga sebuah ruang tamu, dua lokal ruang dewan guru, fasilitas MCK, dan termpat berwudlu.

Perkembangan
Pesantren Wahid Hasyim sendiri berdiri pada tanggal 11 Maret 1977 M/ 20 Rabiul Awwal 1397 H. dan terdaftar pada akta notaris (W22.Dd.UM.07.01-28 YK-94) dan menjadi Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim pada tanggal 12 Oktober 1994 M/7 Jumadil Ula 1415 H.
Pesantren ini sekarang diasuh oleh putera-puteri KH. Abdullah Hadi


  • Drs. KH. Jalal Suyuthi, S.H. Pengasuh Pondok Pesantren Wahid Hasyim

  • Drs. Kyai Syaiful Anam Pengasuh Asrama Putri An-Najah dan Al-Hikmah

  • Jazim Abdul Hadi Pengasuh asrama Takhasus MTs dan asrama Al-Hidayah 2

  • Hj. Nelly Umi Halimah Direktur Madrasah Hufadz wa Tafsir

    Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim
    Ketua Umum : Muhammad Nur Wahid
    Ketua I : Abdul Mughits, S.Ag., M.Ag.
    Ketua II : Jazim Abdul Hadi
    Ketua III : Kyai Sunhaji


  • Kontak Pesantren Wahid Hasyim
    Pendiri               : KH. Abdullah Hadi
    Pemimpin           : Drs. KH. Jalal Suyuthi
    Alamat               : Jl. KH. Wahid Hasyim No.3 Gaten Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta 55283
    Pengajar             : 12 Orang
    Santri                 : 104 putera dan 49 puteri (2007)
    Telp                   :  (0274) 484284

    Pondok Pesantren Sunan PandanAran (PPSPA). Kemajuan Pesantren Sunan Pandanaran di awal bedirinya, paling tidak 9 tahun setelah diresmikan oleh Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Paku Alam VIII, bisa dibilang pesat. Perkembangannya telah mengukuhkan pesantren ini sebagai salah satu pesantren ternama di DIY, di samping Pesantren al-Munawwir, Krapyak. 

    Ada tali sejarah yang menghubungkan Pesantren Sunan Pandanaran dengan pesantren al-Munawwir, Krapyak. KH. Mufid Mas'ud, pendiri dan pengasuh pesantren ini, semula adalah pengasuh Pondok Puteri al-Munawwir, Krapyak. Pada bulan Oktober 1975, kyai kelahiran Tembayat, Klaten, Jawa Tengah ini hijrah sekeluarga dari Krapyak ke desa Candi, Sleman. Menempati tanah wakaf dari H. Masduqi Abdullah seluas 2000 m2, yang terletak sekitar 200 meter sebelah barat jalan raya Yogya-Kaliurang Km.12, kepindahan KH. Mufid juga disertai seorang santri kesayangannya, Wasil dari Bantul.

    Di desa sejuk di lereng gunung Merapi inilah Kyai Mufid mendirikan pesantren, dengan model pertama sebuah masjid dan rumah sederhana yang berdiri di tanah wakaf tersebut. Nama Sunan Pandanaran dipilih untuk nama pesantren ini, demi menghargai jasa-jasa leluhur Kyai Mufid, Sunan Pandanaran (Sunan Tembayat) dalam menyebarkan ajaran Islam di Tembayat, Klaten.

    Sarana fisik pesantren meliputi sebuah masjid, gedung-gedung sekolah/madrasah sejak dari Taman Kanak-kanak, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah, asrama santri, kamar mandi/wc, dapur umum, gedung serba guna, ruang tamu, kolam wudlu dan perpustakaan. Seluruh bangunan fisik berjumlah 15 buah meliputi 42 lokal, dengan luas sekitar 1.200 m2. Jumlah ini belum termasuk rumah pengasuh dan rumah keluarga kyai. Tanah pesantren yang semula hanya 2000 m2 (tanah wakaf), kini (tahun 1986, ed) bertambah menjadi 2.400 m2.

    Pada awal berdirinya, pesantren ini dimaksudkan sebagai sarana dakwah. Kemudian dalam perkembangan pesantren ini lebih dikenal sebagai pusat Tahfidzul Qur'an (menghafal al-Qur'an), karena pengasuhnya, Kyai Mufid, dikenal sebagai ahli dan pengasuh pesantren Tahfidzul Qur'an di Krapyak.  

    Sekitar 75 persen (tahun 1986, ed) santri Pesantren Pandanaran adalah putri (260 orang) dan selebihnya santri putra (70 orang). Mereka seluruhnya mukim berasal dari daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Santri kalong, pada bulan Ramadhan jumlahnya biasanya sangat banyak. 

    Selain memprioritaskan pengajaran hafalan al-Qur;an, pesantren memberikan pengajaran ilmu-ilmu agama dan pengetahuan umum.Pondok Pesantren Sunan PandanAran (PPSPA) selain mendidik santrinya untuk belajar agama Islam, tapi juga menyediakan pendidikan formal berupa Raudhatul Athfal (RA)  Sunan PandanAran (Setingkat TK) , Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sunan PandanAran (Setingkat SD), Madrasah Tsanawiyah (MTs) Sunan PandanAran (Setingkat SMP), Madrasah Aliyah (MA) Sunan Pandan Aran (setingkat SMA), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandan Aran (STAISPA). . Selain itu ada Qismut Tahfidz, Khusus menghafal al-Qur'an dan Qismuth Takhasush, khusus mengaji kitab. Sementara Qismut Tahfidz dan Qismut Takhashush lebih ditekankan kepada pengajaran kitab-kitab mu'tabar seperti Ihya Ulumiddin, Shahih Bukhori-Muslim, Tafsir Jalalain, dan lain-lain. 

    Pada seluruh jenjang pendidikan yanga da, kecuali Qismut Takhasush, dikeluarkan ijazah/sertifikat. Ini dimaksudkan untuk membantu mereka melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan khusus untuk santri Tahfidzul Qur'an setiap tahun diadakan acara imtihan (wisuda) bagi mereka yang sudah berpredikat hafidz-hafidzah.

    Di luar jam-jam pelajaean formal dan menghafal al-Qur'an, santri mengikuti kegiatan-kegiatan non formal seperti menjahit, berorganisasi, merias penganten, latihan khitobah (pidato), serta berbagai praktek PKK. Dalam hal ini masih dirasakan kesulitan memperoleh instruktu (pelatih) ketrampilan.

    Para santri juga menyelenggarakan forum pemecahan persoalan agama dari, oleh, dan untuk santri. Forum ini diberi nama "Majelis Syuro" (forum musyawarah) dan hasilnya dibukukan. 

    Untuk mengasuh pesantren ini, KH. Mufidz dibantu menantunya, Masykur Muhammad dan Ninik Afifah (putrinya), sejumlah ustadz /guru serta mahasiswa yang bermukim di pesantren. 

    Pendidikan

    1. Tahfidz Al-Qur’an 
    Program ini bertujuan mencetak para penghafal dan pengamal al-Qur’an. Selain itu program ini juga memfasilitasi santri agar menguasai Ulumul Qur’an (tajwid, tafsir dll) sebagai penunjangnya. Masa tempuh studi ini bervariasi, rata-rata dua sampai tiga tahun atau lebih. Sangat bergantung pada tingkat kecerdasan dan tingkat kerajinan seorang santri. Pengasuh menerapkan dua pola pendekatan belajar, yakni pendekatan personal dan pendekatan sistem. Pendekatan personal ialah tawajjuh-an antara santri dengan pengasuh saat menyetorkan hafalan, seminggu sekali sebanyak satu juz per santri sesuai dengan jadwal yang telah disusun. Sementara pendekatan sistem meliputi tiga aspek. Pertama, sistem badal: sistem ini dimaksudkan untuk memberikan bimbingan kepada santri dalam membuat hafalan (loh-lohan) setiap ba’da maghrib dan ba’da subuh, berikut bimbingan untuk menguasai ilmu tajwid. Kedua, sistem presensi atau keaktifan santri dalam setiap kegiatan. Ketiga, sistem evaluasi berkala (imtihan) yang dilaksanakan setiap santri mencapai lima juz, berikut setiap kelipatannya sampai dengan juz 30. Selain itu, ada jam wajib deresan tiap pagi dan sore di bawah pantauan dari pengasuh dan badal.

    Bagi santri yang masuk pada program tahfidz-al Qur’an dari nol atau belum mampu membaca al-Qur’an serta belum menguasai ilmu-ilmu penunjangnya, maka ia akan dimasukkan kedalam kelas Madrasah Diniyah Takhosus al-Qur’an terlebih dahulu. Dalam kelas matrikulasi ini, untuk tahap awal santri dibimbing agar mampu membaca al-Qur’an, selanjutnya dibimbing untuk menghafalkan juz amma (juz 30). Pada tahun berikutnya mereka dibimbing untuk membaca al-Qur’an sampai khatam 30 juz bin-nadzri. Setelah tahapan itu semua selesai baru mereka dibimbing menghafalkan al-Qur’an 30 juz. Selain materi pokok tersebut, mereka juga diberi pelajaran ilmu-ilmu penunjangnya seperti tajwid, bahasa Arab dasar (Nahwu-Shorof), Fiqh dasar (kitab Fathul Qorib), akidah (‘Aqidatul Awam), adab-adab penghafal al-Qur’an (kitab al-Tibyan fii adabi hamalati al-Qur’an, dll.

    2. Taman Kanak-Kanak
    TK/RA Sunan Pandanaran merupakan lembaga formal pertama yang dimilki oleh PPSPA setelah huffadz dan madrasah diniyah al-Qur’an. Misi lembaga ini adalah ingin membangun generasi bangsa yang berkarakter islami, cerdas, trampil, percaya diri serta berguna bagi nusa dan bangsa sejak usia dini. Siswa yang sekarang tercatat di TK ini sebanyak 152 anak. Banyaknya siswa yang belajar di lembaga ini menunjukkan bahwa ia telah mendapat  kepercayaan yang besar dari masyarakat karena kualitasnya.

    tahun 2004 TK Sunan Pandanaran masuk lima besar lomba drum band tingkat propinsi DIY, tahun 2005 meraih peringkat satu lomba mewarnai untuk tingkat nasional, menjadi TK percontohan Kabupaten Sleman, dan selama tujuh tahun berturut-turut dipercaya menjadi penyelenggara manasik haji TK se kecamatan Ngaglik.

    3. Madrasah Ibtidaiyah
    MISPA diresmikan dan mulai beroperasi sejak tahun 2006. Sampai sekarang telah memasuki tahun kedua. Target yang hendak dicapai MISPA adalah mempersiapkan kader-kader Qur’ani sejak kecil.

    MISPA dalam keseharinya menerapkan tiga kurikulum; pertama kurikulum Depag (pembelajaran mata pelajaran wajib nasional seperti Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dll). Kedua, kurikulum Muatan lokal, penekanan dari kurikulum kedua ini adalah upaya memperdalam ilmu-ilmu agama a la pesantren (teori dan praktik ibadah).

    Pelajaran al-Qur’an dimulai dari Tahsin, Tartil sampai pada Tahfidz Al-Qur’an (juz ‘amma). Terakhir berupa kurikulum alam. Tujuan dari konsep ketiga ini ialah agar anak bisa mengenal dan menyayangi  lingkungan alam sekitar sejak kecil. Salah satu caranya adalah siswa diajak praktik untuk merawat, menyiram, menata tanaman setiap pagi di laboratorium alam yang MISPA miliki. Kegiatan ekstrakurikuler yang ada meliputi Sains Club, olahraga, outbound, English Club dll.

    4. Madrasah Tsanawiyah (MTs)
    Madrasah Tsanawiyah Sunan Pandanaran, merupakan madrasah setingkat dengan SLTP. Madrasah ini menjadi sebuah pilihan bagi santri untuk mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan formal. MTs Sunan Pandanaran memuat kurikulum Departemen Agama, Departemen Pendidikan Nasional dan Muatan lokal dari pesantren (kitab kuning dan pengkajian alquran).  Visi madrasah adalah Mandiri, Berprestasi, Cerdas dan berkepribadian Qur’ani  (Mata Cendeqia), mempunyai 5 Misi dan 13 tujuan yang tertuang dalam visi dan Misi Madrasah.

    Dalam pencapaian program jangka panjang madrasah menuju sekolah bertaraf International dan berpegang ajaran ahlusunah wal jamaa’ah, Madrasah sedang merintis penggunaan bahasa asing di kelas, yang telah dirintis pada siswa kelas VII tahun ajaran 2007/2008, dengan harapan penggunaan bahasa asing dalam proses belajar mengajar akan efektif pada 3 tahun ke depan, dan selanjutnya menerapkan kurikulum yang bertaraf Internasional.

    Program madrasah dilakukan dengan tetap memperhatikan segi psikologis siswa, sehingga pembelajaran dilakukan sesuai dengan kemampuan dari masing-masing siswa. Lulusan dari MTs Sunan Pandanaran diharapkan dapat memiliki wawasan global,  mampu berbahasa asing, berprestasi, dan mememiliki jiwa kepesantrenan.

    5. Madrasah Aliyah (MASPA) 
    Sejak lahirnya MASPA mengemban misi mencetak generasi Islami yang mandiri dalam segala bidang, memiliki kualitas IMTAK dan IPTEK yang seimbang serta memiliki wawasan global yang luas. Karakter ideal yang ingin dibangun MASPA bagi Lulusannya ialah santri yang memiliki kesalehan pribadi, kesalehan sosial dan kesalehan alam. Alumni MASPA banyak yang telah mampu meneruskan pendidikan ke Perguruan Tinggi favorit baik dalam negeri maupun luar negeri.

    Ada tiga konsentrasi studi yang ada di MASPA; Ilmu Pengetahuan Alam (Jur. IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (Jur.IPS), dan Keagamaan (Jur. Keagamaan). Sebagi perpanjangan tangan sistem pendidikan pesantren, semua siswa MASPA juga diharuskan mengikuti madrasah diniyyah yang diselenggarakan pondok.

    Pada tahun 1999 MASPA  mendapat status Disamakan. Sedang pada tanggal 24 Desember 2005 lampau, MASPA telah terakreditasi A berdasarkan SK NOMOR A/KW.12/MA/02/06.

    6. Pesantren Mahasiswa dan Mahasiswi 
    Menurut data statistik, pada tahun 2003 di Yogyakarta terdapat 6 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 105 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dengan rincian 46 akademi, 31 sekolah tinggi, 18 universitas, 6 politeknik dan 4 institut. Jumlah calon mahasiswa yang mendaftar pada tahun tersebut mencapai 105.165 orang . Sebagai konsekuensi dari kota pendidikan, PPSPA pun dituntut untuk mengakomodasi keinginan orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ke Yogyakarta sambil tetap tinggal di pesantren guna memperdalam ilmu agama.

    Pesantren Mahasiswa/i PPSPA memberikan jawaban untuk itu. Lokasi PPSPA yang kebetulan berada relatif dekat dengan berbagai PT yang ada sangat mendukung perealisasian keinginan orang tua yang menginginkan anaknya kuliah sambil tetap belajar agama di pesantren. Secara umum kegiatan yang berlangsung di asrama mahasiswa ini tidak banyak berbeda dengan asrama-asrama lain. Tentunya ada sedikit kelonggaran yang diberikan pihak pengelola, ini mengingat kegiatan mahasiswa di kampus relatif padat.

    7. Pesantren Mandiri 
    Wujud kepedulian PPSPA atas keberadaan sebagian masyarakat yang kurang mampu diwujudkan melalui program pesantren mandiri (santri mandiri). Pesantren ini dikususkan untuk santri yang berasal dari golongan kurang mampu dengan mengabdi di PPSPA. Selain mendapatkan pendidikan di pesantren, sebagian dari santri mandiri juga memperoleh pendidikan formal di madrasah. Biaya pendidikan dan biaya hidup semuanya menjadi tanggungan pesantren.  

    Kontak
    Pesantren Sunan Pandanaran Ngaglik Sleman
    Pendiri               : KH. Mufidz Mas'ud
    Pemimpin           : H. Mu'tashim Billah, M.Pdi
    Alamat               : Jl.Kaliurang km 12.5 Sardonoharjo Ngaglik Sleman DIY 55582
    Santri                 : 371 putera dan 443 puteri (2006-2007)
    Telp                   :  0274-884438

    Pengurus Pondok
    Ust. Zahron (081327465029)
    Ust. Saiful Ghozi (085228569920)
    Imas Masri’ah, S.H.I (085292886044)

    MTs SPA
    Hj. Fany Rifqoh S.Pd (081392168910)
    Rustiyadi, S.Ag (081392550799)

    MA SPA
    Ahmad Faizun, S.Ag (08578747482)
    Purwoto (081392697977)
    Terletak di Selatan Kota Yogyakarta, sekitar 5 Km dari pusat kota di jalur menuju pantai wisata Parangtritis, Pesantren al-Munawwir dipimpin oleh K.H. Ali Ma’shum Rois Aam PB Syuriah Nahdlatul Ulama (1983).
    Nama al-Munawwir yang diabadikan sebagai nama pesantren, berasal dari nama cikal bakal/pendiri pesantren, K.H M. Munawwir.

    Pada tahun 1911, sepulang dari belajardi Mekkah selama 21 tahun, KH. Munawir yang tinggal di kampung Kauman, Yogyakarta (di belakang Masjid Agung alun-alun Yogyakarta) membuka pengajian di rumahnya. Kian hari santri terus bertambah, dan rumah Kyai tak mampu lagi menampung. Maka dipindahkanlah tempat pengajian itu ke desa Krapyak Kulon. Beberapa bangunan pondok yang dibangun di tempat baru inilah yang kemudian dikenal sebagai kompleks Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak.

    Pada awal berdirinya, pesantren ini menekankan pengajaran al-Qur’an, baik secara binnadhar degan membaca langsung, bilghoib, hafalan. Kemudian dari pelajaran bilghoib ini dilanjutkan dengan pelajaran qiraat sab’ah, tujuh macam bacaan al-Qur’an. Melengkapi pelajaran al-Qur’an, diberikan pula pelajaran berbagai kitab fiqh, tafsir, dan kitab-kitab agama lainnya. Setelah KH. Munawwir wafat (1942), kepemimpinan pesantren dipegang tiga orang, masing-masing KH. Abdullah Affandi, KH. Abdul Qadir (keduanya putra KH. Munawir) dan KH. Ali Ma’shum (menantu KH. Munawwir, putera KH. Ma’shum Lasem).

    Tiga serangkai inilah yang kemudian mengembangkan pesantren al-Munawwir Krapyak dengan pembagian tugas: KH. Abdullah Affandi sebagai ketua Umum, KH. Abdul Qadir penanggung jawab pengajian al-Qur’an dan KH. Ali Ma’shum penanggung jawab pengajian kitab-kitab.

    Masa kepemimpinan tiga serangkai ini bertepatan dengan pecahnya perang revolusi fisik untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Sejumlah santri bergabung dalam laskar-laskar perjuangan mempertahakan kemerdekaan.

    Kini (1986, ed.) tinggal KH. Ali Ma'sum yang memimpin pesantren Krapyak. KH. Abdullah Affandi dan KH. Abdul Qadir telah meninggal dunia. Untuk tugas mengasuh pesantren sehari-hari, KH. Ali Ma'shum dibantu antara lain oleh KH. Warson Munawwir, KH. Dahlar Munawwir, K. Najib Abdul Qadir, KH. Zainal Abidin Munawwir, KH. Ahmad Munawwir, KH. Zaini Munawwir, ditambah sekitar 25 ustadz.

    Jumlah santrinya sekitar 700 orang, (1986, ed.) berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan beberapa di antaranya dari luar negeri. Jumlah ini belum termasuk santri puteri, sekitar 75 orang yang menempati pondok Barat, sekitar 500 m seberang pesantren putera. Para santri yang ada di pesantren Al-Munawwir bisa digolongkan menjadi tiga. Pertama, santri biasa. yakni selain belajar mengaji juga belajar di madrasah Tsanawiyah atau Aliyah di lingkungan pesantren. Kedua, santri takhasus, yakni khusus mengaji dan menghafal al-Qur'an. Ketiga, santri yang tinggal dan mengaji di pondok sambil belajar di berbagai sekolah atau Perguruan Tinggi luar lingkungan pesantren. Santri puteri umumnya adalah menghafal al-Qur'an.

    Semua santri selain diwajibkan mengikuti kegiatan pengajian yang diadakan oleh pesantren menurut tingkatannya juga diharuskan mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan ketrampilan. Pengajian diberikan dalam bentuk sorogan, bandungan, wetonan, muhadloroh/pembahasan kitab, dan lain-lain. Pelajaran ekstra dan ketrampilan yang diberikan antara lain latihan berorganisasi dan kepemimpinan, khitobah (latihan berpidato), praktek ibadah, memimpin tahlil, seni baca al-Qur'an, olah raga, bakti masyarakat dan kecakapan berbahasa Arab.

    Kegiatan bakti masyarakat umumnya dilakukan oleh santri senior yang tergabung dalam Korp Dakwah Mahasiswa (KODAMA). Setiap Kamis malam mereka memberikan penyuluhan dan bimbingan agama kepada masyarakat di sekitar Yogyakarta, yang mempunyai sekitar 40 kelompok pengajian.

    Beberapa perkembangan yang bisa dicatat antara lain: tahun 1984 mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, tahun 1951 mendirikan madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Haffadz (madrasah menghafal al-Qur'an). Saat ini kegiatan pendidikan di pesantren ini meliputi Taman Kanak-kanak, Madrasah Diniyah Tsanawiyah, Aliyah, Madrasatul Banat, Madrasatul Huffadz, pengajian khusus Bahasa Arab dan syariah, pengajian kitab dan sebagainya. Pelajaran di madrasah-madrasah dikenal adanya ijazah, namun bagi santri takhasus itu tidak ada.
    Beberapa sarana fisik yang terdapat di kompleks pesantren yang luasnya sekitar 3 hektar ini antara lain: gedung-gedung sekolah, masjid, bangunan asrama/pondok, perumahan ustadz, dapur, dua lapangan bulutangkis, lapangan voly, lapangan sepak bola, tenis meja dan lain-lain.

    Juga terdapat perpustakaan yang hampir semua buku/kitab yang ada berbahasa Arab. Untuk melayani kebutuhan para santri sudah ada toko pesantren.

    Biaya kehidupan pesantren diperoleh dari kekayaan Kyai, harta waqaf serta sumbangan santri dan para donatur sukarela.

    Pesantren al-Munawwir merupakan pesantren terbesar di DIY. Ratusan santri yang pernah belajar di sini kini tersebar di berbagai daerah di berbagai daerah, baik pemerintah maupun luar pemerintah. KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur), pemimpin dan tokoh intelektual NU, juga pernah belajar di pesantren ini.

    Kontak
    Pesantren al-Munawwir, Krapyak, Panggungharjo, Bantul
    Pendiri           : KH. Munawwir
    Pemimpin       : KH. Zainal Abidin Munawwir
    Santri             : 750 Putra dan 900 Putri (2006-2007)
    Alamat           : Tromol Pos No. 5 Krapyak Panggungharjo Bantul 5550255002 
    Telp               : (0274) 383768 
    Faxs               : (0274) 384095
    Ilustrasi Pesantren
    Secara fisik, pesantren ini baru terwujud sesudah pengasuh berhasil mendirikan sebuah masjid dan 6 buah kamar pemondokan santri yang sederhana pada tahun 1951. Namun usaha rintisannya telah berjalan sebelum itu, yaitu ketika pengajian dilakukan di rumah pendiri pesantren, KH. Ihya. 
    Dengan perlahan pesantren ini terus mengembangkan diri. Untuk kebutuhan santri-santri putri, sebuah bangunan asrama dengan 14 kamar kemudian dibangun. Pada akhir 1982 sebuah bangunan bertingkat dengan 12 kamar didirikan. Fasilitas seperti listrik dan sumur pompa berhasil diperoleh. Demikian juga beberapa alat ketrampilan seperti mesin jahit atas sumbangan masyarakat setempat.
    Sampai tahun 1981, tercatat 950 orang santri yang menuntut ilmu di sini. Di antara mereka yang mukim hanya 59 orang, terdiri dari 39 putri dan 20 putra. Meskipun pesantren sudah menganut sistem klasikal, pelajaran yang diberikan sepenuhnya masih menggunakan kitab-kitab sebagai pegangan utama. Di samping itu juga masih menggunakan sistem pengajian tradisional. Santri dibagi ke dalam tiga kelas. Masing-masing kelas menggunakan kitab yang berbeda sesua dengan mudah atau sulitnya sebuah kitab. Untuk pelajaran fiqh, menggunakan Safinah, Fathul Qarib, dan Fathul Mui'n. Di bidang tauhid, mempelajari Tijan, Matan Sanusi, dan Jauhar Tauhid.
    Untuk pelajaran akhlak, menggunakan kitab Washoya, Ta'lim Mutaalim dan Makarimal Akhlak. Pelajaran Hadits menggunakan kitab Tanqihal Qaul, Bulughul Maram, Riyadlus Sholihin dan Shahih Bukhori. Sedangkan untuk pelajaran nahwu, digunakan kitab Jurumiyah, Matan Bina dan Alfiyah.
    Selain kitab yang disebutkan di atas, masih banyak lagi kitab yang dipelajari, tergantung minat santri. Untuk kitab jenis ini, Kyai sendiri yang mengajar dengan metode sorogan dan wetonan. 
    Dalam mendidik santrinya, KH. Ihya dibantu dua tenaga pengajar pria dan tiga pengajat wanita, termasuk istrinya sendiri. Selain itu, masih ada empat tenaga pengajar ketrampilan, seluruhnya wanita, melatih antara lain berpidato, masak-memasak dan jahit menjahit.
    Kompleks Pesantren Miftahul Huda terletak di desa Lodoyong, Kecamatan Tempel, Kabupaten Slemanm kira-kira 10 km sebelah Utara Yogyakarta. Desa ini mudah dicapai dengan sedikit berjalan kaki dari kecamatan Tempel.

    Kontak
    Pesantren Miftahul Huda, Tempel, Sleman
    Alamat               : Desa Lodoyong, Kec. Tempel, Kab. Sleman
    Pendiri               : KH. Ihya Ulumuddin
    Pemimimpin       : K. Ihya Muhadzib
    Santri                 :130 santri, 90 puteri dan 40 putera (2007)
    HP                     : 08174118372


    Pesantren Assalafiyah terletak di desa Mlangi, Kelurahan Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Slemana, Yogyakarta. Dirintis sejak juni 1936 oleh Kyai Masduki yang lahir di Bantul tahun 1901 dan pernah menimba ilmu antara lain di pesantren Tremas, Pacitan. Pondok ini mencatat kemajuan berkat putra Kyai Masduki yang bernama Suja'i, alumni pesantren Krapyak, Lasem, dan Tegalrejo. Ia menerima kepemimpinan pesantren sesudah ayahnya mengundurkan diri karena usia lanjut. Selama mengasuh pesantren ini, Kyai Suja'i mengambil langkah pembenahan ke dalam, antara lain penertiban administrasi pesantren, mendirikan organisasi pesantren dengan sejumlah staf yang memiliki tugas masing-masing, serta pembenahan kurikulum. 
    Untuk tahun 1982/1983, santri yang belajar di sini berjumlah 150 orang, seluruhnya putera. Hanya lima orang diantara mereka yang tidak mukim. Sebagian dari mereka ada yang mengaji sambil bersekolah, atau sambil bekerja di pabrik tenun atau batik.

    Dalam sistem pengajarannya, mereka dibagi ke dalam tiga kelompok dengan kitab pegangan yang berlainan, kelompok Ibtidaiyah antara lain menggunakan kitab Jurumiyah, Aqidatul Awam, Hidayatu Shibyan, Washoya, Durratul Bahiyyah, dan Al-Qur'an. Tsanawiyah menggunakan kitab Imriti, Sharaf Amtsilah, Qawaidful I'rab, Taqrib, Aqidatul Islamiyah, Jawahirul Kalamiyah, dan Ta'lim Muta'alim. Aliyah awal mempelajari kitab Alfiyah (awal), Fathul Mu'in (Awal), Fathul Wahab (Awal), dan Durotun Nasihin. Sedangkan Aliyah Tsnai, Fathul Muin (Tsani), Alfiyah (Tsani), Ibnu Aqil Syarah Alfiyah, Shahih Bukhori, Mahalli, Tafsir Jalalain dan Ihya Ulumiddin.

    Di luar jam pengajian rutin, sebagian santri terlibat dalam beberapa kegiatan latihan ketrampilan. Antara lain pertanian, perikanan dan pertukangan yang meliputi jahit menjahit, merajut serta dekorasi. Untuk pertanian, pesantren telah memiliki sawah latihan seluas 360 m2. Sedang untuk perikanan digunakan dua buah kolam tempat membudidayaka  ikan gurame, tawes, dan ikan mas. 

    Secara keseluruhan komplek pesantren ini menempati areal seluas 1000 m2 dengan beberapa fasilitas fisik, antara lain sebuah mushola, kantor, rumah kyai yang merangkap perpustakaa, 4 buah ruang belajar, 1 buah asrama santri, sebuah ruang untuk praktek ketrampilan, warung, MCK, dan kolam pemandian umum.

    Perkembangan
    Bangunan fisik Assalafiyah masih belum sempurna, kamar-kamar yang masih minim dan belum adanya ruang kelas resmi yang digunakan sebagai tempat formal pengajian. Namun fasilitas standar untuk hidup dengan sehat dan baik cukup terpenuhi, dibuktikan dari adanya WC, tempat / kolam pemandian, rental komputer, tempat parkir dan ruang dapur bagi para pecinta masakannya sendiri, lapangan volley dan tennis meja, yang cukup memadai.

    Tahun 2009 adalah sejarah baru bagi Assalafiyyah, pembagunan gedung sebelah utara untuk santri putra telah dianggap cukup enak ditiduri, sehingga 5 kamar baru di tingkat dua siap dimanfaatkan. Tepat setelah akhiris sanah 1430 H, santri putra mengadakan boyongan kamar.  

    Kurikulum
    1. Jenjang pengajian dibagi tiga :
    a. Thobaqoh Ula (Pra Semester) : 3 tahun
    b. Thobaqoh Wustho (Semester) : 3 tahun
    c. Thobaqoh 'Ulya (Pasca Semester) : 3 tahun

    2. Santri dapat mengampil jenjang dan semester manapun setelah melalui test masuk dan atau Ujian Lompatan.

    3. Jenjang Pra Semester mengikuti sistem paket (semua mata pengajian adalah mata pengajian pokok), sehingga apabila ada satu mata pengajian yang tidak lulus, maka santri yang bersangkutan tidak dapat mengambil satupun mata pengajian program di atasnya.
    4. Pada jenjang Semester, santri dapat mengambil mata pengajian manapun yang telah dipenuhi syarat-syarat pengambilannya, setelah disetujui oleh Pembimbing Akademik.
    5. Pada jenjang Semester, mata pengajian Fiqih dan Alat merupakan mata pengajian pokok, selain itu adalah non-pokok
    6. Meskipun menganut SKS (Sistem Kredit Semester), pada jam-jam mengaji, santri tetap diwajibkan melakukan kegiatan ta'allum, baik formal (mengikuti pengajian di kelas) maupun personal dengan dibimbing Qori'in.
    7. Satu sks (satuan kredit semester, dengan huruf kecil) berarti dalam satu minggu belajar di kelas (tatap muka dengan guru) selama 3 jam dan di luar kelas 3 jam.
    8. Jenjang Pasca Semester hanya bisa diambil setelah semua mata pengajian pada jenjang Semester dinyatakan lulus.


    Program Tahfidzul Qur'an Pondok As-Salafiyyah

    Khusus pondok putri, juga diadakan program Tahfidzul Qur'an yang kedudukannya sama dengan Thobaqoh Ulya (Pasca Semester). Akan tetapi program ini bukan atau belum masuk program kerja Majelis Qoriin, masih dipegang dan dikendalikan oleh Ibu Nyai Dafinatul 'Ulum Al-Khafidzoh (Putri Bapak Kyai), yang juga alumni dari Pondok Pesantren Pandanaran Yogyakarta (Pengasuh Mbah KH. Mufid Mas'ud). Setiap dua tahun sekali diadakan acara wisuda tahfid bersamaan dengan acara pengajian akbar akhir tahun (biasanya dilakukan pada siang harinya). Hingga tahun 2009 sudah dilaksanakan wisuda tahfidz sebanyak 7 angkatan.

    Mata Pengajian dan Kitab Acuan Yang Digunakan

    Berikut adalah daftar mata pengajian dari tiga thobaqoh yang ada, beserta besar kredit semester dan kitab yang menjadi acuannya. Ini mulai diterapkan sejakSanatud Dirosah 1426-1427 H, setelah mengalami berbagai perbaikan sejak sistem SKS diterapkan pada 1995.


    Kontak
    Pondok Pesantren Assalafiyyah Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman 

    Pendiri            : KH. Masduqi
    Pemimpin        : KH. Suja'i Masduqi 
    Alamat            : Mlangi, Nogotirto, Gamping, Slema, Yogyakarta, 55292  
    Telepon           : (0274)7435330

    Pesantren Annur terletak di kampung Ngrukem, kelurahan Pendowharjo, kecamatan Sewon, Bantul, kira-kira 10 km dari jantung kota Yogyakarta. Lokasi ini dapat dicapai dengan kendaraan roda empat, kecuali 400 meter jalan masuk ke kompleks pesantren.

    Dirintis pada tahun 1964, pada mulanya pesantren ini hanya berbentuk pengajian yang diselenggarakan di rumah Kyai Nawawi Abdul Aziz, seorang alim kelahiran Kutoarjo tahun 1925. Di masa mudanya, ini pernah menuntut ilmu di beberapa pesantren, antara lain pesantren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Selam di Krapyak, Nawawi berhasil menghafal al-Qur'an yang kemudian diperdalam lagi selama tiga tahun di pesantren Yanbu'ul Qur'an Kudus, pimpinan Kyai Arwani. Di Krapyak itu pula Kyai Nawawi diambil menantu Kyai Munawwir, pengasuh pesantren.

    Selesai belajar di pesantren, Kyai Nawawi kembali ke Kutoarjo dan mendirikan madrasah. Tidak begitu lama ia kembali ke Krapyak sambil bekerja di Departemen Agama Bantul. Ia lalu bermukim di Ngrukem dan mengadakan pengajian di rumahnya, antara lain pengajian al-Qur'an (qiraat dan hafalan), pengajian kitab dan pengajian umum.

    Sejak dirintis tahun 1964 sampai tahun 1977, tempat pengajian masih menggunakan rumah Kyai Nawawi sendiri. Para santri yang ingin mondok, khususnya putera, ditempatkan di masjid Ngrukem, sedang yang puteri ditampung di rumah. Baru pada bulan April 1978 berhasil diresmikan pemakaian mushollah dan asrama putri.

    Tahun 1982/1982 selain mushola ukuran 7x7 m dan asrama puteri bertingkat satu ukuran 9 x 4.5 m, pesantren juga memiliki asrama putera yang dilengkapi dengan dua lokal kamar, serambi, dapur, kamar mandi dan kakus serta tempat wudlu. Di luar kompleks pesantren, masih ada satu bangunan yang digunakan untuk madrasah diniyah. Kompleks pesantren sendiri menempati tanah seluas 500 m2.

    Santri mukim yang belajar di sini berjumlah 101 orang, 67 putera dan 34 puteri, tahun 1986. Sebagian besar datang dari Yogyakarta dan Kutoarjo. Santri non mukim berjumlah 250 orang, terdiri dari 150 putera dan selebihnya puteri. Hampir separo dari santri mukim mengaji sambil sekolah diberbagai sekolah di luar pesantren. Di samping para santri tersebut, masih ada sejumlah 180 orang murid madrasah diniyah.

    Para santri selain belajar qiraat dan hafalan al-Qur'an, juga belajar mengaji berbagai kitab secara tradisional. Antara lain Fathul Qarib, Washoya, Ta'lim Mutaallim, Aqidatul Awam dan Khulasoh Nurul Yaqin. Para murid madrasah diniyah pun diberika pelajaran dari kitab-kitab.

    Untuk mengasuh santri, Kyai Nawawi dibantu oleh istrinya, di samping lima orang santri putera dan lima orang santri puteri yang sudah senior, mereka disebut badal kyai. Sedangkan madrasah ditangani oleh 15 orang tenaga pengajar yang seluruhnya swasta.

    Visi dan Misi Pesantren
    1. Mencetak generasi Huffadzul Qur’an yang mampu menjunjung tinggi warisan Nabi
    2. Membangun kemampuan santri yang berjiwa IMTAQ dan berwawasan IPTEK.
    3. Membangun santri yang berakhlaqul karimah, bertaqwa, bermental kuat dan bertanggungjawab
    Perkembangan Pesantren
    Dalam pengelolaannya, pondok pesantren An Nur yang merupakan salah satu pondok pesantren yang bernafaskan Nahdlotul ‘Ulama(NU) pada awal berdirinya adalah milik keluarga. Kemudian setelah mengalami perkembangan yang sangat pesat, maka berubah menjadi yayasan dengan dibentuknya Yayasan Al Ma’had An Nur yang langsung dipimpin juga oleh Bapak KH. Nawawi Abdul Aziz.

    Sebagai sebuah lembaga yang telah memiliki banyak santri, pesantren ini juga melengkapi dirinya dengan beberapa lembaga yang bernaung dibawah Yayasan Al Ma’had An Nur, antara lain TPQ An Nur, Madrasah Tsanawiah, Madrasah ‘Aliyah Umum dan Keagamaan Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an dan Madrasah Diniyah Al Furqon.
    Yayasan Al Ma’had An Nur memiliki 151 tenaga ustadz dan dosen, dengan perincian khusus mengajar di pondok, 29 ustadz dan ustadzah madrash diniyah, 38 ustad dan astadzah yang mengajar di Madrasah formal, 15 ustadz dan ustadzah TPQ serta 45 orang dosen yang mengajar di STIQ. Dari jumlah tersebut, hanya 45 ustad dan ustadzah yang bermukim di pondok pesantren An Nur tanpa adanya honor dari pondok atau pemerintah.

    Sedangkan santrinya berjumlah sekitar 73 santri yang datang dari berbagai penjuru Indonesia mulai dari pulau Sumatra, Sulawesi, Bali, dan NTB. Adapun santri yang bermikim di Pondok Pesantren An Nur sekarang berjumlah sekitar 635 orang santri dan selebihnya adalah santri non mukim atau dikenal dengan sebutan santri kalong.

    Pondok Pesantren An Nur Ngrukem telah mampu menelorkan banyak alumni yang berkualitas yang tersebar dimana-mana. Ada yang mendirikan pondok pesantren sendiri, ada juga yang ikut berkiprah dalam kancah perpolotikan Indonesia. Disamping itu, Pondok Pesantren An Nur telah mampu mencetak sebanyak 303 orang hafidz dan hafidzoh.

    Model Pendidikan

    Dalam perjalannanya, pondok pesantren An Nur memiliki beberapa model pendidikan tergantung pada masing-masing lembaga yang ada di pondok pesantren ini, yaiu:

    a. Marhalah Bi an-nadazri

    Tingkatan ini diperuntukan bagi santri-santri yang tidak menghafal Al Qur’an, dengan penekanan pada pematangan tajwid tartil dan juga makhorijul huruf dan pendalaman kitab-kitab kuning. Setiap harinya para santri yang tidak menghafal Al Qur’an, menyetorkan bacaan Al Qur’an secara nadzri kepada para khotim bil hifdzi yang masih bermukim di pondok pesantren.

    b. Mahalah Tahfidz

    Kelompok ini khusus bagi santri yang berminat menghafalkan Al Qur’an 30 juz, dimana saat ini tidak kurang dari 600 santri putra dan putrid yang belajar untuk menghfalkan Al Qur’an di pesantren ini. Dalam proses penghafalan para santri diasuh langsung oleh KH. Nawawi Abdul Aziz dengan metode bimbingan tahfidz. Disamping itu untuk mengetahui sejauh mana tingkat penguasaan hafalan para santri, maka setiap 6 bulan sekali diadakan Tes Peringkat Tahfidzul Qur’an dan Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ).

    c. Marhalah Qiro’ah Sab’ah

    Marhalah ini diperuntukan bagi para khotimin-khotimat (yang telah hafal Al Qur’an) yaitu mempelajari berbagai bentuk bacaan qiro’ah tujuh, sebagai program lanjutan bagi para santri telah hafal Al Qur’an, marhalah ini ini ditangani langsung pengasuh (KH. Nawawi Abdul Aziz). Madzhab yang dipakai dalam Qiro’ah As Sab’ah adalah madzhab hizril amani yang beliau terima dari Syaikh KH. Arwani Amin Kudus.

    d. Madrasah Diniyah

    Secara garis besar, Madrasah Diniyah terbagi menjadi menjadi dua cabang yaitu, Madrasah Diniyah yang diperuntukan bagi santri-santri Tahfidz (yang menghafal Al Qur’an) dan bagi santri-santri yang non-tahfidz. Tingkatan kelas Madrasah Diniyah ini pada dasarnya sama seperti Madrasah Diniyah pada umumnya yaitu tingkat ‘Ula dengan jenjang waktu 4 tahun, Wustho selama 2 tahun dan ‘Ulya dengan masa pendidikan selama 2 tahun.

    e. Madrasah Formal

    Pondok Pesantren An Nur telah memiliki Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Dengan fasilitas seadanya, para pengelola madrsah tetap berjuang dalam proses untuk mencapai tujuan dasar Pondok Pesantren An Nur. Dengan izin Allah SWT, Madrasah yang kami miliki mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan diluar dan dalam kurun waktu 6 tahun, Madrash ini mampu mengantongi nilai tertinggi se Yogyakrta sebanyak tiga kali pada Ujian Akhir nasional dan semua siswanya lulus dengan nilai yang lumayan.

    f. Sekolah Tinggi

    Pondok Pesantren An Nur juga mampu mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an (STIQ) yang resmi dibuka pada tahun 2002 oleh menteri agama RI. Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an membuka 2 prodi: Tafsir Hadist (Ushuluddin) dan PAI (Tarbiyah). Kemudian tahun 004 dibuka program Ekstnsi dan program Diploma (DI dan D2).
    Program Pengembangan
    a. Mulai tahun 2004, pondok pesatren membangun mushollaa putrid berlantai tiga dan baru selesai 85%. Untuk itu, tahun 2006 ini telah direncanakan penyelesain kekurangan tersebut. Selain itu, pondok pesantren akan membangun gedung berlantai tiga yang terdiri dari kamar mandi, wc, tempat tidur serta ruang belajar bagi santri putra.

    b. Adanya STIQ An Nur, diimana 70% mahasiswanya adalah para Hafidz (hafal Al Qur’an dan sedang menghafalkannya), yang saat ini baru membuka 2 prodi sehingga selain memaksimalkan prodi yang sudah ada juga perlu dibuka prodi yang lain yang jauh lebih bisa menjawab tantangan kemajuan zaman.

    c. Program bidang ekonomi yaitu dengan meningkatkan yang dikelola Pondok Pesantren: mini market, jasa telekomunikasi, rental computer.
    Program Unggulan
    Secara garis besar, Pondok Pesantren An Nur memiliki program-program unggulan dalam bidang ilmu pengetahuan, bakat dan seni serta keterampilan. Adapun program-progam unggulan di bidang Pendidikan Diniyah yang dimiliki oleh Pondok Pesantren An Nur, antara lain :
    1. Tahfidzul Qur’an ( Program utama dengan target 3 tahun hatam dengan hasil yang baik )
    2. Qiro’ah As Sab’ah ( memakai madzhab Hirzil Amani )
    3. Fiqh dan Ushul Fiqh
    4. Ilmu alat
    5. Akhlaq
    Sedangkan yang bergerak dibidang seni yaitu :
    1. Seni membaca Al Qur’an (Qiro'ah)
    2. Seni Hadroh  bagi santri putra 
    3. Qosidah Modern bagi santri putri
    4. Seni Kaligrafi
    Dalam 3 hal yang tersebut di atas, Pondok Pesantren An Nur Ngrukem Bantul Yogyakarta telah memiliki nama yang cukup terkenal dalam event-event baik di tingkat Propinsi maupun Nasional, bahkan telah dua kali mengikuti event Internasional di bidang Tahfidzul Qur’an dan Tafsir.

    Kontak
    Pondok Pesantren An Nur, Ngrukem, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
    Pendiri                   : KH. Nawawi Abdul Aziz
    Pemimpin               : KH. Nawawi Abdul Aziz
    Santri Mukim         : 225 Laki-laki dan 220 Perempuan (2006-2007)
    Alamat                   : Ngrukem, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
    Phone                    : 0274-6994262, 6994263
    Fax                        : 0274-6469019
    Website                  : www.pondok-ngrukem.net
    Motivasi untuk mendirikan pesantren ini sebenarnya muncul ketika pendirinya, Kyai Chasan Tholabi, melihat kenyataan banyak anggota masyarakat Kulonprogo khususnya generasi muda Islam, yang belum menguasai bacaan al-Qur’an. Hal ini bahkan dijumpainya juga di kalangan pelajar sekolah agama baik negeri maupun swasta.
    Berbekal ilmu yang ditimbanya dari Pesantren al-Qur’an Bustanul Qur’an wal Qiraah, Krapyak, Yogyakarta, selama 7 tahun; Pesantren Bustanu ‘Usyaqil Qur’an, Demak selama 3 tahun dam dari pesantren Watu Congol, Muntilan, selama setahun; Kyai Hasan (1970) mendirikan pesantren ini di sebuah desa yang terletak sekitar 30 km dari Yogyakarta. Kyai Hasan sendiri kelahiran Magelang tahun 1923.
    Melihat usia pesantren yang masih relative muda dan sejak awal diarahkan untuk memberi pengajaran kepada masyarakata setempat, wajarlah kalau sebagian besar santri di ‘pesawat’ (istilah santri untuk menyingkat Pesantren Wates) ini adalah non mukim. Di samping belajar qiraat dan menghafal al-Qur’an, para santri juga belajar ilmu Fiqh, Akhlak, Tarikh, dan tasawuf dengan menggunaka system wetonan, balaghah, dan bandongan.
    Meskipun tetap mengikuti tradisi pesantren, ‘Pesawat’ ini tidak urung mendapat sentuhan ‘pembaharuan’ karena dengan seringnya mengirim santri untuk mengikuti kursus dan latihan antara lain kursus pertukangan, perpustakaan, latihan perbengkelan, pendidikan dan latihan Kependudukan dan Keluarga Berencana, latihan usaha, Latihan Tenaga Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (LTP2M) dan lain-lain.
    Pesantren sendiri menyelenggarakan berbagai latihan ketrampilan bagi santri dan masyarakat sekitar, antara lain kerajinan anyam-anyaman, latihan perbengkelan dan kursus menjahit. Sebagai kelanjutan kursus dan latihan tersebut, dewasa ini ‘Pesawat’ telah memiliki unit perbengkelan dan koperasi yang bergerak di bidang Industri kecil.
    Dengan ‘Pesawat’ ini, Kyai Hasan Tholabi mengarap agar lahir kader-kader ulama yang ahli dalam al-Qur’an dan cakap dalam membina masyarakat. Maka, satu sarannya, pesantren harus berani membuka diri menerima nilai-nilai baru, selama bermanfaat.

    Kontak Pesantren
    Pendiri                        : Kyai Chasan Tholabi
    Pemimpin                   : KH Ahmad Su’adi
    Santri Mukim            : 10 (Laki-laki) dan 10 (Perempuan)
    Alamat                       : Kedungpring – Giripeni, Kecamatan Wates, Kulon Progo
    Telpon                       : 0271-773814

    Pesantren al-Huda dirintis dan diasuh oleh Kyai Muchtar sejak tahun 1958, putra Kyai Dawami, seorang alim yang memimpin pesantren al-Miftah. Pada awalnya, Muchtar membantu ayahnya di Pesantren itu. Sesudah menikah, ia kemudian pindah ke tempat tinggal istrinya, di Mlangi juga, di sini ia mendirikan Pesantren al-Huda. Santrinya sebagian santri al-Miftah yang pernah ia didik sebelumnya.
    Kompleks pesantren menempati tanah wakaf seluas 1300 m2. Bangunan yang terdapat di sini terdiri dari sebuah masjid, 8 lokal asrama santri putra, empat local asrama santri putrid, rumah Kyai yang sebagian digunakan tempat mengaji dan beberapa bangunan lain untuk keperluan MCK. Semua bangunan ini merupakan bangunan lama yang didirikan sejak 1958 dan belum pernah mengalami pemugaran.
    Pada tahun 1982/1983, santri mukim di pesantren ini berjumlah 70 orang, 50 putra dan 20 putri. Mereka umumnya datang dari beberapa kota di Jawa Tengah, DIY, sedikit dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Juga ada santri non mukim yang berasal dari penduduk sekitar pesantren.
    Pesantren ini pernah mengalami kekosongan santri pada masa G30 S/PKI di tahun 1965. Hal ini karena para santri ikut aktif menumpas PKI di daerahnya masing-masing. Baru pada tahun 1966, sesudah situasi normal kembali, para santri mulai berdatangan lagi.
    Semua santri di sini belajar kitab secara tradisionalyang dibagi ke dalam tiga kelompok dengan kitab pegangan yang berbeda-beda. Untuk kelompok I, kitab yang digunakan adalah jurumiyyah, Safinah, dan Jawahidur Kalamiyyah. Untuk kelompok II digunakan kitab Imriti, Taqrib, dan Tafsir Yasin, ditambah dengan tasrifan (dalam ilmu Saraf). Sedangkan kelompok III, kitab yang digunakan adalah Alfiyah, Yaqulu, Fathul Wahab, dan Tafsir Jalalain.

    P3M, Jakarta --Madrasah Islamiyah Petunduhan Palmerah, Jakarta Selatan, yang dibangun tahun 1940, dibongkar tahun 1950. Karena yang ditempati akan digunakan untuk perluasan kompleks olah raga Senayan, dalam rangka Asian Games. Sebagai gantinya pihak madrasah membeli seluas 5 ha di Ulujami. Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam pada tahun 1974 mendirikan pesantren Darrunnajah.
    Perintis pesantren ini adalah Drs. H. Machrus Amin, pernah mondok di Gontor, Ponorogo dan kemudian menamatkan studi di IAIN Jakarta. Pada awalnya Kyai Mahrus Amin hanya mengembangkan system madras, terdiri dari SD, Tsanawiyah, dan Aliyah. Baru Kemudian diselenggarakan pengajian kitab secara wetonan bandungan. Pelajaran madrasah disesuaikan dengan kurikulum negeri; ditambah dengan beberapa kitab, antara lain Bulughul Murom, Subulus Salam, Ajurumiyyah, dan Bidayatul Mujtahid. Sedangkan dalam pengajian setiap sore memakai Fathul Qarib dan Tafsir Jalalain.
    Di tahun ajaran 1984, santri/murid seluruhnya berjumlah 880 orang, 324 putra dan 538 putri, dengan santri mukim 753 orang. Mereka berasal dari berbagai daerah di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Untuk menampung santri mukim, pesantren menyediakan 58 buah kamar pemondokan, sedangkan untuk kegiata belajar tersedia 33 buah lokal. Pesantren juga memiliki sarana olah raga terdiri dari lapangan untuk volley, basket, badminton, dan sepakbola. Perpustakaannya memiliki 1000 judul buku, 700 judul diantaranya buku agama.
    Untuk mengisi waktu luang santri, pesantren menyelenggarakan berbagai latihan menjahit, keputrian, kepemimpinan dan mengetik. Sejumlah santri pernah mengikuti beberapa latihan manajemen, kesenian, unit usaha, pengembangan pesantren dan masyarakat dan latihan perpustakaan. Sebagai pengabdian kepada masyarakat pesantren ini telah mempelopori didirikanya Usaha Bersama pengrajin peci, anggotanya berjumlah 60 orang terdiri dari para pengrajin di sekitar pesantren, dengan modal awal sebesar Rp 4 juta.
    Pada tahun 1983, pesantren ini mendapat penghargaan dalam lingkungan hidup se-DKI Jakarta, sebagai penyelamat lingkungan. Tahun berikutnya, masjid pesantren dinilai sebagai masjid paling bersih. Terletak di desa Ulujami, Kecamatan Kebayoran Lama, lokasi ini hanya berjarak 20 km sebelah Selatan pusat kota metropolitan Jakarta. Berbagai kendaraan umum, khususnya taksi, dapat menjangkau lokasi dengan mudah.  
    Pada awalnya, Kyai Tahir Rohily yang lama bermukim di Makkah, mendirikan beberapa kamar untuk menampung para pelajar sekolah. Kamar-kamar penampungan yang kemudian ditingkatkan menjadi asrama putra-putri itu terletak bersebelahan dengan masjid tempat kyai Tahir menyelenggarakan majelis taklim.
    Kyai Tahir bersama Drs. HM Syatiri Ahmad menantunya adn Dra. Hj. Suryani Tahir puterinya, berusaha agar para pelajar yang menempati asrama, memperoleh pendidikan agama. Maka kemudian diselenggarakan pengajian kitab secara sorogan. Dalam perkembangan selanjutnya, Kyai Syatiri mencoba mengembangkan sistrem madrasah yang kemudian menjelma menjadi Madrasah Tsanawiyah, Aliyah, dan Universitas Attahiriyyah. Sesudah itu menyusul Madrasah Ibtidaiyah. Majelis taklim yang sudah ada tetap dipertahankan dan dikembangkan hingga menjadi salah satu majelis taklim terkenal di Jakarta. Melalui majelis taklim ini, pengajian kitab terbuka bukan hanya bagi pelajar, tetapi juga untuk umum. 
    Untuk tahun ajaran 1984, jumlah santri mukim di pesantren secara resmi mencapai 168 orang, terdiri dari 15 putera dan 93 putri. Mereka ini umumnya berasal dari daerah sekitar Jakarta, atau kabupaten lain di Jawa Barat, dan merupakan sebagian dari siswa madrasah atau mahasiswa universitas yang ada di lingkungan pesantren. Untuk menampung santri mukim, pesantren menyediakan 12 buah kamar pemondokan. Sedang untuk kegiatan belajar, tersedia 6 buah lokal. Sarana lain yang tersedia bagi santri adalah perpustakaan, lapangan olah raga dan pemancar radio. Karena lahan cukup sempit, yaitu 0,25 ha, pesantren ini mengembangkan sarana fisiknya di tempat lan, dan pengelolanya pun terpisah.
    Sistem pengajaran di pesantren ini merupakan gabungan antara sistem sekolah / klasikal dengan sistem pengajian tradisional. Meskipun demikian, dalam sistem sekolah yang mengikuti kurikulum negeri, pelajaran kitab tetap diberikan. Antara lain, Fathul Qarib, Minhajul Qawim, Jauhar Maknun, Alfiyah, Tafsir Jalalain, Muchtarul Ahadits, dan Tangihul Qaul. Kitab-kitab itu pula yang kemudian diberikan dalam pengajian yang diadakan pagi dan sore.
    Berbagai kegiatan di luar jam belajar banyak diikuti para santri. Antara lain latihan keputrian dan kesenian khusus putri, menyelenggarakan perlombaan cerdas cermat untuk umum, lomba memasak, busana muslim, dan MTQ. Team kasidah pesantren ini pernah meraih juara dalam lomba kasidah se-DKI Jakarta. Beberapa orang santri pernah pula dikirim mewakili pesantren dalam berbagai latihan ketrampilan. Antara lain latihan manajemen, perpustakaan, kependudukan, dan penataran juru dakwah. [Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat]